Klaster Keluarga di Bogor Melonjak, Bima Arya: Karena PSBB Transisi DKI
Foto: Kompas.com

Klaster Keluarga di Bogor Melonjak, Bima Arya: Karena PSBB Transisi DKI

Kamis, 15 Okt 2020 | 10:30 | Anggara Putera Utama

Winnetnews.com -  Wali Kota Bogor Bima Arya tidak membantah kasus Covid-19 dari klaster keluarga di Bogor masih terbilang tinggi. Jumlahnya kini mencapai 46 persen atau 729 kasus di Bogor berasal dari klaster keluarga.

Data tersebut bersumber dari Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Kota Bogor per tanggal 11 Oktober. Berada di nomor dua setelah klaster keluarga adalah klaster luar kota dengan persentase 27 persen atau 422 kasus.

Bima Arya menduga tingginya klaster keluarga di Bogor merupakan dampak dari banyaknya warga Kota Bogor yang harus bekerja di Jakarta, yakni persentasenya sebesar  55 persen.

"Data menunjukkan bahwa klaster keluarga menjadi yang terbesar di kota Bogor dalam penularan COVID-19. Dalam klaster keluarga, sebagian besar anggota keluarga itu terpapar dari anggota keluarganya yang bekerja di Jakarta," kata Bima dalam diskusi virtual, Rabu (14/10).

Oleh karena itu, saat Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memutuskan untuk kembali menerapkan PSBB transisi, maka jumlah kasus Covid-19 dari klaster keluarga di Bogor akan kembali mengalami peningkatan.

"Ketika pak Gubernur DKI memutuskan untuk melonggarkan sektor ekonomi di Jakarta, kantor-kantor dibuka kembali, mal-mal dibuka kembali, otomatis terjadi penumpukan di Stasiun Kota Bogor. Saat itulah kemudian ada risiko untuk penyebaran virus," jelas Bima.

Kebijakan pembatasan di DKI berpengaruh pada Kota Bogor. Hal tersebut terbukti dari data penumpang KRL Commuter Line. Dalam keadaan normal, setiap harinya ada 40 ribu warga yang berangkat dari Stasiun Kota Bogor menuju Jakarta. Ketika DKI menjalankan PSBB, mobilitas pengguna KRL di Stasiun Kota Bogor menurun hingga menyisakan 7 ribu penumpang per hari menuju Jakarta.

Bima juga menjabarkan, ada sekitar 300 ribu warga dari Jakarta dan sekitarnya yang masuk ke Bogor untuk menghabiskan akhir pekan. Serta berbagai aktivitas lain seperti  kegiatan MICE seperti lokakarya, bimbingan teknis, serta pelatihan di Kota Bogor dari Jakarta.

"Data-data ini menunjukkan bahwa Bogor dan Jakarta itu terintegrasi secara ekonomi dalam dimensi transportasi," ungkapnya.

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...