(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Kubu Jokowi dan Prabowo Jadi Berdamai Karena Orang Ini

Rusmanto
Rusmanto

Kubu Jokowi dan Prabowo Jadi Berdamai Karena Orang Ini istimewa

Winnetnews.com - Kedua kubu pasangan calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) tampak saling beradu argumen dalam acara Mata Najwa, Rabu (6/2/2019).

Dalam tema 'Tancap Gas Jelang Pilpres', sejumlah persoalan tampak menjadi pembahasan di Mata Najwa. Mulai dari konsultan asing, utang negara, polemik 'Yang Gaji Kamu Siapa?', hingga kasus Ahmad Dhani dan Buni Yani.

Sebanyak enam narasumber hadir dalam acara Mata Najwa. Dari kubu pasangan capres-cawapres nomor urut 01, ada Dini Shanti Purwono, Irma Suryani, dan Budiman Sudjatmiko. Sementara dari kubu pasangan capres-cawapres nomor urut 02, ada Faldo Maldini, Miftah Sabri, dan Muhammad Nasir Djamil.Hingga ada satu momen yang membuat 'perseteruan' pendapat itu hilang seketika.

Momen itu terjadi ketika mendekati sesi akhir di program Mata Najwa. Dalam bagian itu, tema yang dibahas soal cucu capres nomor urut 01, Jokowi, Jan Ethes Srinarendra yang dipersoalkan politikus karena dinilai dilibatkan dalam unsur politis.

Menanggapi persoalan itu, Jubir BPN Prabowo-Sandi, Miftah Sabri mengatakan tidak mempermasalahkan keterlibatan Jan Ethes dalam acara yang dilakukan Jokowi.

"Kalau saya berpandangan bahwa pendidikan politik itu mesti ditanamkan sejak usia dini, jangan berbeda pendapat terus lah, kalau perlu kita merubah anak-anak kampanye, bolehlah itu," ungkap Miftah Sabri.

Sementara itu, Dewan Pengarah Direktorat Advokat dan Hukum BPN, Muhammad Nasir Djamil, menjelaskan dari sisi undang-undang kampanye. Menurutnya, anak-anak dilarang dibawa saat kampanye.

"Ya memang sih ya tergantung kalau memang dalam hal kampanye dilarang membawa anak-anak, dalam hal-hal kampanye," jelas Nasir Djamil.

"Kampanye itu kan menyampaikan visi misi program itu kampanye, di luar kalau seseorang tidak menyampaikan visi misi program, apakah itu bukan disebut kampanye, tidak juga," imbuh dia.

Menanggapi pernyataan Nasir Djamil, Irma Suryani mengungkapkan banyak keterlibatan anak-anak dalam kampanye yang dilakukan Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

"Saya ingin sampaikan juga dengan Bang Nasir Djamil ini, padahal PKS itu kalau kampanye, ibu-ibunya bawa anak-anak lho, banyak banget malah, yang pakai kaos, pakai kaos tagar ganti presiden dan sebagainya, kaos PKS juga dipakaiin, lho, di anak-anak," urai Irma Suryani.

"Itu kreativitas," timpal Nasir Djamil.

"Lho ini saya bilang tadi, ini bukti," kata Irma Suryani.

"Kita bicara kaos," ujar Nasir Djamil.

Irma Suryani menilai jawaban Nasir Djamil tidak sesuai dengan pernyataan rekannya di BPN, seperti Miftah Sabri dan Faldo Maldini.

"Kaos itu alat peraga kampanye enggak boleh, kalau kita ngomong sama dengan yang dibilang tadi," ungkap Irma Suryani.

"Mau ngomong bahwa itu bukan kampanye kalau di kubunya tidak salah, kalau di orang lain salah. Nah, inilah yang selalu mereka mainkan," sambungnya.

Mendapat pernyataan itu, kubu Prabowo-Sandiaga langsung kompak membantahnya.

"Harus kompak dong, kalau Miftah enggak masalah, kalau Bung Nasir," timpal Budiman Sudjatmiko.

Lantas, Irma Suryani tampak memuji Miftah karena tidak mempermasalahkan anak-anak dalam kegiatan kampanye.

