Menag Fachrul Diminta Pahami Radikalisme, PKB: Jangan Urusin Cadar
Cadar atau niqab. [Foto: Samaa TV]

Menag Fachrul Diminta Pahami Radikalisme, PKB: Jangan Urusin Cadar

Jumat, 1 Nov 2019 | 09:04 | Khalied Malvino

Winnetnews.com - Polemik pelarangan penggunaan cadar kembali mencuat setelah Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi menghubungkan ideologi radikalisme dengan pakaian cadar dan celana cingkrang di kalangan Aparatur Sipil Negara (ASN).

Menyikapi pernyataan tersebut, Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Yaqut Cholil Quomas meminta Menag Fachrul memahami dan mendalami terlebih dulu ideologi radikalisme dan terorisme ketimbang mengurusi cara berpakaian masyarakat menggunakan niqab atau cadar.

"[Menag] pelajari dulu itu, apa itu radikalisme, terorisme. Berhubungan nggak sama cara berpakaian orang? Kalau tidak berhubungan, ngapain sih bikin rencana aturan yang nggak perlu," kata Yaqut saat ditemui di Kompleks MPR/DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (31/10) seperti dikutip CNNIndonesia.com.

Lebih lanjut, Ketua Umum Gerakan Pemuda (GP) Ansor itu memandang bahwa radikalisme dan terorisme tak memiliki keterkaitan dengan gaya berbusana seseorang. Ia menilai radikalisme dan terorisme merupakan sebuah ideologi yang bisa tertanam dalam pemikiran masyarakat.

image0
Ketua Umum DPP PKB, Yaqut Cholil Qoumas. [Foto: Tribunnews]

Melihat hal itu, ia menyarankan Menag untuk mengkaji terlebih dulu apakah kedua paham tersebut memiliki keterkaitan dengan gaya berbusana seseorang atau tidak.

"Menag urus soal ini dulu deh. Baru nanti kalau memang secara ideologi itu berkaitan antara radikalisme dan terorisme itu berkaitan dengan cadar, baru keluarkan peraturan itu," kata dia.

"Nah kalau kajiannya nanti nggak berhubungan gimana? Karena banyak orang yang pakai cadar itu moderat juga cara berfikirnya, bukan radikal," tambah dia.

Tak hanya itu, Yaqut menyarankan seharusnya Menag dapat saling menghargai budaya yang berkembang di tengah masyarakat Indonesia. Salah satunya adalah budaya bercadar.

Menurutnya, cara berbusana bercadar hadir dari kebudayaan Arab. Ia lantas menyatakan bahwa banyak tokoh-tokoh keturunan Arab yang sudah berjuang untuk membuat Indonesia merdeka.

"Indonesia kan dimerdekakan salah satunya oleh ras Arab juga. Sah-sah aja dong kalau ada budaya Arab, ada budaya Cina, Jawa dan lainnya. Sebaiknya saling menghargai," tandas Yaqut.

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...