Kisah Pilu Dirver Ojol Biayai Hidup Pasca Suami dan Anaknya Meninggal

Khalied Malvino
Khalied Malvino

Kisah Pilu Dirver Ojol Biayai Hidup Pasca Suami dan Anaknya Meninggal Zerlina Oktavia, pejuang perempuan menjadi driver ojek online (ojol) untuk membiayai hidup. [Foto: Tribunnews.com]

Winnetnews.com - Ada saja kisah haru yang terselip di jalanan Jakarta yang begitu padat dan penuh debu. Seorang driver ojek online perempuan, Zerlina Oktavia harus berjuang menafkahi keluarganya yang tersisa pasca anak dan suaminya meninggal dunia.

Melansir Tribunnews.com, Zerlina mulai menceritakan perjuangan dirinya mengais segenggam berlian demi membiayai hidupnya, ibunya yang sudah lansia, serta tiga anaknya yang kini masih bersekolah.

Awal kisah Zerlina menceritakan ketika suaminya meninggal akibat terlindas truk di kawasan Cikarang, Jawa Barat. Kala itu, suaminya tengah berangkat kerja menggunakan sepeda motor.

Zerlina mengaku mendiang suaminya bekerja sebagai supir orang Jepang yang tinggal di kawasan Cikarang. Rumah dan tempat kerja suaminya terbilang cukup jauh, Pondok Cabe, Tangerang Selatan (Tangsel) menuju Cikarang, Jawa Barat.

"Belum lama bosnya pindah ke Cikarang. Jadi lumayan jauh dari rumah kami di Pondok Cabe," kisahnya.

Pagi sekitar delapan bulan lalu, sang suami yang mengendarai sepeda motor tiba-tiba terserempet truk dan kemudian jatuh lalu terlindas. Untuk menghidupi anak-anaknya yang masih sekolah, ibu ini terpaksa menjadi driver ojol.

"Saya sudah melamar kemana-mana mas. Tapi semua menolak karena umur saya sudah lebih dari 50 tahun," ujarnya pasrah.

Zerlina Oktavia mengisahkan, sebelum menjadi driver ojol, ia pernah menjadi sopir bus TransJakarta. Hampir 12 tahun lamanya ia menjadi sopir bus TransJakarta.

Ia paling lama mengendarai TransJakarta koridor 8, yakni jurusan Lebakbulus-Harmoni. Sekitar dua tahun lalu, Pemprov DKI memensiunkan driver yang sudah berusia 50 tahun.

"Sewaktu Pak Ahok, rencananya akan ditambah armada bus TransJakarta. Rencananya yang sudah bekerja lebih dari 10 tahun, akan diberi kesempatan menjadi driver lagi. Tapi Pak Ahok dipenjara dan rencana itu tidak ada kelanjutannya," keluh Zerlina Oktavia.

Ia sudah melamar pekerjaan di berbagai tempat. Namun semua menolak lantaran usianya yang tak muda lagi. Demi menyambung hidup, Zerlina terpaksa menjadi driver ojol.

Setiap hari, ia mengendarai sepeda motor Honda Megapro itu dari kawasan Pondok Cabe hingga kawasan Senayan, Jakarta Pusat.

"Kalau hari biasa, saya bisa dapat Rp 150 ribu per hari. Tapi kalau Sabtu atau Minggu, dapat Rp 100 ribu saja susah banget," kisah Zerlina.

Tak berhenti di situ. Putri bungsunya yang berusia 24 tahun, meninggal dunia sekitar 4 tahun lalu lantaran terserang kanker otak.

"Kalau masih hidup, mungkin saya sudah punya cucu. Saya sedih sekali kalau ingat anak pertama saya itu," ujarnya dengan suara terdengar pilu.

Zerlina mengenang, putri sulungnya itu sudah bekerja sebagai kepala toko di sebuah supermarket. Saat bekerja, tiba-tiba putrinya mengalami mimisan hebat dan pingsan.

Setelah dibawa ke rumah sakit, sang putri terdeteksi terkena kanker otak. Demi menyelamatkan sang putri, Zerlina dan suami merelakan menjual rumah untuk melakukan operasi dan perawatan.

"Rumah saya gadai ke orang lain. Biaya untuk operasi dan perawatan lebih dari Rp 180 juta," kisahnya.

Selepas operasi, sang putri bisa sadar namun kondisi fisik lemah. Beberapa kali melakukan kemoterapi. Namun takdir berkata lain, putrinya dipanggil Sang Khalik sekitar empat tahun lalu.

"Anak saya meninggal, rumah yang saya gadai tak mampu saya tebus. Akhirnya diambil alih," ujarnya.

Padahal, rumah itu adalah hasil jerih payah bersama sang suami selama puluhan tahun.

"Kini saya mengontrak rumah petak. Tidak ada kamarnya. Motor pun saya taruh di luar rumah karena sempit," ujarnya.

Beruntung masih ada tetangga yang berbaik hati, biaya kontrakan rumah Rp 900 ribu per bulan,  dibayari tetangganya.

"Bayarannya yakni setiap hari saya ojek antar jemput tetangga saya yang bekerja di FX Mall," ujarnya.

Kini, di rumah kontrakan sempit itu, Zerlina menghidupi tiga anak dan ibunya yang sudah renta. Anak pertama kelas 1 SMA, anak kedua masih SMP dan yang bungsu masih kelas VI SD.

"Tiap hari saya bangun jam 3 pagi buat masak dan bersih-bersih rumah. Jam 7 kurang sudah antar langganan ke FX Mall itu," kisahnya.

Beruntung, ketiga anaknya yang semuanya laki-laki itu mau membantu membersihkan rumah. Zerlina mengaku tak terlalu kuat lagi untuk menjadi driver ojol.

"Rencananya saya jual motor saya lalu untuk modal jualan nasi," kisahnya.

Namun, sepeda motor satu-satunya warisan sang suami, hanya ditawar murah oleh penjual sepeda motor.

"Motor saya katanya cuma laku Rp 4 juta. Padahal, di pasaran Rp 8 juta. Susah sekali jual motor," ujarnya.

Rencananya, kalau laku Rp 8 juta, sebagian untuk modal jualan nasi dan sebagian untuk membayar utang.

"Tapi sampai sekarang cuma ditawar Rp 4 juta. Jadi belum saya jual," kisahnya.

Namun lantaran tubuhnya yang mulai menua, ia tak selincah dulu lagi. Terlebih kalau hari sudah mulai gelap, matanya tak bisa melihat jelas. Apalagi kalau terkena sorot lampu kendaraan lain yang dirasa sangat menyilaukan.

Kini, setelah tekhnologi pembayaran melalui uang elektronik, ia jarang memegang uang tunai. Seperti akhir pekan lalu. Zerlina mengaku belum makan dari pagi lantaran tak memegang uang cash.

"Kalau mau beli uang elektronik saya, biar saya bisa makan di Warteg, mas," ujarnya.

Sesaat setelah turun dari motornya, Zerlina mengucapkan terimakasih. Dengan senyum getir, ia berusaha tegar sambil menunggangi sepeda motor warisan sang suami tercinta yang lebih dulu meninggalkannya.

Apa Reaksi Kamu?