Mau Tahu Kenapa Tetap Merasa Lelah Walau Hanya Rebahan saja di Rumah? Ini Alasannya
ilustrasi lelah (  Thinkstockphotos )

Mau Tahu Kenapa Tetap Merasa Lelah Walau Hanya Rebahan saja di Rumah? Ini Alasannya

Sabtu, 18 Apr 2020 | 12:25 | Muchdi

Winnetnews.com -  Masa berdiam diri di rumah membuat kita lebih banyak tidur dan rebahan setiap harinya. Namun hal ini tak serta merta membuat kita menjadi bisa bangun dengan segar setiap hari.

Pada sat ini, walau sering tidur dan rebahan, seseorang malah lebih sering terbangun dalam rasa lelah. Mengapa hal ini bisa terjadi?

Hal yang kerap dialami ketika terbangun saat ini adalah rasa capek dan pening ketika membuka mata. Padahal, beberapa orang sudah bangun lebih siang dari biasanya dan merasa sudah cukup tidur.

Kondisi belum sepenuhnya tersadar saat bangun ini kerap disebut 'belum penuh' atau 'belum on'. Dilansir dari The Independent, kondisi ini sendiri secara ilmiah disebut sebagai inersia tidur.

"Kondisi ini terjadi pada fase antara tidur dan terbangun pada saat seseorang belum benar-benar merasa bangun. Seseorang yang terdampak merasa berat, sulit berpikir jelas, alami disorientasi, serta bertingkah aneh beberapa waktu setelah terbangun," terang Dr Natasha Bijlani, psikiater konsultan di Priory Hospital Roehampton.

Matthew Walker, profesor neuroscience dan psikologi dari University of California mengatakan bahwa kondisi 'belum penuh' ini bisa terjadi karena berbagai alasan. Dia mengatakan bahwa bahwa hal ini terjadi ketika seseorang tidur tidak sesuai dengan kebiasaan, tidur kurang lama, tidur kurang nyenyak, atau mengalami masalah gangguan tidur.

Mengapa Lebih Banyak Orang Merasa 'Belum Penuh' Saat Bangun Sekarang?

Menurut Colin Espie, profesor bidang tidur dari University of Oxford, banyaknya orang yang mengalami hal ini disebabkan karena menurunnya paparan cahaya alami. Hal ini bisa terjadi karena banyak orang yang kurang berjemur dan hanya di rumah saja dalam waktu yang lama.

"Cahaya matahari merupakan sinyal biologis utama pada kondisi terjaga," terang Espie.

Oleh karena itu, kurangnya paparan cahaya matahari atau cahaya luar ruangan bisa membuat seseorang jadi kurang awas sepanjang hari. Cahaya yang diperoleh dari luar ruangan ini tidak bisa dibandingkan dengan cahaya dari dalam ruangan.

Kecemasan Juga Bisa Jadi Penyebab

Dr. Bijlani mengungkap bahwa faktor signifikan lain yang bisa berdampak adalah kecemasan. Hal ini secara khusus berupa kecemasan terhadap kualitas tidur di malam sebelumnya. Ketika seseorang cemas terhadap hal ini, mereka bisa terbangun dengan keadaan kurang menyenangkan dan merasa 'tidak penuh' seharian.

Kecemasan terhadap kondisi pandemi saat ini juga menjadi hal yang berpengaruh pada berbagai aspek kehidupan. Sebelumnya, hal ini diketahui telah menyebabkan munculnya mimpi buruk pada banyak orang serta meningkatnya masalah stres.

Walker menerangkan bahwa rasa cemas bisa berdampak pada kualitas tidur seseorang. Hal ini bisa membuat orang tidak bisa benar-benar lelap dan merasa teerjaga.

"Kita tahu bahwa ketika seseorang cemas, mereka tidak dapat tidur dengan lelap," jelas Walker.

"Jadi ketika kamu merasa cemas pada hari sebelumnya, hal ini berujung buruknya kualitas tidur di malam hari dan sayangnya hal ini bakal terus berulang," sambungnya.

Banyaknya pemberitaan mengenai COVID-19 saat ini juga disebut Espie membuat banyak orang dalam kondisi waspada dan merasa tiada tertolong. Hal ini selanjutnya menyerap energi milik mereka.

Lebih lanjut, berada di rumah sepanjang waktu juga bisa menjauhkan seseorang dari rutinitas biasanya. Padahal, rutinitas ini merupakan hal penting yang membuat seseorang terjaga dan merasa siap mengawali hari.

 

 

 

 

 

 

Artikel ini telah tayang di Merdeka.com dengan judul "Mengapa Kita Tetap Merasa Lelah Walau Hanya Rebahan saja di Rumah?"

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...