Media Harus Jaga Etika Dalam Memberitakan Soal Terorisme

Media Harus Jaga Etika Dalam Memberitakan Soal Terorisme

Senin, 18 Jan 2016 | 12:39 | Muhammad Takdir
WinNetNews.com -  Remotivi menilai pemberitaan bom Sarinah oleh sejumlah stasiun televisi dan media online di Indonesia cenderung hanya mengedepankan unsur sensasional dan mengabaikan etika. Pusat Studi Media dan Komunikasi tersebut mencontohkan visual tragedi bom Sarinah yang ditampilkan secara mentah-mentah dan tanpa diburamkan di televisi, pun di media online lebih mengedepankan unsur dramatisasi.

Direktur Remotivi Muhamad Heychael menyatakan, setelah ledakan di pos polisi di lampu merah perempatan Sarinah, mayat orang yang diduga pelaku terorisme tergeletak di pinggir jalan. Stasiun televisi langsung menangkap ini sebagai visual menarik yang mesti segera ditampilkan. Benar saja, TV One, Indosiar, dan INews TV segera menggunakan gambar mayat tersebut sebagai berita. Sayangnya, visual tersebut ditampilkan secara mentah-mentah dan tanpa diburamkan.

“Hal itu tidak hanya melanggar aturan Pedoman Perilaku Penyiaran/Standar Program Siaran KPI yang telah mengatur tentang peliputan terorisme, visual yang vulgar semacam itu juga abai pada etika jurnalistik dan tidak sensitif pada korban dan juga penonton,” kata dia dalam siaran persnya, Sabtu (16/1).

 

Pada konteks ini, Remotivi mengapresiasi kerja Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) yang segera mengeluarkan sanksi pada televisi yang terbukti melanggar P3SPS (Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran). Langkah cepat KPI setidaknya bisa menjadi peringatan pada media-media yang pada hari-hari ke depan hendak menggunakan sensasi yang sama sebagai strategi mendulang rating.

Sayangnya, kata dia, langkah KPI ini tidak diikuti oleh Dewan Pers. Pasalnya, gaya pemberitaaan sensasional tidak eksklusif terjadi di televisi, namun juga media online. Sensasionalisme pada media online bisa dilihat dari pemberitaan JPNN misalnya, “NGERI! Masih Ada Lima Bom Aktif di Badan Pelaku yang Sudah Mampus Itu” dan berita “SELESAI! Pelaku Bom Sarinah Sudah Mampus Semua”.

Tempo.co bahkan sempat memuat sebuah berita dengan tajuk dan isi berita yang menyiratkan sentimen terhadap imigran “BOM SARINAH, Pelakunya Warga Asing?” Menariknya, tak seperti versi bahasa Indonesia, versi bahasa Inggris dari berita ini mengalami perubahan dengan disertai ralat.

 

Rumus lawas yang efektif mendulang klik dan pembaca ini tentu saja menyedihkan. Dari sini terlihat bahwa media lebih memikirkan keuntungannya sendiri alih-alih memperhatikan bahwa unsur dramatisasi berlebihan dalam berita-berita mereka bisa berimbas buruk dan dalam beberapa hal bisa mengamplifikasi trauma dan ketakutan yang dirasakan oleh warga.

Dalam masyarakat yang kian termediasi oleh teknologi digital, berbagai macam informasi dapat menyebar secara tak terkendali. Jurnalisme semestinya menjadi navigator untuk memandu publik dalam menyeleksi informasi yang benar. Dalam situasi teror seperti saat ini, peran jurnalisme pun diuji. Eksistensi jurnalisme di tengah publik ditentukan oleh sejauh apa media dan wartawan mampu menjadi pelita di tengah banjir informasi yang mengombang ambingkan publik dalam ketidakpastian.

Turut menebar desas desus hanya akan meningkatkan apatisme publik pada media dan wartawan, dan bukan tidak mungkin disadari atau tidak, media dan wartawan tengah mengubur jurnalisme pelan-pelan. “Karena itu, publik hendaknya tidak mudah percaya kepada berita-berita yang datang silih berganti dan kemudian ikut membagikannya secara serampangan di media sosial,” kata dia.

(seperti dilansir dari Berita Satu)

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...