Kiai Sepuh Pesantren Tebuireng KH Mahmad Baidhowi Meninggal Dunia
sumber foto : istimewa

Kiai Sepuh Pesantren Tebuireng KH Mahmad Baidhowi Meninggal Dunia

Senin, 22 Mei 2017 | 23:15 | Oky

Winnetnews.com - Berita duka menyelimuti keluarga besar Pesantren Tebuireng. Salah satu kiai sepuhnya, KH Mahmad Baidhawi meninggal dunia pada Senin (22/05/2017) pukul 05.30 WIB di kediamannya, Pondok Pesantren Madrasatul Quran Tebuireng.

Mbah Mad, panggilan akrabnya, dikenal sebagai kiai yang istikamah mengimami salat Maghrib berjamaah di Masjid Pesantren Tebuireng.

Menurut keterangan petugas keamanan Pesantren Madrasatul Quran Tebuireng, penyebab wafatnya Mbah Mad tidak diketahui, karena sebelumnya beliau sehat-sehat saja. "Tidak apa-apa. Sehabis salat subuh, gelendangan (tidur-tiduran) terus meninggal," ungkap dia seperti dilansir Tebuireng Online.

Jenazah Mbah Mad dimakamkan di kompleks Maqbarah Masyayikh Pesantren Tebuireng pada pukul 14.00 WIB.

Turut bertakziyah ke rumah duka, Pengasuh Pesantren Tebuireng, KH Salahuddin Wahid beserta Ibu Nyai Faridah Salahuddin, Pengasuh Pesantren MQ KH Abdul Hadi Yusuf, Pengasuh Pesantren Walisongo KH Jamiluddin, dan beberapa dzuriyah Pesantren Tebuireng, seperti KH Abdul Hakam Kholiq, KH Agus M Zaki Hadziq, KH Agus Fahmi Amrullah Hadziq, dan lainnya.

Menurut penuturan sepupu Almarhum, KH Agus M Zaki Hadzik atau yang biasa dipanggil Gus Zaki mengatakan, usia Almarhum mencapai sekitar 77 tahunan (versi putra Almarhum, usia beliau 78 tahun). Gus Zaki juga memberikan kesaksian bahwa Mbah Mad adalah sosok yang baik dan memegang teguh aturan dan prinsip.

KH Mahmad Baidhowi adalah putra KH Ahmad Baidhawi Asro, Pengasuh Pesantren Tebuireng ke-4 pada tahun 1951-1952, dan Bu Nyai Aisyah binti KH M Hasyim Asy'ari. Beliau adalah anak ke-5 dari 6 bersaudara, adik dari KH Muhammad Baidhowi, KH A Hamid Baidhowi, Nyai Hj Ruqoiyyah Baidhowi (istri KH M Yusuf Masyhar, Pendiri PP Madrasatul Quran), dan KH Mahmud Baidhawi. Beliau mempunyai satu adik, yaitu KH Kholid Baidhowi.

Mbah Mad dikenal sebagai sosok yang istikamah. Terbukti salah satu dewan pengawas Pesantren Tebuireng itu, jarang sekali absen sebagai imam salat magrib di Masjid Tebuireng.

Salah satu warisan amalan beliau di Masjid Tebuireng adalah tradisi pembacaan Shalawat Burdah setelah wirid berjamaah shalat lima waktu untuk menjaga Tebuireng dan mendoakan keamanan dan kedamaian Indonesia.

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...