Marak Penipuan Daring Via Instagram, Cek Lagi Ya Akun Penjualnya!
Ilustrasi. (Foto: India TV News)

Marak Penipuan Daring Via Instagram, Cek Lagi Ya Akun Penjualnya!

Selasa, 14 Jul 2020 | 15:35 | Khalied Malvino

Winnetnews.com -  Penipuan daring di masa pandemi virus corona kian marak. Padahal, banyak orang yang hingga kini masih memaksimalkan waktu serta menghemat tenaga di saat Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di beberapa wilayah.

Namun hal tersebut justru dimanfaatkan para penjahat dengan melakukan tindakan kriminalitas siber atau cyber crime. Lengkap dengan peralatan mutakhir, para penjahat siber ini beroperasi menggunakan berbagai cara untuk menguras isi dompet konsumen, salah satunya dengan berkedok toko daring.

Selain sederet eCommerce yang banyak memberikan promosi dan kelebihan, rupanya platform Instagram menjadi ajang para penjahat siber melakukan aksinya. Berbagai cara dilakukan di platform yang kini tengah banyak dikunjungi penikmat media sosial.

Melansir CNBC Indonesia, Selasa (14/7), belum lama ini salah satu pengguna Instagram Dinda Audriene baru tertipu ketika membeli baju di sebuah online shop dengan akun @XXXX.id. Awalnya dia tertarik pada produk di toko tersebut karena ada iklan dari Instagram (Instagram Ads).

Ketika di-klik maka akan langsung diarahkan pada halaman instagram toko tersebut, namun pemesanan dilakukan melalui nomor WhatsApp yang tertera di keterangan akun tersebut.

Setelah memilih barang dan bertransaksi, keesokan harinya Dinda menerima telepon yang mengaku sebagai pihak Bea & Cukai yang ingin menanyakan terkait pengiriman pakaian wanita. Ketika itu Dinda sedang sibuk dengan pekerjaannya, sehingga telpon tersebut sempat tidak terjawab.

Ketika akhirnya dijawab, dengan nada marah penelpon menyatakan dirinya dari pihak Bea Cukai dan barang yang dipesan oleh Dinda merupakan barang ilegal, dan sebagai pembeli maka dia bisa dibilang sebagai penadah.

Dinda pun bingung, karena dia hanya melakukan pemesanan baju di online shop instagram tersebut dan barang dibeli disebutkan custom yang artinya harus dijahit terlebih dulu, bukan impor.

Dia pun menghubungi admin XXXX.id untuk menanyakan kepastian dari telepon tersebut, malahan dibenarkan bahwa telepon tersebut dari bea dan cukai dan menyarankan untuk bicara dengan owner toko untuk menanyakan kejelasan dari barang tersebut.

Dinda pun merasakan keanehan, karena menghubungi nomor yang disebutkan sebagai pemilik toko pun tidak mendapatkan balasan, dan pihak yang mengaku bea cukai pun menelpon menggunakan telepon WhatsApp.

"Lalu saya bingung, apa yang dibeli adalah barang ilegal. Terus kenapa harus kontak ownernya, karena ownernya tidak bisa dihubungi juga. Barulah saya sadar kalau mereka satu kesatuan menipunya," katanya.

Kemudian Dinda pun melakukan pengecekan, dan tertanya toko tersebut sebelumnya bernama @XXXXXhoppe.id dan banyak cerita dari korban yang ditipu. Bahkan kemudian nomor Dinda diblok oleh admin toko tersebut, dan juga ownernya. Barang yang dibeli dengan nominal sekitar Rp 500.000 ke rekening Mandiri atas nama XXXXXhoppe.id, tidak pernah sampai.

Hingga saat ini toko tersebut masih ada di Instagram, dengan 18,4 ribu pengikut, dan masih aktif posting barang dagangannya. Namun dari 18 ribu pengikut tersebut jika diperhatikan jumlah "likes" di setiap postingan hanya 1-2 likes, bahkan banyak yang tidak ada likes-nya, kolom komentar pun dibatasi sehingga tidak ada yang bisa memberikan komentar.

Jika dilihat sekilas toko tersebut memang kesannya asli, karena ada highlights testimoni dari pembelinya, meski sebagian besar merupakan bukti transfer dari berbagai rekening bank yang cukup banyak dengan kisaran nominal Rp 300-700 ribu, bayangkan jika semuanya adalah pembeli yang ternyata barangnya tidak pernah sampai alias yang tertipu.

Bahkan toko ini sampai memasang Instagram ads untuk memasarkan dagangannya, sehingga kesannya kredibel dan terpercaya. Namun ternyata untuk memasang iklan di Instagram tidaklah sulit dan mahal, dan bisa dimulai dari Rp 14.500 per hari.

Untuk lima hari total biaya yang dikeluarkan hanya Rp 100.000 dengan post engagement 100-289, dan untuk 30 hari biayanya Rp 432.360. Biaya ini "murah" dibandingkan dengan harga produk yang dijual, dan jumlah pembeli yang ternyata tertipu.

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...