Kronologi Terungkapnya Organisasi Gafatar ke Publik

Kronologi Terungkapnya Organisasi Gafatar ke Publik

Rabu, 20 Jan 2016 | 11:29 | kontributor

WinNetNews.com - Nama organisasi terselubung Gafatar (Gerakan Fajar Nusantara) semakin populer sejak kasus hilangnya dr Rica, seorang dokter di Yogyakarta.  Hilangnya dokter dan anaknya itu menjadi pemberitaan nasional. Ulasan mengenai Gafatar banyak dilakukan. Tokoh agama Islam ikut bicara tentang Gafatar yang disebut menyimpang. Sampai akhirnya dr Rica ditemukan di Pangkalan Bun, Kalimantan.

Bersamaan dengan itu, muncul pengakuan dari mantan anggota Gafatar, kalau gerakan itu menjadikan kawasan di Kalimantan Barat menjadi lokasi baru mereka. Ratusan orang anggota kelompok ini pindah dari Jawa ke Kalimantan Barat.

Baca: Gafatar Ternyata Evolusi dari Ajaran 'Nabi' Ahmad Musadeq

"Sebetulnya mereka sudah datang pertengahan Oktober 2015. Mereka datang ke sini tidak mengatasnamakan Gafatar," jelas Kapolda Kalbar Brigjen Arief Sulistyanto, Rabu (20/1/2016).

Warga Kalimantan Barat melihat mereka yang datang ingin mengadu nasib, tidak ada tujuan lain. Tak heran kalau warga menyambut ramah, bersedia menyewakan rumah serta tanah. Bahkan, Dinas Pertanian memberikan pelatihan bertani kepada warga pendatang ini.

 

"Pertengahan November Kapolres dapat informasi soal Gafatar ini. Saya perintahkan agar segera mengkoordinsikan dengan Camat dan perangkat di daerah. Jangan sampai muncul konflik," urai dia.

Anggota Gafatar ini terkonsentrasi di Mempawah, mereka membentuk kamp. Mereka juga ekslusif tidak berbaur dengan warga. Ada aktivitas sendiri yang mereka lakukan. Saat itu warga masih menolerir.

"Desember 2015, kami lakukan pendataan. Dan selama pendataan dilakukan, muncul berita dr Rica hilang, yang kemudian diamankan berada Pangkalan Bun Kalimantan Tengah," tambah Arief.

Baca: Dokter Rica Ditemukan dalam Kondisi Labil

Arief mengungkapkan, hilangnya dr Rica yang menjadi pemberitaan nasional dengan mengupas habis Gafatar membuat masyarakat jadi tahu. Termasuk masyarakat yang berada di Mempawah.

"Warga Kalbar yang semula akomodatif menjadi resisten. Kami pihak kepolisian kemudian melakukan koordinasi dengan pemerintah daerah, agar tidak terjadi penolakan dan konflik. Ada WNI yang harus dilindungi dan memiliki hak sebagai warga negara. Jangan sampai terjadi sesuatu," urainya.

Baca: 1000 Lebih Anggota Gafatar Desa Monton, Dievakuasi ke markas TNI

Konflik coba diredam. Hingga pekan lalu, warga di sekitar kamp kelompok Gafatar mengultimatum agar kelompok ini pergi. Anggota Gafatar ini bersikeras bertahan. Pihak kepolisian dan pemerintah daerah mencoba menjadi jembatan. Meski begitu, warga tetap ingin kelompok Gafatar yang dianggap sesat ini hengkang dari desa mereka.

Sumber: Detik

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...