Langkah Awal Atasi Gejala Depresi Melalui Perbaikan Gaya Hidup
Artwork via Golife.id

Langkah Awal Atasi Gejala Depresi Melalui Perbaikan Gaya Hidup

Rabu, 18 Des 2019 | 17:22 | Salinas Alsadila

Winnetnews.com - Kesehatan mental merupakan hal pokok yang harus selalu diperhatikan demi terciptanya kualitas hidup yang prima. Keseimbangan antara kesehatan fisik dan kesehatan mental dapat menunjang kinerja seseorang agar efektif dengan hasil yang maksimal. Tetapi kenyataannya, banyak orang yang mengabaikan hal ini. Bahkan, tidak menyadari bahwa ia sedang mengalami gangguan mental atau gejalanya yang sudah berlangsung cukup lama.

Salah satu gangguan mental yang paling banyak dialami oleh penduduk di dunia adalah depresi. Menurut data dari World Health Organization (WHO) pada tahun 2017, terdapat sekitar 264 juta orang di seluruh dunia yang menderita depresi.

Depresi adalah gangguan mental berupa perasaan sedih dan hilangnya semangat atau minat dalam melakukan kegiatan secara berkelanjutan dalam jangka waktu tertentu. Depresi memberikan dampak yang signifikan terhadap suasana hati, tindakan, dan perilaku seseorang. Hal ini dapat menjadi penghambat seseorang dalam melakukan aktivitasnya sehari-hari serta menurunkan performa kerja.

Dilansir dari Mayo Clinic, faktor penyebab depresi dapat bersumber dari internal, yaitu dapat berupa genetik/keturunan, ketidakstabilan senyawa kimia otak, dan perubahan hormon. Sedangkan, pemicu depresi dapat berupa banyak hal, yaitu tertekan oleh banyak masalah hidup, stress yang berkepanjangan, kurang tidur, makan makanan tidak bergizi, serta faktor lainnya.

Orang yang mengidap depresi akan kesulitan dalam berkonsentrasi dan berpikir jernih. Timbulnya perasaan tidak berharga, tidak ada harapan, dan gelisah meliputi seseorang yang mengalami depresi. Tidak jarang depresi mengakibatkan terenggutnya nyawa seseorang melalui aksi bunuh diri.

Berdasarkan data riset kesehatan dasar (riskesdas) Kementerian Kesehatan pada tahun 2018 yang dilansir dari Liputan6, menunjukkan bahwa jumlah pengidap depresi di Indonesia yang berujung dengan bunuh diri yaitu sebanyak 6.1% atau setara dengan 11 juta orang. Angka prevalensi yang begitu tinggi ini menandakan bahwa masyarakat Indonesia perlu menyadari bahwa depresi itu nyata dan tidak bisa diabaikan.

Depresi bukanlah penyakit yang cepat proses penyembuhannya, dibutuhkan proses dalam pemulihan kondisi seseorang. Walaupun begitu, depresi dapat diobati, melalui penanganan medis ataupun non-medis.

Penanganan medis sangat penting untuk dijalankan jika gejala depresi sudah kronis. Tetapi, masih banyak orang yang mempertimbangkan untuk mencari bantuan ke psikiater. Jika anda salah satunya, langkah selanjutnya yang dapat diambil adalah melalui penanganan non-medis.

Non-medis disini merupakan solusi alternatif mengatasi depresi melalui perbaikan gaya hidup. Kenyataannya, banyak orang yang tidak tahu bahwa faktor pemicu depresi berkaitan dengan gaya hidup yang tidak seimbang, seperti jarang berolahraga, waktu tidur yang kurang, dan makan makanan yang tidak sehat.

Menerapkan gaya hidup produktif juga berfungsi sebagai pengalihan dari perasaan sedih atau pemikiran negatif yang timbul dan untuk meningkatkan mood. Berikut beberapa hal yang dapat anda lakukan untuk mengatasi depresi.

