(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Mari Berkelana ke Dua Wisata Alam Tersembunyi di Jawa Barat

Oky
Oky

Mari Berkelana ke Dua Wisata Alam Tersembunyi di Jawa Barat Sumber Foto : Istimewa

Winnetnews.com - Jawa Barat memang dikenal sebagai salah satu provinsi yang memiliki banyak wisata alam yang indah dengan hawanya yang sejuk. Tak heran, kalau Jawa Barat selalu ramai dikunjungi para wisatawan baik dalam negeri maupun mancanegara.

Memilih Jawa Barat sebagai tujuan liburan akan memberikan kamu banyak pengalaman yang menarik dan berkesan. Meski Jawa Barat sudah banyak memiliki wisata alam yang populer tetapi ternyata ada dua tempat terindah yang jarang wisatawan ketahui yaitu Pulau Rakit atau yang sering dikenal dengan sebutan Pulau Biawak dan Situs Gunung Padang.

Kalau kamu memiliki jiwa petualang, tentunya kalian ingin tahu lebih banyak mengenai dua wisata alam tersebut kan?

  1. Pulau Biawak



    Pulau Biawak merupakan kepulauan yang terletak di Laut Jawa. Disebut kepulauan karena ada tiga pulau di kawasan ini, yakni Pulau Biawak, Pulau Candikian, dan Pulau Gosong. Pulau Biawak terletak di Desa Pabean Ilir,  Kecamatan Indramayu, dengan jarak tempuh sekitar 28 mil laut atau sekitar 40 kilometer dari pantai utara Tirtamaya Indramayu. Beberapa wisatawan menyebutkan, pulau ini masih sangat terjaga kebersihanya sehingga banyak  yang mau menjelajahi eksositem pulau ini.

    Yang menjadi keunggulan pulau ini adalah di kelilingi oleh karang yang seakan menjadi benteng penahan ganasnya ombak. Di bibir pantai bagian selatan dan utara terdapat karang yang membentang selebar 200 meter dari bibir pantai. Sedangkan di bagian barat dan timur memiliki karang yang lebih besar mencapai lebar 300 meter. Pulau ini juga dikenal dengan sebutan Pulau Menyawak dan Pulau Bompys.



    Disini wisatawan dapat melakukan snorkeling, diving, memancing dan berpetualang. Tak hanya itu, di pulau ini terdapat sebuah mercusuar yang didirikan oleh pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1872 dan sampai saat ini masih digunakan untuk memandu kapal – kapal yang melintas di sekitaran Pulau Biawak. menara ini memiliki ketinggian 67 meter. untuk dapat sampai ke wisata Pulau Biawak ini, anda dapat melalui dari pelabuhan di Indramayu dengan menggunakan perahu nelayan berkapasitas 10 orang dengan biaya 750.000 ribu rupiah dengan waktu jarak tempuh perjalanan dengan  waktu selama 4 jam perjalanan.

  2. Gunung Padang

    Situs Gunung Padang merupakan situs prasejarah peninggalan kebudayaan Megalitikum di Jawa Barat. Tepatnya berada di perbatasan Dusun Gunungpadang dan Panggulan, Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur. Lokasi dapat dicapai 20 kilometer dari persimpangan kota kecamatan Warungkondang, dijalan antara Kota Kabupaten Cianjur dan Sukabumi. Di dalam situs Gunung Padang konon terdapat sebuah ruangan besar yang disebut-sebut berusia sekitar 10.000 tahun sebelum Masehi.



    Laporan pertama mengenai keberadaan situs ini dimuat pada Rapporten van de Oudheidkundige Dienst (ROD, "Buletin Dinas Kepurbakalaan") tahun 1914. Sejarawan Belanda, N. J. Krom juga telah menyinggungnya pada tahun 1949. Setelah sempat "terlupakan", pada tahun 1979 tiga penduduk setempat, Endi, Soma, dan Abidin, melaporkan kepada Edi, Penilik Kebudayaan Kecamatan Campaka, mengenai keberadaan tumpukan batu-batu persegi besar dengan berbagai ukuran yang tersusun dalam suatu tempat berundak yang mengarah ke Gunung Gede. Selanjutnya, bersama-sama dengan Kepala Seksi Kebudayaan Departemen Pendidikan Kebudayaan Kabupaten Cianjur, R. Adang Suwanda, ia mengadakan pengecekan. Tindak lanjutnya adalah kajian arkeologi, sejarah, dan geologi yang dilakukan Puslit Arkenas pada tahun 1979 terhadap situs ini.



    Luas situs Gunung Padang itu diperkirakan mencapai 10 kali luas Candi Borobudur di Jawa Tengah. Luas bangunan purbakalanya sekitar 900 m2 dengan luas areal situs kurang lebih 25 hektar dengan tinggi 110 meter. Punden berundak Gunung Padang dibangun dengan batuan vulkanik masif yang berbentuk persegi panjang. Bangunan pundek berundak situs Gunung Padang terdiri dari lima. Balok-balok batu yang jumlahya sangat banyak itu tersebar hampir menutupi bagian puncak Gunung Padang. Penduduk setempat menjuluki beberapa batu yang terletak di teras-teras itu dengan nama-nama berbau Islam. Misalnya meja Kiai Giling Pangancingan, Kursi Eyang Bonang, Jojodog atau tempat duduk Eyang Swasana, sandaran batu Syeh Suhaedin alias Syeh Abdul Rusman, tangga Eyang Syeh Marzuki, dan batu Syeh Abdul Fuko.

    Bentuk bangunan punden berundak situs Gunung Padang mencerminkan tradisi megalitik (mega berarti besar dan lithos artinya batu) seperti banyak dijumpai di beberapa daerah di Jawa Barat. Di kalangan masyarakat setempat, situs tersebut dipercaya sebagai bukti upaya Prabu Siliwangi membangun istana dalam semalam.

    Lokasi situs berbukit-bukit curam dan sulit dijangkau. Kompleksnya memanjang, menutupi permukaan sebuah bukit yang dibatasi oleh jejeran batu andesit besar berbentuk persegi. Situs itu dikelilingi oleh lembah-lembah yang sangat dalam. Tempat ini sebelumnya memang telah dikeramatkan oleh warga setempat. Penduduk menganggapnya sebagai tempat Prabu Siliwangi, raja Sunda, berusaha membangun istana dalam semalam.

Yuk, kenali dan cintai wisata alam di Jawa Barat!

 

 

Ditulis oleh Lucky nandia deriska

Mahasiswi London School of Public Relations

Apa Reaksi Kamu?

(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});