Kisah Uber yang Didemo di Beberapa Negara

Kisah Uber yang Didemo di Beberapa Negara

Selasa, 15 Mar 2016 | 07:47 | Rusmanto
WinNetNews.com - Mudah dipesan dan lebih murah, tak heran kalau Uber tenar dalam waktu singkat. Tapi itu juga yang memicu pengusaha dan pengemudi taksi gerah. Demo terjadi di banyak negara, tak jarang berujung rusuh. Dan di sisi lain, pemerintah bingung membuat regulasi layanan baru semacam Uber ini.

Pada Juni 2015 lalu misalnya, kerusuhan besar menyeruak di kota Paris, Perancis. Para sopir taksi yang memprotes Uber melakukan blokir di akses jalan menuju bandar udara Paris, membakar ban di tengah jalan sampai membuat barikade.

Dalam kerusuhan itu, sekitar 70 mobil dirusak dan tujuh polisi terluka. Kabarnya ada sepuluh orang ditangkap. "Banyak sopir taksi yang merasa geram," kata Abdelkader Morghad, perwakilan dari organisasi pengemudi taksi setempat. Ia mengatakan pendapatan sopir taksi turun sampai 30% gara-gara Uber.

Otoritas pun melarang Uber beroperasi di Paris, khususnya layanan UberPop yang memungkinkan pengemudi mobil pribadi menyewakan kendaraan. Tak hanya itu, awal tahun ini dua pejabat Uber mulai disidang di pengadilan dan terancam hukuman penjara 5 tahun.

Dua orang itu adalah Thibaud Simphal, General Manager Uber Prancis dan Perre-Dimitri Gore-Coty selaku General Manager Uber kawasan Eropa Barat. Keduanya dituding menjalankan bisnis taksi ilegal, kebohongan komersial dan pelanggaran hukum privasi Prancis karena secara ilegal mengumpulkan, memproses dan menyimpan informasi personal.

Pangkal permasalahannya memang Uber dianggap ilegal, tidak mengurus izin yang semestinya sehingga merongrong nafkah perusahaan taksi legal. Meski tak bisa dipungkiri banyak orang meminati sehingga kadang Uber ngeyel tetap beroperasi di tengah protes keras.

 

Beberapa negara coba bertindak tegas, tapi terkesan bingung dan kadang larangan Uber tak dilakukan secara konsisten. Misalnya, Uber sudah ditolak di tiga kota besar di Brasil, yaitu Sao Paulo, Rio de Janeiro dan ibu kota Brasilia. Namun pemblokiran itu belum dijalankan, karena walikota setempat masih memilih untuk mempertimbangkan hukum yang ada.

Contohnya di Brasilia, di mana para anggota dewan kota sudah memutuskan untuk memblokir layanan Uber, namun putusan itu ditolak oleh gubernurnya, yang kemudian membentuk sebuah komisi untuk mempertimbangkan keputusan terbaik.

"Uber itu rumit karena mereka menghilangkan lapangan kerja bagi masyarakat. Mereka membuat jumlah taksi berkurang. Ini bukan masalah mudah, namun tergantung pada aturan yang berlaku di setiap kota, karena bukan keputusan pemerintah federal," ujar Presiden Brasil Dilma Rousseff yang seperti menghindar dari tanggung jawab.

Selain Prancis dan Brasil, layanan Uber menjadi kontroversi di banyak negara lain. Polisi menggerebek kantor pusat mereka di Eropa yang berlokasi di Belanda. Di Hong Kong, kepolisian pernah menangkap lima pengemudi Uber dengan tuduhan mengangkut penumpang secara ilegal dan mengemudi tanpa dilengkapi asuransi.

Di Indonesia, polisi pun telah beberapa kali menangkap sopir Uber meski akhirnya dibebaskan. Dan puncaknya kemarin, sopir dari berbagai perusahaan taksi demo besar besaran minta Uber dan layanan sejenisnya diblokir.

"Uber mengadopsi strategi yang mengejutkan. Tapi saya pikir strategi mereka itu memang sangat berisiko tinggi," demikian pendapat dari Aswath Damodaran, profesor keuangan di New York University.

disadur dari situs detik news

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...