Berolahraga secara teratur

Melakukan olahraga secara teratur dapat meringankan gejala depresi dan stress. Menurut  Mayo Clinic, olahraga dapat menghasilkan hormon endorfin yang dapat meningkatkan mood dan membuat seseorang lebih tenang dan merasa bahagia. Olahraga dapat dilakukan 3-5 kali setiap minggu, selama 15-30 menit. Jenis olahraga tidak terbatas dalam bentuk jogging atau berlari saja, hal ini dapat disesuaikan dengan preferensi seseorang.

Makan makanan sehat

Makanan sehat sangat penting karena di dalamnya terdapat banyak nutrisi dan vitamin untuk mencukupkan kebutuhan asupan gizi seseorang setiap harinya. Selain itu, konsumsi makanan sehat dapat menurunkan risiko terkena depresi. Menurut sebuah penelitian yang dilansir dari Alodokter, mereka yang terbiasa mengonsumsi makanan kaya sayuran, buah, ikan, daging tanpa lemak, dan gandum utuh, diketahui memiliki tingkat risiko depresi 25-35% lebih rendah dibanding yang terbiasa mengonsumsi makanan kemasan.

Tidur yang cukup

Kualitas tidur yang baik sangat penting untuk semua orang. Waktu tidur normal seseorang adalah antara 7 sampai 9 jam. Menurut laman Healthline, kurang tidur dapat memberikan dampak negatif bagi kesehatan mental dan keadaan emosi seseorang. Selain itu, penelitian yang dilakukan oleh Harvard Medical School menunjukkan bahwa pengidap depresi cenderung memiliki masalah sulit tidur. Dengan membiasakan diri untuk konsisten mengikuti jadwal tidur yang baik, risiko mengidap depresi dapat diminimalisir.

Menulis jurnal (journaling)

Menulis merupakan cara yang paling efektif untuk menuangkan segala isi pikiran serta curahan hati. Dilansir dari Fast Company, menurut Dr. James Pennebaker, seorang psikolog dan pakar di bidang Expressive Writing, journaling dapat memperkuat sel imun yang disebut limfosit-T dan dikaitkan dengan penurunan depresi, kecemasan, peningkatan mood, keterlibatan sosial, dan kualitas hubungan yang erat.

Dengan menulis jurnal, seseorang dapat menyalurkan hal-hal negatif serta masalah-masalah yang membebani pikirannya saat itu. Sehingga, dapat meredakan tekanan dan stress yang dialami seseorang.

Melakukan hal kreatif di bidang seni (art therapy)

Menurut Resources to Recover Organizations, art therapy adalah penerapan seni visual dalam konteks terapi. Art therapy dapat berupa melukis, menari, membuat kerajinan, membuat aransemen musik, menyanyi, atau memahat. Penelitian dari National Center for Biotechnology Information mengungkapkan bahwa art therapy dapat memberikan efek positif bagi penderita depresi, gangguan kecemasan, trauma, dan gangguan mental lainnya. Hal ini dapat mengalihkan seseorang dari gejala-gejala depresi dan sebagai aktivitas yang menyenangkan hati.

Membuka diri dengan keluarga dan sahabat

Sebuah masalah atau beban hidup akan terasa lebih ringan jika dikelilingi dengan orang-orang terdekat yang suportif dan selalu memberikan saran serta kritik membangun. Menurut penelitian yang dilansir dari International Journal of Mental Health Systems, dukungan sosial memiliki peran penting dalam kaitannya dengan stress dan depresi karena dapat memberikan solusi pemecahan masalah, sehingga dapat menurunkan tingkat stress dan depresi.

Melalui penerapan gaya hidup produktif dan kebiasaan baik secara rutin, kecenderungan seseorang untuk terjangkit gejala depresi dapat terminimalisir serta meringankan gejala depresi yang sedang dialami seseorang. Penanganan profesional tetap dibutuhkan sebagai jalan terakhir jika gejala depresi terus berlanjut. (*)

 

 

Salinas Alsadila adalah mahasiswi London School of Public Relations Jakarta

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...