Kisah Maroef Sjamsoeddin Saat Ditawari Jim Bob

Kisah Maroef Sjamsoeddin Saat Ditawari Jim Bob

Selasa, 19 Jan 2016 | 11:19 | Rusmanto
WinNetNews.com - Kemarin secara mengejutkan, Maroef Sjamsoeddin mengundurkan diri dari posisinya sebagai Presiden Direktur PT Freeport Indonesia (PTFI). Tepat setahun Maroef menduduki jabatan tersebut, dan tidak mau memperpanjang kontraknya.

Pada 22 Januari 2015 silam, detikFinance berkesempatan bertemu dengan Maroef saat dia baru saja dipilih. Mantan Wakil Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) ini ditunjuk menggantikan Rozik B. Soetjipto.

Maroef, yang juga Purnawirawan Marsekal Muda TNI Angkatan Udara Republik Indonesia menyampaikan, dirinya tidak pernah bermimpi memimpin perusahaan tambang sekelas Freeport, dengan tambang besar di Grasberg, Papua. Dia tidak pernah melamar, karena memang bukan ahli tambang atau akuntan.

Tawaran Maroef menjadi Presdir Freeport disampaikan langsung oleh Komisaris Utama Freeport-McMoRan Copper & Gold Inc saat itu, Robert (Jim Bob) Moffett. Awalnya Maroef tidak langsung menerima tawaran Jim Bob.

"Saya bilang ke Pak Jim, saya tidak punya background. Saya bukan orang tambang. Sementara ini (Freeport) tambang besar. Jim bilang 'Saya tidak peduli, saya butuh kamu'," kata Maroef kala itu.

Maroef meminta waktu untuk mempelajari penawaran tersebut. Maroef tidak hanya mempelajari segi bisnis Freeport tapi juga manfaatnya bagi Indonesia dan dunia.

"Saya berpikir ternyata Freeport yang sudah 40 tahun di Indonesia punya komitmen berkelanjutan. Saya juga lihat personalisasi Pak Jim Bob. Dia sangat akrab dan dekat dengan masyarakat setempat, bahkan mungkin lebih tahu dan akrab dengan budaya setempat daripada kita," jelasnya.

 

Maroef pun berpikir, keberlangsungan dan manfaat Freeport di Indonesia harus berlanjut. Kalau bisa, manfaatnya bagi Indonesia bisa ditingkatkan lagi.

"Akhirnya, yes saya terima pekerjaan itu dengan satu komitmen. Apalagi background antara saya dengan Pak Jim Bob itu sama. Pak Moffett itu bekas tentara, jadi ada nilai-nilai disiplin dan solidaritas, sama dengan saya. Freeport ini harus dijaga dan dikawal," ujarnya.

Berbagai dinamika memang terjadi. Berkaitan dengan rencana perpanjangan kontrak Freeport, hingga kasus 'Papa minta saham'.

Selama menjabat, Maroef termasuk orang yang nasionalis. Bahkan pada 17 Agustus 2015 lalu, Maroef mengadakan upacara bendera besar-besaran di tambang Freeport, Papua. Seluruh pekerja asing ikut dalam upacara penghormatan Sang Merah Putih tersebut. Tak hanya itu, Maroef juga melakukan upacara bendera di tambang bawah tanah Freeport, yang akan menjadi tambang emas terbesar di dunia.

Pada 18 Januari 2016 lalu, Maroef mundur dari posisinya dan tidak memperpanjang kontraknya. Maroef mundur setelah PTFI mengajukan proposal divestasi 10,64% sahamnya seharga US$ 1,7 miliar, atau setara Rp 23 triliun.

Waktu mundurnya Maroef dekat dengan mundurnya Jim Bob sebagai Komisaris Utama Freeport-McMoRan Copper & Gold Inc pada akhir tahun lalu. Maroef mundur karena alasan pribadi. Kita tunggu siapa Presdir baru PTFI.

Dan bagaimana kisah lanjutan proses perpanjangan kontrak Freeport yang akan habis pada 2021 serta divestasi saham Freeport.

disadur dari situs detik finance

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...