"Miftah bagus, Miftah bagus," ujar Irma Suryani sambil memberikan jempolnya.

Diberikan jempol, Miftah tertawa sambil menunjukkan dua jari khas pendukung Prabowo-Sandi.

"Faldo pun tadi mengatakan kalau itu ada undang-undangnya bagus, tapi Bang Nasir tadi yang salah menurut saya."

"Harus diluruskan juga, tapi saya memberikan apresiasi kepada si lucu ini (Miftah)," tambah Irma Suryani.

Kemudian, Najwa Shihab sebagai pembawa acara memberikan apresiasi kepada semua narasumber yang hadir.

"Baik, baik, terima kasih banyak, kita berhenti di situ saling mengapresiasi, yang jelas saya mengapresiasi sudah hadir di Mata Najwa," ungkap Najwa Shihab.

"Kita semua sayang Jan Ethes," timpal Miftah Sabri.

"Sana dan sini sayang Jan Ethes," kata Nasir Djamil.

"Jadi kita boleh berbeda pendapat dalam banyak hal, kita bersatu untuk Jan Ethes," lanjut Miftah Sabri yang disambut tepuk tangan penonton.

Selama pembahasan masing-masing tema, kedua kubu saling mengadu argumennya.

Satu di antaranya saat pembahasan tudingan penggunaan konsultan asing untuk kubu Prabowo-Sandi.

Anggota Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo (Jokowi)-Ma'ruf Amin Dini Shanti Purwono memberikan tanggapan atas tudingan yang sempat dilontarkan oleh Jokowi itu.

"Kita patut menduga bukan menuduh ya, karena terdapat kesamaan pola-pola yang digunakan oleh kubu 02 dengan yang digunakan di Amerika maupun di Rusia," ujar Dini Seperti dikutip TribunWow.com dari kanal YouTube Najwa Shihab.

Menanggapi tudingan tersebut, kubu Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga melalui Faldo Maldini mengatakan pemerintah seharusnya bisa memberikan bukti yang kuat bila ada indikasi kubu Prabowo menggunakan jasa konsultan asing.

"Kalau memang ada konsultan asing, kan dicek saja visa kan masuk ke data pemerintah. Come on, pemerintah jangan kayak orang lemah lah, mereka kan punya semua instrumen untuk melakukan pengecekan apapun yang bisa mereka lakukan," jawab Faldo Maldini.

"Jangan sampai nanti ketika dibilang konsultan asing. Jangan sampe nanti larinya ke tim sendiri," tambah Politisi PAN tersebut.

Lalu Faldo juga menggunakan istilah 'politik belah bambu' untuk mengkritisi pesan yang disampaikan oleh petahana.

"Kalau menurut saya ya sudah lah ya kita coba petahana keluarkan pesan-pesan persatuan, pesam-pesan yang mengajak bukan politik belah bambu, satu diinjak, satu diangkat, capek kita juga kontestasi," tambah Faldo Maldini.

Selain itu ada juga momen dimana Irma Suryani dan Miftah Sabri saling menginterupsi.

Momen itu saat Irma Suryani diinterupsi ketika sedang menjelaskan mengenai kontroversi tudingan menteri pencetak utang.

"Jadi kalau menjelaskan hutang itu jangan sepotong-sepotong seperti itu," ujar Irma Suryani.

"14 tahun lho," potong Miftah Sabri.

Pembawa acara Najwa Shihab pun sempat meminta agar jangan diinterupsi.

"Dengarkan dulu, dengarkan dulu," pinta Najwa Shihab.

Irma kemudian tampak kesal dan memarahi Miftah.

"Ni anak biasaan ya, bisa diam enggak?," ujar Irma sambil menunjuk Miftah.

Adu argumen terus berlanjut di antara masing-masing kubu.

 

 

 

Artikel ini telah tayang di wow.tribunnews.com dengan judul "Sempat Berdebat Sengit di Mata Najwa, Kubu Jokowi dan Prabowo 'Rukun' saat Bicarakan Jan Ethes"

 

 

Apa Reaksi Kamu?

(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});