(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Membandingkan MRT dan KRL Commuterline: 3 Perbedaan yang Paling Mencolok

Daniel
Daniel

Membandingkan MRT dan KRL Commuterline: 3 Perbedaan yang Paling Mencolok Foto: Daniel/Winnetnews.com

Winnetnews.com - Moda transportasi Mass Rapid Transit atau MRT sudah bisa digunakan untuk khalayak umum sejak bulan Maret 2019. Sejauh ini penumpang tidak akan dikenakan biaya alias gratis, baru pada awal April 2019 penumpang diharuskan membeli tiket untuk bisa menaiki moda transportasi teranyar Ibu Kota ini.

Lantas banyak yang mungkin masih bertanya sebenarnya apa hal yang sama sekali baru dari MRT jika dibandingkan dengan transportasi yang menggunakan kereta juga seperti kereta listrik (KRL) Comuterline?

Lebih Cepat, Lebih Mulus

Perlu digarisbawahi bahwa MRT dan KRL Commuterline memiliki fungsi yang sebenarnya berbeda, kendati sama-sama merupakan moda transportasi yang berupa kereta. Commuterline memang diperuntukkan untuk perjalanan yang jauh antarkota, sementara MRT diperuntukkan untuk perjalanan dalam kota (untuk saat ini) yang jaraknya cenderung lebih dekat ketimbang Commuterline.

Namun jika berbicara mengenai kecepatan kereta, tentu saja MRT memiliki kecepatan yang lebih unggul ketimbang Commuterline. Selain itu, ketika menggunakan MRT kereta sama sekali tidak bumpy atau berguncang jika dibandingkan dengan Commuterline yang bisa dikatakan sangat kasar.

Fasilitas Stasiun yang Sama Sekali Baru

Ketika mengunjungi stasiun MRT, kita langsung akan melihat sebuah perbedaan yang mencolok jika dibandingkan dengan stasiun kereta konvensional. Pada semua stasiun MRT sudah terpasang double door system, di mana sistem tersebut membuat pintu yang berada di peron akan terbuka selaras dengan pintu MRT.

Selain itu di sepanjang peron terpasang sebuah pembatas membentang dari ujung ke ujung. Hal yang tentu saja tidak ditemukan di stasiun kereta konvensional. Selain itu, untuk stasiun bawah tanah, pembatas yang digunakan di sepanjang peron berupa screen door. Sistem screen door ini juga akan terbuka jika pintu gerbong MRT terbuka. Di setiap peron stasiun MRT juga sudah disediakan sebuah penanda di mana penumpang harus mengantri ketika kereta datang.

Kapasitas Gerbong MRT Lebih Luas

Jika dibandingkan Commuterline, MRT memang hanya memiliki enam gerbong saja. Namun untuk satu gerbong MRT bisa diisi oleh maksimal mencapai 325 orang dengan 50 kursi duduk, sementara Commuterline hanya mampu menampung maksimal kapasitas 250 orang dengan 60 kursi duduk.

Akan tetapi meski Commuterline memiliki kapasitas maksimal lebih sedikit, jumlah gerbong yang digunakan lebih dari enam. Pada awalnya Commuterline menggunakan 8 gerbong untuk satu kereta, namun sekarang sudah ada yang menggunakan 10 dan paling banyak 12 gerbong.

 

 

 

Apa Reaksi Kamu?

(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});