Kredit seret, likuiditas valas masih longgar

Muchdi
Senin, 14 September 2015 11:43 WIB
Oleh Muchdi pada Senin, 14 September 2015 11:43 WIB
Image Kredit seret, likuiditas valas masih longgar

Jakarta – Nasabah tidak tergiur mencairkan seluruh simpanan valuta asing ( Valas ) di Bank walaupun sedang Tren penguatan dollar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah . Di kala rupiah terus anjlok, likuiditas valas perbankan justru kian longgar.

Melihat data terbaru terbitan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Per Juni 2015, rasio likuiditas atawa perbandingan antara kredit valas terhadap dana pihak ketiga (DPK) valas sebesar 83,27%. Level ini melonggar dari posisi akhir tahun 2014 di level 90,65% (lihat tabel).

Beruntung, pelemahan rupiah turut disertai sepinya permintaan kredit valas. Kartika Wirjoatmodjo, Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri mengatakan, likuiditas valas Bank Mandiri sudah tak lagi mengkhawatirkan.

Kartika bilang, selain permintaan kredit valas yang menyusut saat kondisi rupiah melemah, aturan Bank Indonesia (BI) soal kewajiban transaksi dalam rupiah turut mengempiskan selera nasabah mengambil kredit valas.

Saat ini, rasio likuiditas atau loan to deposit ratio (LDR) valas Bank Mandiri sebesar 62%. "Bahkan ekses likuiditas valas kami mencapai sekitar US$ 3,2 miliar," tutur Kartika, akhir pekan lalu.

Prediksi Bank Mandiri, LDR valas berkisar di level 60%-62% di akhir tahun. Proyeksi tersebut seiring dengan ramalan pertumbuhan single digit kredit valas atau di bawah 10%.

Mengelola likuiditas

Lantaran kelebihan valas bank mengelola likuiditas agar tidak terbeban biaya dana. Misal, Bank Mandiri menempatkan dana US$ 2 miliar di obligasi dan US$ 1,2 miliar berupa kas.

Likuiditas valas Bank Rakyat Indonesia (BRI) dan Bank Central Asia (BCA) juga longgar. "LDR valas kami 58%. Kelebihan dana kami tempatkan di government bond, deposito berjangka BI, dan lainnya," kata Haru Kusmahargyo, Direktur Keuangan BRI.

Jahja Setiaatmadja, Presiden Direktur BCA merinci, DPK valas BCA mencapai US$ 2,8 miliar dengan kredit valas US$ 1,5 miliar atau LDR sekitar 60%. "Kelebihan dana di government bond, BI, dan bank asing untuk nostro," ucap Jahja.

Senada, Herwidayatmo, Direktur Utama Bank Panin bilang, LDR valas Bank Panin sangat longgar atau di level 53,2% per Agustus 2015. Bank Panin menghimpun simpanan valas senilai Rp 17,1 triliun, sementara kredit valas hanya Rp 9,1 triliun.

Sementara LDR valas Bank OCBC NISP tercatat 68%. Parwati Surjaudaja, Direktur Utama OCBC NISP menuturkan, DPK valas NISP sebesar

US$ 2,4 miliar sementara kredit valas US$ 1,7 miliar. OCBC NISP menempatkan kelebihan dana di deposito berjangka BI. "Yang penting lebih ke kualitas aset, apalagi jika kelonggaran LDR ini berlangsung lama," kata dia

Waspadai Bumbu Masakan Ini
Sesi I: IHSG Ditutup Naik 19 Poin ke 5.881

Reaksi Kamu

Tanggapan Pembaca

    Belum ada Tanggapan

    Jadilah yang pertama memberikan tanggapan

Sekilas Tentang WinNetNews

Situs WinNetNews.com merupakan portal berita dan informasi teraktual perihal berbagai peristiwa di nusantara maupun mancanegara. Kelengkapan, keakurasian serta aktualitas berita dan informasi WinNetNews.com telah membuat tingkat baca artikel-artikelnya naik secara signifikan walaupun usia WinNetNews.com sebagai portal berita baru seumur jagung.