Mahasiswa Jepang Ini Dapat Pujian Dosen karena Kumpulkan Lembaran Tugas Kosong

Nurul Faradila
Nurul Faradila

Mahasiswa Jepang Ini Dapat Pujian Dosen karena Kumpulkan Lembaran Tugas Kosong Sumber: odditycenter

Winnetnews.com - Ketika sedang ujian, para mahasiswa diwajibkan untuk mengumpulkan kertas ujian mereka yang sudah terisi dengan jawaban yang benar. Berbeda dengan mahasiswa lainnya, seorang mahasiswa yang mempelajari sejarah ninja dipuji oleh dosennya karena ia mengumpulkan kertas ujian yang kosong. Padahal sebenarnya, ia telah diminta untuk menuliskan sebuah essay mengenai ninja.

Ninja dikenal dengan operasi rahasianya, jadi Eimi Haga, mahasiswa fakultas Sejarah Ninja di Mie University diminta oleh profesornya untuk membuat essay tentang kunjungan mereka ke Ninja Museum of Igaryu.

Mahasiswa ini pun memilih untuk membuat sesuatu yang merefleksikan kecintaannyapada ninja. Selain itu, sang dosen pun sempat mengatakan akan memberikan nilai tambahan untuk murid yang kreatif, jadi ia memiliki motivasi yang lebih untuk membuat tugasnya beda dari yang lain.

Essay wanita ini sangat bagus, hingga membuat dosennya kagum untuk beberapa saat.

“Ketika profesor mengatakan di kelas kalau ia akan memberikan nilai tinggi untuk kreatifitas, aku memutuskan kalau aku akan membuat essayku berbeda dari yang lain,” ujar Eimie seperti dikutip dari Odditycentral.

“Aku memikirkannya sejenak, dan mendapatkan ide mengenai aburidashi,” imbuhnya.

Aburidashi adalah sebuah cara tradisional masyarakat Jepang untuk bertukar informasi secara rahasia pada zaman dahulu. Mahasiswa yang sudah sangat menyukai ninja sejak ia menonton anime ketika kecil, menghabiskan waktunya berhari-hari untuk mempelajari teknik dan selama berjam-jam membuat tinta tak kasat mata dari kedelai.

Wanita berusia 19 tahun ini merendam kedelai selama semalaman, menghancurkannya dan menyaring sarinya. Kemudian ia mencampurkannya dengan air. Eimi mengatakan kalau ia menghabiskan waktu cukup lama untuk menemukan komposisi yang tepat dan menggunakan kuas untuk menulis essaynya di kertas Jepang “washi”.

Saat ia mengumpulkan tugasnya dalam keadaan kertas yang masih kosong, sang profesor sempat terkejut.

“Aku pernah melihat laporan yang ditulis dengan kode, tapi tidak pernah melihatnya dalam bentuk aburidashi,” kata Profesor Yuji Yamada.

“Jujur saja, aku memiliki keraguaan tulisannya akan terbaca dengan jelas. Tapi saat aku mengahangatkannya di atas kompor di rumah, tulisan pun mulai bermunculan dengan jelas dan aku berpikir 'Luar biasa!',” tambahnya.

Yamada memilih untuk tidak membaca seluruh essay, ia malah meninggalkan sebagian kertas tidak dipanaskan agar media dapat mengetahui bagaiamana sebelum dan sesudah dipanaskan.

Namun ia tetap memberikan Eimi nilai yang tinggi karena kreatifitasnya, seperti yang ia janjikan. Menulis dengan teknik aburidashi merupakan keinginan sang profesor sejak ia berusia 19 tahun, tetapi belum sempat tercapai.

Apa Reaksi Kamu?