Mengenal RMP Sosrokartono, Kakak RA Kartini

Mengenal RMP Sosrokartono, Kakak RA Kartini

Kamis, 21 Apr 2016 | 11:14 | Rusmanto
WinNetNews.com - Raden Mas Panji Sosrokartono, mungkin tak banyak yang mendengar nama dan kiprahnya. Namun siapa sangka, kakak dari Raden Ajeng Kartini ini termasuk polyglot , sebutan untuk orang yang menguasai banyak bahasa, yang pertama di Indonesia.

RMP Sosrokartono ini menguasai 26 bahasa asing dan 10 bahasa daerah Indonesia.

Dalam sejarah Indonesia, nama Sosrokartono kalah populer dibanding RA Kartini, adiknya. Padahal kontribusi Sosrokartono untuk negerinya tak kalah besar dari sang adik.

Baca juga: Profil R.A. Kartini, Sang Pejuang Emansipasi Wanita

Sosok Kartono sebagai seorang Jawa dipandang istimewa, hingga dalam kalangan orang Eropa ia dikenal sebagai Pangeran dari Jawa. Meskipun pergaulannya luas, mulai dari kalangan orang biasa hingga bangsawan, mulai dari negerinya hingga seantero dunia, Kartono senantiasa menunjukkan cirinya sebagai orang Jawa.

Kartono dilahirkan di Mayong, Rabu Paing 10 April 1877 dari seorang ibu Nyai Ngasirah dengan Raden Mas Adipati Ario Samingoen Sosroningrat, bupati Jepara saat itu. Bernama lengkap Raden Mas Panji Sosrokartono, ia dilahirkan 8 bersaudara, dimana RA Kartini merupakan adiknya yang kemudian dikenang sebagai pejuang emansipasi.

Setelah menamatkan sekolah Eropesche Lagere School di Jepara, Kartono melanjutkan pendidikannya ke HBS di Semarang. Tahun 1898 Kartono muda bersekolah ke Belanda, yang pada awalnya di Delft, kemudian berganti ke Leiden.

Pendidikan terakhir Kartono adalah jurusan Bahasa dan Kesusastraan Timur. Keistimewaannya saat itu sebagai seorang Indonesia pertama yang bersekolah di Belanda.

 

Kecerdasan Kartono menarik perhatian Prof. Dr. Johan Hendrik Kern. Meski baru pindah kampus, Kern sudah menyuruhnya bicara di Kongres Sastra Belanda di Gent, Belgia, pada September 1899. Kartono menyambut tawaran Kern dengan membawakan pidato Het Nederlandsch in Indie (Bahasa Belanda di Hindia Belanda).

Dalam pidatonya, Kartono menyatakan dengan tegas bahwa selama matahari dan rembulan bersinar, dia menantang dan menjadi musuh dari siapa pun yang akan membuat bangsanya menjadi bangsa Eropa atau setengah Eropa.

Kartono juga adalah musuh bagi mereka yang menginjak-injak tradisi serta adat kebiasaan bangsanya yang luhur lagi suci. Pidato pertamanya itu merupakan seruan seorang patriotik yang juga mengutarakan agar keluhuran tradisi mesti dipertahankan orang-orang pribumi di mana saja berada.

Berbekal cakrawala pengetahuan yang terbuka, Kartono meminta Pemerintah Belanda agar bahasa Belanda dan bahasa internasional lain diajarkan di Hindia Belanda, tujuannya agar kaum pribumi bisa mempertahankan kemuliaan tradisi dan harga diri mereka.

Sebulan kemudian pidatonya dimuat di majalah bulanan Neerlandia. Selepas dari Leiden, Kartono berkelana Eropa menjalani beragam profesi. Kemampuan luar biasanya sebagai poliglot mencatat Kartono menguasai 24 bahasa asing dan 10 bahasa suku di Nusantara.

Kartono pernah berperan sebagai penterjemah di Wina, dan wartawan. Namun, karirnya amat gemilang saat Kartono bekerja sebagai wartawan perang The New York Herald Tribune .

Koran ini satu-satunya yang memuat hasil perundingan antara Jerman, diwakili Stresman, yang kalah perang dan Prancis yang menang perang, diwakili Foch.

 

Perundingan itu berlangsung secara rahasia di sebuah gerbong kereta api di hutan Campienne, Perancis, dan dijaga sangat ketat. Penulis hanya mencantumkan kode bintang tiga, namun di kalangan wartawan Perang Dunia I kode itu dikenal sebagai kode dari wartawan perang RMP Sosrokartono. Konon tulisan itu menggemparkan Amerika dan juga Eropa.

