Menanti 'Aksi' Jokowi di Papua
Stop rasisme terhadap masyarakat Papua. (Foto: bbc)

Menanti 'Aksi' Jokowi di Papua

Kamis, 22 Agt 2019 | 10:28 | Khalied Malvino

Luka Hati Masyarakat Papua

Sebagai gambaran, kericuhan dipicu lantaran sejumlah oknum aparat keamanan yang mengetahui bendera merah putih dirusak orang yang tidak bertanggung jawab di depan Asrama Mahasiwa Papua, Surabaya, Jawa Timur, beberapa waktu lalu. Namun, aparat yang memantau asrama tersebut malah melontarkan ucapan kebencian terhadap para mahasiswa yang tengah menempuh pendidikan di 'Kota Pahlawan' tersebut.

Rupanya ujaran kebencian yang dilakukan aparat keamanan, bahkan sebagian Organisasi Masyarakat (ormas) setempat mempunyai alasan. Sebelumnya, sejumlah masyarakat Papua berorasi di Surabaya dan mengibarkan bendera bintang kejora yang diketahui milik Organisasi Papua Merdeka (OPM).

Sontak, hal tersebut membuat ormas dan warga setempat yang menyaksikan aksi unjuk rasa tersebut naik pitam, lantaran Papua masih menjadi wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Oleh sebab itu, sejak Jum'at (16/8/2019), aksi antar masyarakat ini tak terhindarkan.

image0
Spanduk penolakan tamu terpampang di pagar Asrama Mahasiswa Papua di Surabaya, Jawa Timur, pasca kerusuhan di sejumlah tempat. (Foto: faktanews)

Sementara itu, Majelis Rakyat Papua (MRP) Provinsi Papua Barat meminta Polri mengusut tuntas dugaan rasialisme saat pengepungan asrama Mahasiswa Papua di Surabaya, Jawa Timur, 16-17 Agustus 2019.

"Kata-kata rasis yang mendiskriminasi suku Papua itu yang menjadi akar masalah pada aksi anarkis yang terjadi di Manokwari juga beberapa daerah lain di Papua Barat. Maka pelakunya harus diusut, harus diproses hukum karena ini sangat berbahaya bagi persatuan negara dan bangsa Indonesia," kata Anggota MRP Papua Barat, Anton Rumbruren di Manokwari, seperti dilansir CNNIndonesia.com.

Anton meyakini dugaan penghinaan bersifat rasis itulah yang memicu kemarahan di kalangan masyarakat Papua sehingga terjadinya perusakan di sejumlah tempat. Oleh karena itu, ia berharap diskriminasi rasial yang terjadi di Surabaya harus ditanggapi secara serius. Pelaku, katanya, harus bertanggungjawab secara hukum.

"Kasus bendera tidak terlalu memberi dampak emosional bagi kami. Tapi kata-kata yang menghina ras Papua itu masalah serius, kami juga manusia jadi jangan sembarang melontarkan kata-kata tak senonoh terhadap kami orang Papua," kata dia.

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...