Skip to main content

Kuliner Langganan Masyarakat Manado "Mie Ceplok Pak Kumis"

Kuliner Langganan Masyarakat Manado

Jika Anda mengunjungi Kota Manado dan mencari kuliner instan untuk mengganjal perut, tak ada salahnya jika mampir di kios mi ceplok Pak Kumis, yang terletak di Jalan Sam Ratulangi. Dinamai demikian karena pemiliknya memiliki kumis hitam yang lebat.

Lokasinya hampir berhadapan dengan lorong masuk Rumah Sakit Pancaran Kasih. Kios mi instan ceplok Pak Kumis selalu dijejali pengunjung, dan menjadikannya sebagai kios mi ceplok paling ramai di kota ini.

Untuk sekedar mencicipi gurihnya mi dengan berbagai jenis rasa, pengunjung bahkan rela mengantre di luar sambil menunggu kursi kosong di dalam kios. Bahkan beberapa pejabat dan orang-orang penting di kota ini seperti wakil wali kota Harley Mangindaan, Mantan Bupati Talaud Elly Engelbert Lasut dan keluarga Gubernur Sulawesi Utara sering menjadi pelanggan tetap kios Pak kumis.

Soal rasa, jangan ditanya. Gurihnya mi instan yang disajikan dengan kuah panas begitu membangkitkan selera. Belum lagi aroma bawang goreng yang ditaburi di atasnya menambah keharuman suguhan mi yang kerap dihidangkan ditemani tahu garing.

Jika ingin menyantap mi dengan aroma khas nan gurih ini, pengunjung harus memilih jenis mi instan yang akan disantap di bagian luar kios. Selesai memilih sesuai selera, bungkusan mi instan disodorkan ke pelayan kios untuk dimasak. Selanjutnya pengunjung tinggal menunggu beberapa saat. Tak sampai 3 menit, mi ceplok telah dihidangkan pelayan dan siap disantap.

Memang, kios Pak Kumis hanya buka di malam hari sejak pukul 19.00 hingga pukul 06.00 WITA.

Pelanggannya pun kebanyakan karyawan yang pulang kerja malam hingga para penikmat dunia malam di Manado. Untuk satu mangkok mi ceplok rasa dan jenis apa saja hanya Rp 10 ribu termasuk telur ceplok. Seporsi tahu garing hanya seharga Rp 5 ribu.

Meski telah menjadi salah satu kios makanan cepat saji populer di Manado dengan omzet sekitar Rp 5 juta per malam, kesuksesan pemilik kios Pak Kumis yang bernama Amir Duda harus dimulai dari nol. Usaha pria berusia 42 tahun tersebut memulainya bersama sang istri, dengan menggunakan gerobak dorong di lokasi yang berhadapan dengan kiosnya sekarang.

Saat memulai usaha, pria asal Gorontalo tersebut belum memiliki tempat tinggal tetap. Dia hanya indekos di dekat lokasinya barjualan. Harga seporsi pun saat itu masih dijual Rp 2500 termasuk telur ceplok.

Tahun 2006 usaha lelaki yang memiliki dua orang anak ini pun digusur petugas Satpol PP Kota Manado, dan membuatnya pindah ke kompleks Gedung Juang yang berdekatan dengan zero point pusat kota.

Di tempat ini, usahanya mulai berkembang dan banyak dikunjungi pelanggan. Pundi-pundi uang mulai lancar masuk ke kantongnya. Status ekonominya mulai terangkat. Namun, usaha yang mulai menunjukkan tanda-tanda kesuksesan ternyata menjadi kendala lain yang harus dihadapinya. Dia terpaksa harus angkat kaki dari tempatnya berjualan.

Amir justru sukses di lokasi sekarang. Selain terus mempertahankan rasa, kerja keras dan sikap pantang menyerah merupakan motto hidupnya guna meraih keberhasilan. Tak kurang dari 15 karton atau 600 bungkus mi instan habis dalam semalam. Dia pun telah mempekerjakan 10 orang karyawan di kiosnya.

Hasil kerja kerasnya pun telah membuahkan sebuah rumah tinggal permanen yang nyaman di Kelurahan Wonasa Kapleng, Kecamatan Singkil. Sebuah mobil Toyota Kijang Innova bahkan selalu menemani ke mana pun dia pergi. Tak hanya itu, dua unit mobil angkot dimilikinya menambah penghasilannya setiap hari.

Memang di hampir semua rumah makan, selain pelayanan yang baik, resep memegang peranan penting untuk menjaga rasa makanan. Itulah sebabnya hampir semua warung makan dan restoran terus menjaga kerahasiaan resep mereka.

Apa pendapat Anda mengenai artikel ini?

Loading Rating...

Komentar:

Loading...
Top