Pascaperang, Kartono berprofesi sebagai ahli bahasa di kedutaan Perancis di Den Haag, kemudian hijrah ke Liga Bangsa-bangsa di Jenewa. M. Hatta sempat menulis bahwa Kartono memperoleh pendapatan USD 1250 dari koran terbitan Amerika. Dan dengan uang sebesar itu seharusnya Kartono dapat hidup mewah di Eropa.

Namun titik balik Kartono terjadi saat ia menyembuhkan seorang anak dengan menyentuh dahinya. Kejadian itu dijawab oleh seorang ahli psychiatrie dan hypnose yang menerangkan bahwa Kartono mempunyai daya pesoonalijke magneetisme besar yang tidak disadarinya.

Penjelasan ini mendorong minat Kartono untuk menekuni bidang psychometrie dan psychotecniek di Paris. Namun, sebagai lulusan bahasa dan sastra, Kartono hanya diterima sebagai toehoorder. Kekecewaannya membuat Kartono memutuskan pulang ke tanah air, setelah 26 tahun hidup di Eropa.

Tahun 1925 Kartono sampai di tanah air dan menetap di Bandung. Kedatangannya di Jawa diwarnai dengan pelabelan Kartono sebagai seorang komunis oleh pemerintah kolonial. Dalam korepondensinya dengan Nyonya Abendanon, Kartono menyampaikan bahwa itu adalah fitnah yang amat keji tapi ia tak berdaya.

Bahkan atas nama kubur sang ayah dan Kartini adiknya, Kartono bersumpah tak pernah menganut paham komunis, sejak dulu hingga saat itu. Yang diinginkannya adalah bekerja untuk pendidikan mental sesama bangsanya sebagaimana yang dimaksudkan oleh Kartini. Selain perpustakaan, Kartono ingin mendirikan sekolah seperti yang juga dicita-citakan mendiang adiknya, Kartini.

 

Kartono kemudian menggalang dukungan dari kelompok pergerakan di Indonesia. Ia menemui Ki Hajar Dewantara yang lalu mempersilakan Kartono membangun perpustakaan di gedung Taman Siswa Bandung.

Ia pun diangkat menjadi kepala sekolah di Perguruan Taman Siswa Nationale Middlebare School di Bandung, dan menolak jabatan yang ditawari pemerintah kolonial seperti direktur museum di Jakarta, Adviseur voor Inlandse Zaken, atau bupati.

Di sekolah Taman Siswa, tercatat sebagai guru nama Soekarno, Dr. Samsi, Mr. Sunario, dan Mr. Usman Sastroamidjoyo. Kartono juga aktif dalam kegiatan politik saat itu. Ini terungkap dalam laporan rahasia tahun 1926 yang dibuat Van der Plas, pejabat Adviseur Voor Inlandse Zaken, yang menyatakan Drs Sosrokartono termasuk pelopor gerakan nasional Indonesia dan tidak dapat dipercaya oleh Pemerintah Kolonial Belanda.

Laporan lain yang disebut sebagai Komisi Istimewa diserahkan langsung ke Ratu Wilhelmina berisi bahwa Sosrokartono penganjur swadesi dan sangat berbahaya bagi ketentraman dan kedamaian di Hindia Belanda. Atas tekanan pemerintah kolonial yang luar biasa, Kartono terpaksa keluar dari Perguruan Taman Siswa tahun 1927.

Wajah mistis Kartono terlihat dari pilihannya melakukan tarak brata yakni tidak menikmati kemewahan duniawi. Juga sering dijumpai perilaku Kartono yang hanya mengkonsumsi dua cabe atau sebuah pisang saja. Berpuasa tanpa berbuka dan bersahur, serta tidak tidur berhari-hari juga dilakoninya. Minum air kelapa sering dilakukan Kartono saat tidak berpuasa.

Pada bulan April 1930, Kartono mengabdikan diri sebagai penolong sesamanya yang sakit jasmani dan rohani. Pengobatan dengan media air putih dan kertas bertuliskan huruf Alif dipilihnya sebagai bentuk penyembuhan spiritual di tempat tinggalnya di Jalan Pungkur, sekarang Jalan Dewi Sartika, Bandung. Rumah pengobatannya dikenal dengan nama Dar-Oes-Salam yang berarti tempat nan damai.

