(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Mata Uang Asia Masih Dibayangi Suku Bunga The Fed

Muchdi
Muchdi

Mata Uang Asia Masih Dibayangi Suku Bunga The Fed

WinNetNews.com - Performa USD yang gemilang di sepanjang tahun 2015 menenggelamkan mata uang Asia. Dari sejumlah mata uang, kinerja ringgit Malaysia paling jeblok. Sementara yen Jepang menjadi mata uang Asia paling mengkilap.

Data Bloomberg pada Senin (4/1/2015) pukul 17.15 WIB memperlihatkan, pairing USD/IDR senilai 13.943. Lalu pasangan USD/SGD senilai 1,4227, USD/MYR 4,3470. Sedangkan pukul 16.25 WIB, USD/JPY senilai 119,00, USD/CNY senilai 6,5313 dan USD/KRW senilai 1.187,63.

Sepanjang tahun 2015, USD/MYR melambung paling tajam yakni 22,78 persen. Disusul USD/IDR dengan penguatan 11,30 persen, USD/KRW sebesar 7,7 persen, USD/SGD sebanyak 7,01 persen. Sedangkan USD/CNY hanya naik 4,6 persen dan USD/JPY hanya menguat tipis 0,0030 persen.

 

Tahun 2016, mata uang Asia diprediksi masih akan tertekan di tengah rencana kenaikan suku bunga The Fed.

- Ringgit Malaysia

Suluh Adil Wicaksono, Analis PT Millenium Penata Futures, mengatakan, pelemahan ringgit Malaysia juga disebabkan oleh kisruh yang melanda Negeri Jiran pertengahan tahun lalu. Di tengah gempuran keperkasaan USD, terjadi gejolak, dipicu dugaan korupsi Perdana Menteri Malaysia, Najib Razak.

“Tadinya pergerakan RM sejalan dengan mata uang Asia lainnya, namun sejak Juli 2015, penurunan RM kian signifikan,” kata Suluh.

USD/MYR mencapai level tertinggi sejak Desember 2004 di 4,4570 pada 29 September 2015.

Suluh memprediksi, pelemahan ringgit akan berlanjut, terutama kuartal I-2016. Pasar berspekulasi, The Fed kembali menaikkan suku bunga di bulan Maret. Tahun ini, ia memprediksi USD/MYR bergerak di 4,1000–4,4250.

- Rupiah Indonesia

Sementara USD/IDR melesat karena tingginya spekulasi pasar atas kenaikan suku bunga The Fed. Pasangan mata uang ini menyentuh posisi tertinggi sejak Juli 1998 pada 25 September 2015 atau sepekan menjelang rapat Federal Open Market Committee (FOMC) menjadi 14.693. 

 

“Namun pelemahan tidak setajam RM karena pemerintah dan BI (Bank Indonesia) terus melakukan beragam kebijakan yang menjadi tameng bagi rupiah,” jelas Suluh.

Tahun lalu, sebanyak delapan paket kebijakan ekonomi dirilis untuk merangsang pertumbuhan ekonomi Indonesia.

“Iklim pemerintahan Indonesia juga lebih stabil karena pasar percaya dan berharap banyak pada rencana-rencana pemerintahan Jokowi,” ujar Suluh.

Ia memprediksi, rupiah akan kembali bergerak melemah di tahun ini di kisaran 13.200–14.500.

- Dollar Singapura

Lain cerita dengan dollar Singapura. Dengan kondisi ekonomi dan politik yang lebih stabil, SGD tidak tertekan dalam.

“Pelemahan memang tidak terhindarkan, karena USD yang menguat tajam, bukan karena SGD buruk,” ungkap Suluh.

Kisaran pertumbuhan ekonomi Singapura 2015 hanya sekitar 2 persen-2,5 persen. “Karena berkaca pada PDB Singapura di kuartal II-2015 memang merosot,” kata Suluh.

 

Pada kuartal III, spekulasi kenaikan suku bunga The Fed juga memukul performa SGD. Lihat saja, USD/SGD pada 2 Oktober 2015 melesat ke level 1,4328 atau tertinggi sejak September 2009.

Tahun ini menurut Suluh, penguatan SGD, IDR dan MYR tak signifikan, sebab masih terpengaruh perlambatan ekonomi. Tapi paling tidak, jikapun turun tak sedalam tahun 2015. Harapan ini datang jika yuan resmi masuk ke keranjang special drawing rights (SDR).

Dengan demikian, USD tidak lagi menjadi satu-satunya acuan yang digunakan dalam perdagangan. Suluh menduga, pergerakan USD/SGD di tahun 2016 antara 1,3500–1,4450.

- Yen Jepang

Wahyu Tri Wibowo, analis Central Capital Futures, mengatakan, yen melemah tipis di tengah perbedaan kebijakan ekonomi. Saat The Fed mulai mengetatkan kebijakan, Bank Sentral Jepang (BoJ) justru membuka sinyal untuk menambah stimulus. “Jika dilihat tiga tahun ke belakang, yen lebih buruk dibanding yuan dan won,” ujarnya.

 

Sementara tahun ini, JPY paling stabil karena diuntungkan oleh perannya sebagai mata uang carry trade serta safe haven. Mata uang carry trande akan menguat ketika harga saham berjatuhan.

Sebagai safe haven, yen juga dicari saat saham jatuh atau terjadi konflik. Yen masih bisa melemah. Tapi jika terjadi krisis ekonomi global, yen memiliki peluang menguat. Tahun ini, prediksi Wahyu, USD/JPY bergerak di kisaran 112–128.

- Yuan China

Hal serupa terjadi pada mata uang yuan. Stimulus ekonomi Bank Sentral China (PBoC) membuat yuan tergerus di depan USD. Namun penurunan tidak cukup dalam mengingat AS sendiri turut menjaga penguatan mata uang Negeri Panda.

 

Maklum, China menguasai sebagian besar obligasi AS sehingga turunnya mata uang yuan akan turut memberi sentimen negatif pada USD. Sementara dari China sendiri justru menginginkan mata uangnya melemah agar ekspor negara tersebut lebih kompetitif. “Tahun ini mata uang yuan termasuk stabil,” imbuh Wahyu. Prediksinya, USD/CNY di 6,1000–6,800.

- Won Korea Selatan

Pelemahan mata uang won di antaranya terjadi karena Bank of Korea (BoK) menahan suku bunga acuan selama enam bulan berturut-turut di level 1,5 persen, meski ekonomi mulai membaik.

Rata–rata suku bunga Korea Selatan tahun 1999 hingga 2015 adalah 3,52 persen.

“Kenaikan suku bunga The Fed juga menyeret won,” kata Wahyu. Wahyu juga memperkirakan, won kembali tertekan. The Fed bakal kembali menaikkan suku bunga.

Di sisi lain, belum ada sinyal pelonggaran ekonomi Korea Selatan. Prediksinya, USD/KRW bergerak di 1.000–1.400.

sumber dari kompas, Jakarta

(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});