Mengupas Soal 'Partai Allah' yang Disebut Amien Rais
Sumber foto : Istimewa

Mengupas Soal 'Partai Allah' yang Disebut Amien Rais

Minggu, 15 Apr 2018 | 17:38 | Oky

Winnetnews.com - Amien Rais selama ini memang dikenal sebagai tokoh yang kerap melontarkan pernyataan provokatif. Dia bahkan sering disebut sebagai "sengkuni", yaitu tokoh pewayangan yang banyak menghasut dan mengadudomba.

Terakhir, Amien Rais terbukti membuat kategorisasi yang ngawur soal partai politik di Indonesia. Dia menyebut partai-partai politik di Indonesia jadi dua kutub yakni partai setan dan partai Allah.

Hal itu disampaikannya dalam tausiyah usai mengikuti Gerakan Indonesia Salat Subuh berjemaah di Masjid Baiturrahim, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, Jumat (13/4) pagi.

Dalam kesempatan itu, dia menyebutkan bahwa orang-orang yang anti Tuhan, itu otomatis bergabung dalam partai besar, dan itu partai setan. Sedangkan, orang yang beriman bergabung di sebuah partai besar namanya hizbullah, Partai Allah.

Meski tak jelas, siapa partai yang dimaksudnya sebagai partai Allah dan partai setan, namun pernyataan Amien Rais itu sangat tendensius dan provokatif.

Ia terlihat ingin menggiring aspirasi masyarakat berdasarkan kategorisasi serampangan yang dia buat sendiri itu.

Dari pernyataan Amien Rais di atas, terdapat tendensi bila dia ingin mengajak masyarakat untuk memilih partai dan koalisinya, karena dianggap sebagai partai Allah.

Dia ingin berkampanye, namun dibungkus dengan kategori 'setan' dan 'Allah'. Padahal, apabila yang dimaksud oleh Amien Rais sebagai 'partai Allah' itu adalah koalisi parpol sesuai preferensinya, maka itu adalah PAN, PKS dan Gerindra. Dan, itu sungguh tidak elok karena jauh panggang dari api.

Faktanya, kader-kader partai yang diklaimnya sebagai partai Allah ternyata kelakuannya banyak yang bejat. Mereka banyak melakukan tindakan korupsi, asusila dan merugikan masyarakat secara luas.

Misalnya, kasus Zumi Zola dan Nur Alam. Keduanya adalah kader PAN yang terjerat kasus korupsi saat menjabat sebagai Gubernur.

Zumi Zola, Gubernur Jambi, ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus suap APBD ke DPRD Jambi. Sedangkan, KPK menetapkan Nur Alam sebagai tersangka suap kasus pemberian izin pertambangan di Sulawesi Tenggara pada tahun 2016 lalu.

Kemudian, kita ingat kasus korupsi Yudi Widiana Adia yang merupakan anggota fraksi PKS DPR RI. Dalam kasus tersebut, Yudi menggunakan istilah-istilah yang berkaitan dengan agama, seperti juz dan liqo'. Dia terbukti menerima gratifikasi sebesar Rp. 6,5 miliar dan 354.300 dolar AS (sekitar Rp4,6 miliar) atau totalnya sekitar Rp11,1 miliar untuk proyek di Maluku dan Maluku Utara.

Terakhir, salah seorang kader Partai Gerindra melakukan pembakaran 8 sekolah untuk mendapatkan perhatian dan memperoleh proyek. Adalah Yansen Binti yang merupakan anggota DPRD Kota Palangkaraya dari fraksi Gerindra.

Berbagai contoh di atas menjadi bukti bahwa partai yang diklaim sebagai partai Allah ternyata kelakuannya sungguh tidak mencerminkan keteladanan sesuai ajaran agama.

Sebaliknya, mereka justru menunjukkan egosentrisme yang tidak amanah dan mengorbankan kesejahteraan masyarakat demi kepentingannya sendiri.

Untuk itulah, sebaiknya kita adil dalam menimbang informasi. Bersikap obyektif akan menyelamatkan kita dari bahaya politik kebencian dan pecah belah.

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...