 

Dari aktivitas pengobatan spiritual inilah Kartono mendapat beragam julukan. Orang Jawa menyebutnya dengan Ndoro Sosro, orang Sunda Dokter Cai, Juragan Dokter Cai Pengeran, atau Dokter Alif. Bagi orang Belanda dan indobelanda, Kartono disebut Oom Sos, dan kalangan kedokteran Wonder Dokter.

Dar-Oes-Salam selain sebagai rumah pengobatan, juga difungsikan untuk perpustakaan. Bahkan bersama adiknya, R.A. Kardinah, Kartono mendirikan perpustakaan Panti Sastra di Tegal.

Buku-bukunya berasal dari sumbangan dua insinyur perusahaan kereta api Staats Spoorwegen, tiga orang partikelir bangsa Belanda, dua wanita Belanda, tiga orang Jawa, dan seorang Tionghoa. Dalam suratnya kepada Nyonya Abendanon, Kartono menuliskan semboyannya yakni tanpo rupo tanpo sworo, yang berarti tidak berwarna, tiada perbedaan, tiada perselisihan.

Dar-Oes-Salam merupakan bekas gedung Taman Siswa Bandung yang sering dijadikan tempat berkumpulnya tokoh pergerakan Indonesia. Gedung ini juga dipakai oleh Partai Nasional Indonesia dan Indonesisch Nationale Padvinders Organisastie pimpinan Abdoel Rochim, mertua Bung Hatta.

Hubungan Kartono dengan Soekarno tergambar dari dipilihnya Kartono sebagai guru bahasa dan guru spiritual Soekarno. Kayanto Soepardi, 63 tahun, putra seorang asisten Sosrokartono, menceritakan dari ayahnya dituturkan Soekarno kerap datang belajar bahasa pada Kartono. Kartono pula yang menyelipkan secarik kertas putih bertuliskan huruf Alif ke dalam peci Soekarno tanpa menyebut maksudnya.

Perhatian Kartono pada Soekarno juga terlihat jelang Soekarno menghadapi persidangan di Landraad Bandung, 18 Agustus 1930. Para teman Soekarno mendatangi Kartono malam sebelum putusan dijatuhkan.

 

Malam itu, sebelum kedatangan kawan-kawan Soekarno, Kartono rupanya sudah mengetahui bahwa mereka hendak menemuinya. Kartono membuka pertemuan dengan kalimat “Sukarno adalah seorang satria. Pejuang seperti satria boleh saja jatuh, tetapi ia akan bangkit kembali. Waktunya tidak lama lagi.”

Keesokan harinya, terbukti bahwa Soekarno dijatuhi hukuman paling berat, empat tahun penjara. Sementara tiga kawan seperjuangan, Gatot Mangkupraja, Maskun, dan Supriadinata diganjar penjara separuh waktu Soekarno. Upaya banding ke Raud van Justitie gagal. Hukuman Soekarno pun dikukuhkan.

Kartono digambarkan sebagai sosok yang cenderung menyendiri, bersorot mata tajam, dan lebih banyak diam. Kartono tidak pernah lepas dari sebuah tongkat, beskap warna putih lengan panjang, sebuah topi (mirip mahkota) warna hitam, dan mengalungkan tasbih yang menggantung hingga dadanya.

Wajah mistik Kartono juga terlihat dari penyebutan dirinya sebagai mandor klungsu dan jaka pring. Meski seorang poliglot, Kartono meninggalkan wejangannya dalam bahasa ibunya, bahasa Jawa.

sugih tanpa bandha,

digdaya tanpa hadji,

ngalurug tanpa bala,

menang tanpa ngasoraken

itu adalah satu wejangannya yang terkenal.

Lakon Kartono sebagai seorang spiritualis hanya selama 25 tahun terakhir. Dan dua tahun jelang akhir hayatnya, kelumpuhan separuh badan menyerang Kartono yang mengharuskannya lebih sering duduk di kursi. Namun keterbatasan itu tak menyurutkan semangatnya untuk tetap menerima tamu yang sekadar minta nasehat, belajar bahasa asing, hingga mengobati penyakit.

Dan pada Jumat Paing, 8 Februari 1952, Kartono yang berilmu kanthong bolong meninggal dunia di tempat nan damai Dar-Oes-Salam. Sebagai penghormatan, Soekarno memerintahkan AURI untuk mengantarkan jenazah Kartono ke Semarang, dan selanjutnya dimakamkan di pemakaman keluarga Sedo Mukti Kudus. Makam ini hanya berjarak satu kilometer dari pusat kota Kudus.

dirangkum dari berbagai sumber

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...