Lima Negara Gugat Iran Pasca Serangan Ukraine International Airlines
Lima negara gugat Iran pascaserangan terhadap Ukraine International Airlines hingga menewaskan ratusan penumpang. [Foto: Aljazeera.com]

Lima Negara Gugat Iran Pasca Serangan Ukraine International Airlines

Selasa, 14 Jan 2020 | 16:10 | Khalied Malvino

Winnetnews.com - Pasca serangan rudal terhadap pesawat penumpang Ukraine International Airlines di Teheran, Iran, lima negara, antara lain Ukraina, Swedia, Afghanistan, Jerman, dan Inggris yang beberapa warganya menjadi korban ledakan itu diprediksi akan mengajukan langkah hukum terhadap Iran.

Menteri Luar Negeri (Menlu) Ukraina, Vadym Prystaiko mengungkapkan pembicaraan soal gugatan tersebut akan dilakukan pada Kamis (16/1). Dia mengaku, kelima negara tersebut sudah membuat grup yang terdiri dari para menlu dari lima negara yang tengah berduka ini.

"Di 16 Januari kami akan bertemu secara personal di London untuk berdiskusi, cara, termasuk hukum, bagaimana kami mem-follow up ini, bagaimana kami menghukum mereka (Iran)," katanya dalam wawancara Reuters, seperti dikutip CNBCIndonesia.com, Rabu (14/1).

Sebelumnya pesawat Ukraine International Airlines jatuh beberapa saat setelah take off. Sebanyak 176 penumpang tewas dalam peristiwa yang terjadi 8 Januari dini hari itu.

Tuduhan kepada Iran pun mengemuka. Pasalnya kejadian ini terjadi tepat di saat Iran meluncurkan serangan balik ke AS dengan menembakkan rudal ke dua pangkalan militer pasukan koalisi di Irak.

Perdana Menteri Kanada, Justin Trudeau merupakan orang pertama yang mengatakan Iran bertanggung jawab pada kecelakaan itu. Ia merujuk data intelijen.

Meski membantah, Iran akhirnya mengakui hal ini. Presiden Hassan Rouhani mengatakan telah terjadi kesalahan manusia dan berduka atas peristiwa yang juga menyelakakan warga Iran itu.

Sementara itu, dalam sebuah wawancara, sebagaimana dilansir dari AFP, Trudeau mengatakan bahwa para korban masih akan hidup dan berada di rumah dengan keluarga mereka, jika tidak ada ketegangan di wilayah tersebut.

"AS membuat keputusannya. Kami berusaha untuk bekerja sebagai komunitas internasional dalam masalah besar. Tetapi terkadang negara mengambil tindakan tanpa memberitahu sekutu mereka," katanya, seperti dilansir dari Reuters, Selasa (14/1). [cnbc]

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...