Ketua Umum Apindo: RAPBN 2017 Lebih Realistis

Ketua Umum Apindo: RAPBN 2017 Lebih Realistis

Kamis, 18 Agt 2016 | 08:54 | Rusmanto
WinNetNews.com - Pelaku usaha menyambut baik Rencana Anggaran dan Belanja Negara (RAPBN) 2017 yang dibacakan Presiden Joko Widodo dalam pidato nota keuangan di Gedung MPR/DPR, Selasa (16/8).

Menurut pelaku usaha, target penerimaan pajak pemerintah sangat realistis dan menggairahkan pelaku usaha untuk semakin mantap menanamkan modal di Indonesia.

"Kami sebagai pelaku usaha merasa realistis dengan target penerimaan pajak lebih rendah daripada sebelumnya. Jangan sampai penerimaan ini nantinya masih tidak sesuai dengan kondisi lapangan. Mudah-mudahan upaya penerimaan itu tidak akan membuat sektor perekonomian jadi bermasalah," kata Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia Hariyadi B Sukamdani kemarin.

Namun, kata Hariyadi, RAPBN 2017 juga menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah mengingat pada APBN Perubahan 2016, target penerimaan pajak Rp1.536 triliun tidak tercapai.

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Rosan Roeslani juga melihat RAPBN 2017 lebih realistis dengan kondisi perekonomian dunia dan dalam negeri yang saat ini sedang melemah.

 

Penerimaan pajak di RAPBN 2017 dinilai Rosan sangat realistis dengan kondisi sektor riil ketika harga komoditas masih tertekan sehingga penerimaan pajak pun rendah.

Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance Enny Sri Hartati berpendapat serupa. Enny mengatakan RAPBN 2017 juga menstimulasi belanja ekonomi.

Sehari sebelum peringatan HUT RI, Presiden mengumumkan RAPBN 2017. Terkait dengan kondisi ekonomi yang diprediksi belum sepenuhnya pulih, pemerintah menetapkan target konservatif dalam pertumbuhan ekonomi tahun depan 5,3 persen.

Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro mengungkapkan salah satu pendorong utama untuk mencapai target pertumbuhan itu ialah dari investasi dalam dan luar negeri. Menurutnya, tahun depan peranan investasi menjadi kunci tercapainya target pertumbuhan.

Menkeu Sri Mulyani menjelaskan, RAPBN 2017 akan lebih ramping dan efektif sebab dirancang untuk memberikan daya dorong pada perekonomian secara terarah, dengan defisit sebesar 2,41 persen terhadap produk domestik bruto (PDB), atau Rp332,8 triliun.

 

Defisit itu akan ditutup dengan sumber pembiayaan yang dilakukan secara hati-hati dan menjaga rasio utang dalam batas aman. Dari aspek pendapatan, pemerintah menargetkan penerimaan pajak Rp1.495,9 triliun, turun dari target APBN-P 2016, yakni Rp1.539,2 triliun.

Dari komponen belanja, yang mengalami penurunan ialah belanja hibah, belanja utang luar negeri, belanja subsidi, dan belanja nonkementerian/lembaga.

Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo mengatakan target itu sangat realistis untuk dicapai dengan kondisi ekonomi Indonesia yang terus membaik. BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi 2017 berada di kisaran 5,2 persen hingga 5,6 persen.

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...