Komnas HAM Tak Setuju Herry Wirawan Dituntut Hukuman Mati, Ini Alasannya

Anggara Putera Utama

Dipublikasikan 10 hari yang lalu • Bacaan 1 Menit

Komnas HAM Tak Setuju Herry Wirawan Dituntut Hukuman Mati, Ini Alasannya
Foto: Antara

Winnetnews.com -  Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) tak setuju bila Herry Wirawan, terdakwa kasus perkosaan 13 santriwati dituntut hukuman. Selain hukuman mati, Herry Wirawan juga dituntut hukuman kebiri kimia.

Menurut Komisioner Komnas HAM Beka Ulung, tuntutan hukuman mati dan kebiri kimia bertentangan dengan prinsip HAM.

Ia menilai, hak hidup seseorang merupakan hak yang tak bisa dikurangi dalam situasi apa pun.

"Saya setuju jika pelaku ( Herry Wirawan ) perkosaan dan kekerasan seksual dengan korbannya anak-anak jumlah banyak dihukum berat atau maksimal, bukan hukuman mati atau kebiri kimia," kata Beka saat dihubungi, Selasa (11/1).

Beka menjelaskan hukuman maksimal yang dimaksud adalah yang sesuai denganKUHP dan undang-undang tentang perlindungan anak.

Sebelumnya, Herry Wirawan, terdakwa kasus perkosaan 13 santriwati di Bandung dituntut hukuman mati dan kebiri kimia oleh jaksa penuntut umum. Herry dinyatakan terbukti bersalah telah melakukan kejahatan seksual

"Dalam tuntutan kami, pertama menuntut terdakwa dengan hukuman mati. Sebagai bukti komitmen kami memberi efek jera pada pelaku atau pada pihak-pihak lain yang akan melakukan kejahatan (seksual)," ucap Kepala Kejaksaan Tinggi Jawa Barat Asep N Mulyana usai persidangan di Pengadilan Negeri Kelas IA Bandung, Selasa (11/1).

"Kedua, kami juga menjatuhkan atau meminta kepada hakim untuk menjatuhkan tambahan pidana tambahan berupa pengumuman identitas yang disebarkan melalui hakim dan hukuman tambahan berupa tindakan kebiri kimia," lanjutnya.

Kemudian, jaksa juga menuntut Herry Wirawan membayar denda sebesar Rp500 juta Rupiah dan subsider selama satu tahun kurungan serta mewajibkan terdakwa untuk membayarkan restitusi kepada anak-anak korban yang totalnya mencapai Rp330 juta.

Share This Story

RELATED ARTICLE

Loading interface...