Mendag: Ekonomi RI Kalah di ASEAN

Mendag: Ekonomi RI Kalah di ASEAN

WinNetNews.com - Menteri Perdagangan (Mendag) Thomas Lembong pagi ini hadir dalam Rapat Kerja Nasional Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Bidang Perdagangan dan Hubungan Internasional di Hotel Pullman, Jakarta, Senin (19/10/2015).

Dalam diskusi, Lembong blak-blakan menyampaikan keprihatinannya terhadap posisi Indonesia di tengah persaingan usaha dengan negara-negara di dunia. Kondisi ekonomi Indonesia saat ini menurutnya masih sangat rawan.

"Saya menyampaikan hal pahit tapi fakta. Kalau secara fundamental posisi perekonomian Indonesia masih sangat rawan. Memang saya baru menjabat dua bulan. Saya telaah dan setelah berkeliling ke Kuala Lumpur ketemu Mendag-mendag di ASEAN dan ke Istanbul kita sangat ketinggalan. Turki sudah sejak lama lakukan deregulasi," ungkap Lembong.

Lembong mengaku terkejut ketika berkesempatan melakukan kunjungan negara bersama Presiden ke Istanbul. Di saat Indonesia baru akan memulai Indonesia National Single Windows (INSW), Turki sudah memulainya lebih dulu sejak lama dengan one stop shopping antar negara.

 

Ia melanjutkan, kondisi Indonesia dibanding negara tetangga pun belum aman. "Kita baru melewati guncangan nilai tukar. Kita hanya punya cadangan devisa US$ 100 miliar dari GDP yang sangat besar. Malaysia Ringgit anjlok cadangan devisa US$ 100 miliar dengan GDP US$ 300 miliar atau ekuivalen dengan 33%," jelasnya.

Kondisi saat ini, Mendag menggambarkan seperti now or never. "Kita dalam kondisi it's now or never. Saya ketemu country manager World Bank. Dia mengingatkan soal bonus demografi. Tapi ini hanya akan berlangsung 10 tahun sampai 2025. Setelah itu nggak ada lagi. Makanya jadi now or never," terangnya.

Lembong juga menyinggung terkait masuknya Vietnam dalam Trans Pasific Partnership yang akan menjadi tantangan tersendiri bagi persaingan pasar ekspor produk RI.

"Pengumuman mengenai TPP itu mengejutkan. AS berhasil menggaet 12 negara. Ini gawat kalau melihat Vietnam. Sudah rampung pasar akses bebas ke Uni Eropa dan masuk TPP. Persaingan dengan Indonesia kalau pemilik pabrik memilih ya nggak ada bandingan dengan Indonesia. Sudah jelas pasarnya lebih bebas Vietnam," ucapnya.

"Saya takut kalau nggak segera reformasi birokrasi, deregulasi, akan ketinggalan. Kita dianggap G20 dengan penduduk keempat terbesar dan ranking demokrasi baik," tambahnya.