(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Menelisik Kelemahan Avanza-Xenia Lawas

Yudha Raditya
Yudha Raditya

Menelisik Kelemahan Avanza-Xenia Lawas

Jakarta - Toyota Avanza dan Daihatsu Xenia telah menguasai pasar low multi purpose vehicle (LMPV) di pasar nasional sejak 2004. Data penjualan Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) per Mei 2015 mencatat, total penjualan duet LMPV ini telah mencapai 72.611 unit atau sekira 14.500 unit per bulan.

Avanza-Xenia mendominasi pasar di segmen LMPV dengan pangsa 66,8 persen. Meski Avanza-Xenia berpredikat sebagai mobil terlaku di segmen LMPV, bukan berarti mobil yang sudah mencapai generasi kedua ini tanpa kelemahan. Liputan6.com mencoba merangkum beberapa kelemahan tersebut kepada Anda.

Generasi pertama Avanza-Xenia mulai dipasarkan pada 2004. Positioning keduanya dibedakan antara lain dengan kapasitas mesin.

Avanza mengusung mesin 1.300 cc empat silinder dengan kode K3-VE, sedangkan Xenia bermesin 1.000 cc tiga silinder berkode EJ-VE. Model pertama Avanza ini memiliki dua varian, yakni E dan G. Sementara Xenia terdiri dari tiga varian, yakni Mi, Li, dan Xi (mesin 1.300 cc).

Pada April 2004, Toyota melansir Avanza S bermesin 1.500 cc 3SZ-VE dengan pilihan transmisi manual dan otomatis. Model pertama ini mendapat respons positif saat itu, karena dijual mulai Rp 70 juta per unit. Setelah mobil dikirim ke konsumen dan digunakan, terdapat beberapa kelemahan utama yang dikeluhkan konsumen.

Pertama kinerja mesinnya, terutama mesin berkode EJ-VE 1.000 cc yang dibawa Xenia. Laju mesinnya sering terhambat alias "ndut-ndutan" utamanya saat pergantian gigi rendah.

Kedua, sistem suspensinya kurang nyaman dengan gejala mengayun atau "ajlut-ajlutan", sehingga mengurangi tingkat kenyamanan saat berkendara di jalan berlobang. Dampak lainnya, gejala body rolling atau limbung juga tinggi.

Ketiga, kesenyapan kabin rendah karena getaran dan suara mesin terdengar cukup jelas di dalam kabin. Apalagi saat melaju kencang di jalan bebas hambatan. Untuk menekan kelemahan itu, generasi pertama Avanza-Xenia mengalami beberapa kali penyegaran atau minor change.

Seperti pada Juli 2006, Avanza-Xenia versi facelift hadir dengan mesin berteknologi VVT-i. Kemudian pada Agustus 2009, Xenia bertransmisi otomatis hadir dengan penambahan fitur baru seperti AC double blower.

Avanza-Xenia generasi pertama berhenti produksi pada November 2011. Generasi kedua Avanza-Xenia dimulai akhir 2011 dengan perubahan signifikan pada tampilan eksterior, kenyamanan kabin, dan tingkat keamanan dengan airbag.

Meski mengalami berbagai penyempurnaan, Avanza-Xenia generasi kedua juga tak luput dari kelemahan. Pertama, tingkat kenyamanan kabin memang ada peningkatan, tapi masih kalah dari pesaingnya. Misal dari sisi kesenyapan/kebisingan kabin.

Steven Suhaili dari Singit Workshop berpendapat kelemahan Avanza-Xenia generasi kedua disinyalir ada pada sistem suspensi. Padahal yang ringkih adalah Electronic Power Steering (EPS) yang notebene bagian dari kesatuan steering rack. Sistem EPS Avanza dinilai kurang bandel dibandingkan EPS di mobil Toyota tipe lain.

"Biasanya gejala yang ditimbulkan mirip seperti long tie riod rusak, karena itu ada beberapa bengkel yang kurang paham dan mengganti long tie rod padahal masalah intinya ada pada steering rack," jelas Steven.

Itu artinya masalahnya bukan di suspensi tetapi pada sistem kemudi, tapi orang justru mengganti sistem suspensi.

Kemudian, lanjut Steven, kelemahan lainnya adalah sistem pendinginnya yang masih menggunakan single motorfan, sehingga ketika mobil bermasalah dengan sistem pendinginannya, bisa dikatakan mobil tidak dapat dijalankan.

"Mungkin lebih baik, jika menggunakan double motorfan supaya kerja masing-masing motorfan tidak terlalu berat,” ujar Steven yang banyak menerima jasa servis Avanza-Xenia di bengkelnya di kawasan Kelapa Dua, Karawaci, Tangerang.

Sementara Budi Setiawan, anggota AvanzaXenia Indonesia Club (AXIC) chapter Karate, mengatakan kelemahan Avanza-Xenia generasi kedua adalah tidak mengadopsi teknologi Drive by Wire. Padahal pesaingnya ada yang sudah mengadopsi teknologi ini.

"Dengan harga di level Rp 200 jutaan per unit, Avanza semestinya sudah menggunakan teknologi ini. Sebab teknologi ini mengatur kinerja mesin terkait pengapian dan kebutuhan bahan bakar melalui sensor-sensor, bukan lagi kabel. Sehingga kinerja mesin lebih efisien," tandasnya.

(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});