Kisah 70 Tahun Silam, Nama Batavia Berubah Jadi Jakarta
Musem Fatahillah menjadi saksi bisu sejarah Batavia yang berubah nama menjadi Jakarta. [Foto: Grid.id]

Kisah 70 Tahun Silam, Nama Batavia Berubah Jadi Jakarta

Senin, 30 Des 2019 | 16:10 | Khalied Malvino

Winnetnews.com - Batavia, tepat 70 tahun lalu, 30 Desember 1949 nama itu berganti menjadi Jakarta. Sosok di balik pergantian nama tersebut ialah Menteri Penerangan Republik Indonesia Serikat (RIS) Arnoldus Isaac Zacharias Mononutu.

Sejak saat itu, Jakarta menjadi nama Ibu Kota Republik indonesia. Melansir laman Indonesia.go.id, sepanjang sejarahnya, Jakarta mengalami beberapa kali perubahan nama. Sebelum berada di bawah kekuasaan Kerajaan Galuh-Pakuan pada abad ke-12, nama kota ini adalah 'Sunda Kelapa'.

Melansir Kompas.com, konon keberadaannya telah ada sejak abad ke-5, yaitu saat berada di bawah Kerajaan Tarumanegara. Namun, berdasarkan penemuan prasasti peninggalan Kerajaan Tarumanegara, tidak ada yang berada di kawasan Jakarta sekarang.

Berdasarkan salah satu prasasti yang ditemukan, yaitu Prasasti Kebon Kopi, nama Sunda Kelapa diperkirakan baru muncul sekitar awal abad 10. Kemudian, sejak pelabuhan Sunda Kelapa dikuasai Fatahillah pada tahun 1527, namanya diubah menjadi 'Jayakarta'.

Orang-orang barat yang singgah di tempat ini menyebutnya sebagai 'Jacatra'. Hingga tahun 1619, orang Belanda masih menyebutnya dengan nama tersebut. Namun, sejak kedatangan Jan Pieterszoon Coon bersama 1.000 pasukannya untuk menghancurkan Jayakarta pada tahun 1619, terjadi perubahan nama kembali.

Melalui kesepakatan De Heeren Zeventien (dewan 17) dari Vereenigde Oost Indische Compagnie (VOC), nama Jayakarta diubah menjadi Batavia pada 4 Maret 1621. Nama ini berasal dari nama etnis Jermanik yang bermukim di tepi Sungai Rhein dan dianggap sebagai nenek moyang bangsa Belanda dan Jerman, 'Bataf'.

Pada perkembangan selanjutnya, banyak penduduk asli setempat yang justru menyebut dengan nama 'Betawi'. Berdasarkan catatan sejarah, nama Batavia adalah yang paling lama digunakan, yaitu selama tiga abad lebih.

Penyebutan ini tercatat dimulai pada 1619 (atau sumber lain menyebutkan tahun 1621) hingga tahun 1942. Kemudian, pada 1942, nama Batavia berubah menjadi Djakarta sebagai akronim dari Djajakarta.

Menurut Lasmijah Hardi dalam ‘Jakartaku, Jakartamu, Jakarta Kita’ (1987), pergantian nama itu bertepatan dengan perayaan Hari Perang Asia Timur Raya pada 8 Desember 1942. Nama lengkap kota itu ialah ‘Jakarta Tokubetsu Shi’.

Setelah Jepang kalah, nama Jakarta tetap lazim digunakan orang Indonesia. Penegasan tidak adanya lagi sebutan Batavia dilakukan oleh Menteri Penerangan RIS Arnoldus Isaac Zacharias Monotutu pada 30 Desember 1945.

Sejak saat itu, nama Ibu Kota Republik Indonesia adalah Jakarta. Nama tersebut kemudian dikukuhkan kembali pada 22 Juni 1956 oleh Wali Kota Jakarta Sudiro. Saat itu, posisi Jakarta masih menjadi bagian dari Provinsi Jawa Barat. [kompas]

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...