Skip to main content

Manusia Gerobak yang Melahirkan Bayi di Gerobak & Membakarnya

Manusia Gerobak yang Melahirkan Bayi di Gerobak  Membakarnya
Manusia Gerobak yang Melahirkan Bayi di Gerobak Membakarnya

WinNetNews.com - Di keremangan malam, Ratna Sari berjuang dengan maut melahirkan bayinya di dalam gerobaknya. Ditemani sang suami, Setio Puji Rahardjo (51) bayi itu lahir dan terjatuh dari gerbak ke tanah. Ratna pingsan dan sang bayi meninggal dunia.

Sebuah emperan ruko mebel di Jalan Otista Raya, Jakarta Timur (Jaktim) menjadi saksi bisu pada 27 Februari 2015 lalu. Darah berceceran di sekitar gerobak dan Setio buru-buru mengelap dengan sarung lusuh. Tidak ada penerangan, selain dari cahaya lampu kendaraan yang mulai menyepi. Hanya berteman sunyi, sang jabang bayi itu langsung meninggal begitu menghirup udara.

"Rat, anaknya mati," kata Setio kepada istrinya setelah Ratna siuman.

Bayi yang meninggal itu adalah hasil hubungan sah di antara mereka setelah menikah gratis di KUA pada 2013. Pasutri Setio-Ratna merupakan satu dari sekian banyak manusia gerobak di Jakarta. Mereka menjadikan gerobak tersebut sebagai rumah, tempat mata pencaharian, tempat berlindung dari hujan dan hawa dingin sekaligus tempat mencari penghidupan. Dengan gerobaknya, ada kalanya mereka memulung keliling Jakarta atau menjual buah-buahan menjajakan ke pelosok-pelosok ibu kota.

Setio menarik gerobak, Ratna mendorongnya. Tidak ada rumah, tidak ada alamat.

Kelahiran sang bayi yang meninggal dunia ini membuat mereka kebingunan. Bagaimana menghilangkan jejak si jenazah bayi. Setio lalu memasukkan ke dalam kardus air mineral dan keesokannya dimasukkan ke dalam karung. Ratna hanya bisa rebahan di gerobaknya sambil terus menahan sakit pascamelahirkan.

Dua hari setelahnya, Setio tiba-tiba membuang karung berisi jenazah bayi ke tumpukan sampah di sudut pojok bawah jembatan tol Cawang. Setio mengambil korek api dan membakar tumpukan sampah tersebut, berharap si jabang bayi ikut terbakar sehingga tidak menyisakan jejak. Istrinya kaget dan segera mengguyur tumpukan sampah tersebut. Namun setengah badan bayi sudah habis terlalap api.

Dua hari berlalu, karung bayi yang dibakar itu dibiarkan teronggok di atas tumpukan sampah. Hingga seorang anak menemukan karung tersebut dan segera memberitahu satpam gedung yang paling dekat dengan lokasi tumpukan sampah tersebut. Kasus ini lalu segera dilaporkan ke Polsek Jatinegara dan disidangkan secara terpisah.

Atas perbuatan Ratna, jaksa mendakwa Ratna dengan Pasal 80 ayat (4) UU No 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dan Pasal 181 KUHP tentang Penghilangan Mayat. Jaksa lalu menuntut Ratna selama 9 bulan penjara atau sesuai ancaman maksimal dalam Pasal 181 KUHP itu.

Permohonan jaksa dikabulkan. Pada 9 April 2015, Pengadilan Negeri Jakarta Timur (PN Jaktim) menjatuhkan hukuman 7 bulan penjara kepada Ratna. Adapun suaminya, Setio, dihukum 9 bulan penjara.

Atas vonis Setio ini, jaksa mengajukan banding dan bersikukuh si pemulung malang itu harus dihukum 6 tahun penjara sesuai tuntutannya. Menurut jaksa, Setio memenuhi unsur Pasal 80 ayat 4 UU Perlindungan Anak. Setio memenuhi unsur:

Setiap Orang dilarang menempatkan, membiarkan, melakukan, menyuruh melakukan, atau turut serta melakukan Kekerasan terhadap anak. Dalam hal anak sebagaimana dimaksud pada ayat 2 mati, maka pelaku dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 tahun dan/atau denda paling banyak Rp 3 miliar. Pidana ditambah sepertiga dari ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), dan ayat apabila yang melakukan penganiayaan tersebut orang tuanya.

Tapi apa kata majelis tinggi? Ketua majelis Heru Mulhono Ilwan dengan anggota Elnawasih dan Panusunan Harahap berkeyakinan jika Setio hanya bersalah menyembunyikan kematian, bukan sebagaimana diatur dalam UU Perlindungan Anak itu.

"Tidak dapat menerima pemohonan banding jaksa," demikian putus Pengadilan Tinggi (PT) Jakarta sebagaimana dikuktip website Mahkamah Agung (MA), Rabu (13/1/2016). Permohonan banding tidak diterima karena diajukan melebihi waktu yang diberikan yaitu 7 hari.

Dilansir dari laman detik

Apa pendapat Anda mengenai artikel ini?

Loading Rating...

Komentar:

Loading...
Top