Skip to main content

MA: Hukuman Mati Tidak Melanggar Kekuasaan Tuhan

MA: Hukuman Mati Tidak Melanggar Kekuasaan Tuhan
MA: Hukuman Mati Tidak Melanggar Kekuasaan Tuhan

WinNetNews.com - WN Prancis Serge Atlaoui dan WN Belanda Nicolas Garnick Josephus Garardus memohon hukuman matinya dianulir dengan dalih hanya Tuhan yang berhak mencabut nyawa mereka. Keduanya merupakan anggota komplotan pabrik narkoba terbesar ketiga di Asia.

Tapi alasan tersebut ditolak mentah-mentah oleh Mahkamah Agung (MA).

"Hakim dalam menjatuhkan pidana mati tidak melanggar kekuasaan Tuhan sepanjang pemeriksaan perkara dilakukan secara tepat, benar, jujur, objektif dan adil. Judex juris (Pengadilan Negeri-Pengadilan Tinggi) telah menjalankan amanat atau perintah undang-undang. Di negara Republik Indonesia, pidana mati tidak melanggar hukum, konstitusi, UUD 1945 maupun HAM," putus majelis sebagaimana dikutip dari website MA, Jumat (26/2/2016).

Mereka berdua dengan 7 orang lainnya dihukum mati karena membangun pabrik narkoba terbesar ketiga di Asia di Tangerang pada 2005. Lokasi pabrik ini sempat ditinjau langsung oleh Presiden SBY dengan bukti ribuan ton bahan baku dan 128 kg sabu siap pakai.

"Serge berperan sebagai teknisi dan melakukan pengawasan dan perbaikan mesin-mesin pabrik yang digunakan untuk mengolah dan memproduksi narkotika. Adapun Nicolas sudah 7 kali datang ke Indonesia untuk melaksanakan tugas dan perannya meracik bahan kimia hingga akhirnya menjadi narkotika jenis sabu," papar majelis mengurai peran masing-masing terpidana dengan ketua majelis hakim agung Dr Artidjo Alkostar dengan anggota hakim agung Prof Dr Surya Jaya dan hakim agung Dr Suhadi.

Tujuh orang yang dihukum mati di kasus itu adalah:

  1. Benny Sudrajat alias Tandi Winardi
  2. Iming Santoso alias Budhi Cipto
  3. WN China Zhang Manquan
  4. WN China Chen Hongxin
  5. WN China Jian Yuxin
  6. WN China Gan Chunyi
  7. WN China Zhu Xuxiong
Benny yang juga Ketua 'Tangerang Nine' tidak kapok meski dihukum mati. Ia di LP Pasir Putih, Nusakambangan, tetap leluasa mengendalikan pembangunan pabrik narkoba di Pamulang, Cianjur dan Tamansari. Ia memanfaatkan dua anaknya yang masih bebas. Benny lalu diadili lagi oleh pengadilan dan karena sudah dihukum mati maka ia divonis nihil.

Serge sempat akan dieksekusi mati pada 2015 tetapi tiba-tiba Jaksa Agung Prasetyo menundanya.

"Perbuatan Nicolas dan Serge dilakukan secara terstruktur yaitu ada pemilik dan pemimpin kegiatan yaitu Benny Sudrajat selaku pemilik PT Sumaco bersama dengan Iming Santoso selaku direktur. Serta ada putugas lapangan dan ada tenaga teknisi (Serge) serta ahli racik (Nicolas)," pungkas majelis.

disadur dari situs detik news

Apa pendapat Anda mengenai artikel ini?

Loading Rating...

Komentar:

Loading...
Top