Ketua Umum PB IDI: Penerapan Social Distancing Harus dengan Pengawasan Ketat
Foto: Detik.com

Ketua Umum PB IDI: Penerapan Social Distancing Harus dengan Pengawasan Ketat

Kamis, 26 Mar 2020 | 12:01 | Anggara Putra Utama

Winnetnews.com - Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) Daeng M Faqih menganjurkan, kebijakan social distancing yang diambil pemerintah untuk menekan angka penyebaran virus corona untuk tidak hanya menjadi sebatas imbauan.

Menurutnya, pemerintah perlu ketegasan dalam menerapkan hal ini, TNI-Polri serta aparat pemerintahan, mulai dari tingkat provinsi hingga level yang paling bawah, yakni RT/RW, untuk mengawasi dan membubarkan setiap kegiatan kerumunan warga.

"Kita kan tidak ambil lockdown, tapi social distancing, karantina, itu sebaiknya tidak hanya berupa imbauan. Tapi, ada yang mengawasi, ada yang memantau. Siapa yang memantau? Tidak bisa semuanya diserahkan ke petugas kesehatan," kata Daeng dikutip dari Kompas.com.

Ia kemudian juga mengungkapkan dapat melakukan penerapan denda kepada masyarakat yang tetap nekat berkumpul untuk memberikan efek jera. Menurut Daeng, ada kebiasaan masyarakat untuk mencuri kesempatan untuk keluar rumah karena minimnya pengawasan.

Oleh karenanya, ia menegaskan, kebijakan social distancing harus diikuti dengan upaya pengawasan yang ketat.

Aparat keamanan mulai dari Babinsa dan Babinkamtibmas serta perangkat RT/RW, untuk sementara waktu harus dengan tegas membubarkan warga yang kedapatan berkumpul.

"Karena kalau diimbau saja, diarahkan ke kesadaran masyarakat, itu tingkat keberhasilannya rendah. Apalagi kalau masyarakat belum merasa sakit, dia keluar saja dari rumah karena tidak merasa sakit. Padahal, dia bisa menjadi sumber penularan," jelas Daeng.

Ia pun mengingatkan, jika kebijakan ini tidak diterapkan dengan baik, tidak menutup kemungkinan tingkat penyebaran virus corona akan semakin tinggi.

"Kalau ini tidak ditekan, itu kasus berbondong-bondong ke rumah sakit. Rumah sakit kita terbatas kapasitasnya, tenaganya, ruanganya, alatnya, obatnya kan terbatas. Kalau itu berlimpah, tidak dibendung sumbernya itu, berat di rumah sakit," ujar dia.

Hingga berita ini diterbitkan, jumlah kasus  positif Covid-19 di Indonesia telah mencapai 790 kasus, dengan di antaranya sebanyak 31 pasien dinyatakan sembuh dan 58 orang meninggal dunia.

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...