(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Konser Ruth Sahanaya: Mengejar "Kekinian" di Album Terkini

Muchdi
Muchdi

Konser Ruth Sahanaya: Mengejar "Kekinian" di Album Terkini

WinNetNews.com - Entakan intro tembang lawas berjudul "Pesta" seolah tiba-tiba mengguncang sekaligus menghidupkan suasana Hard Rock Cafe Jakarta, Senin (18/4/2016) malam.

Sejurus kemudian, muncul sesosok mungil, Ruth Sahanaya, dibalut blus lengan panjang putih berpunggung terbuka dan celana panjang hitam. Ruth memulai penampilan malam itu dengan lagu yang pernah mengantarnya ke puncak karier, menjadi salah satu penyanyi tersukses Tanah Air.

Lagu "Astaga" mengalun dengan ketukan dan tempo yang jauh lebih energik. Penonton pun bergoyang dan sebagian ikut menyanyi.

Setelah sekian lama, Ruth memang kembali tampil dalam sebuah konser hidup, yang sekaligus juga menjadi ajang promosi serta peluncuran album terbarunya, Simfoni Dari Hati.

Album baru itu sendiri diproduksi dan dipasarkan di bawah label Pro-M, bekerja sama dengan jaringan perusahaan waralaba besar penjual ayam goreng.

Setelah sekian lama sempat absen mengeluarkan album solonya, di album ini Ruth mencoba menampilkan konsep dan tampilan baru yang lebih segar dan sesuai kondisi "kekinian".

Harapannya, album tersebut akan mampu menjangkau pasar lebih luas, baik penggemar setia maupun penikmat musik saat ini.

 

"Lagu 'Hidden Love' malah juga sudah dibuatkan versi bahasa Jepang-nya. Rencananya memang akan dipasarkan di sana sebagai singel. Mereka (pasar Jepang) sepertinya sudah melirik (saya)," tambah Uthe, sapaan akrabnya.

Uthe juga mencoba berkolaborasi dengan komposer dan pengarah (arranger) lagu dan musik selain mereka yang selama ini telah menjadi semacam "langganan" Uthe di album-album terdahulu.

Beberapa nama seperti pencipta lagu Stephen Wally, yang dalam album Simfoni Dari Hati ini menciptakan lima dari total 10 lagu.

Uthe juga menggandeng komposer lain, seperti Yon Chasman, Andre Supryanata, dan Pepe Wong.

Dihadiri para sahabat

Sejumlah rekan Uthe sesama penyanyi pun hadir. Mereka antara lainTiti DJ, Vina Panduwinata, Krisdayanti, Harvey Malaihollo, dan rocker Armand Maulana.

Bersama Titi, Uthe bahkan berduet dadakan, membawakan lagu era 1990-an, "Semua Jadi Satu", yang dipopulerkan penyanyi Malyda dan duo Dian Pramana Poetra serta Deddy Dhukun.

 

Terkait album barunya, upaya Uthe mengejar "kekinian" tadi juga dilakukan dengan mencoba keluar dari "zona nyaman" warna dan tempo lagu-lagu yang dia nyanyikan.

Dari total 10 lagu tadi, enam lagu bertempo pelan, dua lagu dengan tempo bersemangat (upbeat), dan dua lagu lainnya dimainkan dengan tempo sedang. Namun begitu, Uthe bukan ingin melepas sepenuhnya warna lagu dan olah vokal ala masa lalunya.

Pada beberapa lagu, setidaknya di lagu berjudul "Derita Kesayanganku" dan "Percayakan Cinta", dia tetap berupaya mempertahankan ciri khasnya.

Lagu yang disebut terakhir tadi bahkan menurut Uthe mengingatkan dirinya pada hit lamanya, "Bawa Daku Pergi", yang juga bertempoupbeat tetapi dibalut dengan semangat "kekinian".

”Lagu ini buat saya Uthe banget dan aransemennya kekinian juga. Kayaknya oke juga, tuh, kalau lagu itu dimainkan di disko-disko,” ujarnya bersemangat.

Dalam album barunya itu Ruth juga mencoba mengangkat tema dan pesan humanis. Salah satunya saat dia berduet dengan aktor film sekaligus penyanyi cilik Christabelle Grace Marbun di lagu "Seandainya".

Lagu itu menurut Uthe mencoba mengangkat kepedulian terhadap anak-anak jalanan. Christabelle sendiri, tambah Uthe, adalah duta bagi anak-anak jalanan. Sejak dilempar ke pasaran 28 Maret lalu, album terbaru Uthe itu telah terjual lebih dari 40.000 keping cakram digital.

Selain itu, klip video salah satu lagu andalan, "Derita Kesayanganku", telah diklik dan ditonton lebih dari 1,2 juta kali sejak pertama kali dikeluarkan empat bulan lalu.

Sumber dari Kompas, Jakarta

Foto: Riza Fathoni

(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});