Kinerja Industri Nasional Masih Harus Digenjot

Kinerja Industri Nasional Masih Harus Digenjot

Kamis, 28 Jan 2016 | 17:40 | Muhammad Takdir
WinNetNews.com - Kementerian Perindustrian mengungkapkan target pertumbuhan industri tak tercapai pada tahun lalu dan berpengaruh negatif terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

"Target (pertumbuhan industri 2015) awalnya 5,7 persen, bahkan sebelumnya di atas 6 persen, tapi kemarin realisasinya cuma sekitar 5,2 persen. Tapi masih di atas pertumbuhan ekonomi yang 4,7 persen," ujar Haris Munandar, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kementerian Perindustrian kepada CNN Indonesia, Selasa (26/1)

Menurutnya, banyak faktor yang memengaruhi kinerja industri nasional, baik dari dalam maupun luar negeri. Dari dalam negeri, kombinasi antara penyerapan anggaran belanja pemerintah yang rendah serta lesunya daya beli masyarakat turut menekan kinerja industri.

Sementara dari eksternal, Haris menyebut anjloknya harga komoditas, ketidakpastian pasar uang global, serta perlambatan ekonomi negara mitra dagang utama Indonesia menjadi penyebabnya.

 

"Hampir semua sektor industri melambat, terutama indutsri-industri yang berbasis komoditas. industri baja, otomotif juga jatuh. Paling industri makanan dan minuman yang masih bertahan," tuturnya.

Kementerian Perindustrian mencatat pertumbuhan industri non migas Indonesia hanya tumbuh 5,24 persen pada kuartal I hingga kuartal III 2015, turun dibandingkan dengan pertumbuhan periode yang sama tahun sebelumnya 5,61 persen.

Sub sektor manufaktur yang paling tertekan adalah industri tekstil dan pakaian jadi yang pertumbuhannya minus 4,77 persen. Lalu diikuti oleh industri kayu dan barang dari kayu yang terkoreksi 1,54 persen, dan industri kertas dan barang dari kertas minus 1,1 persen.

Dari sisi tenaga kerja, terjadi penurunan jumlah pekerja pabrik di sektor manufaktur pada tahun lalu. Kemenperin mencatat terdapat 15,25 juta tenaga kerja di sektor manufaktur per Agustus 2015 atau 13,28 persen dari total tenaga kerja nasional. Angka tersebut anjlok 1,13 juta orang dibandingkan posisi Maret 2015 yang mencapai 16,38 juta tenaga kerja.

Tahun ini, Haris menilai ketidakpastian ekonomi global masih menghantui. Namun, dia optimistis kondisinya akan sedikiut lebih baik dibandingkan tahun lalu jik amengacu pda outlook positif ekonomi nasional.

"Tapi harga minyak yang anjlok akan menurunkan permintaan dari negara-negara produsen minyak. Ekonomi mereka akan mengetat dan pendapatan masayarakatnya turun, jadi ekspor manufaktur kita juga masih akan sulit," katanya.

"Sementara China melambat, sedangkan AS akan menaikan lagi suku bunga, jadi masih penuh ketidakpastian," ujarnya.

(seperti dilansir dari CNN Indonesia)

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...