Bag. 3 Mengurai Pengungkapan Kasus Perdagangan Manusia Jaringan Abu Dhabi dan Damaskus

Zulkarnain Harahap

Dipublikasikan 4 tahun yang lalu • Bacaan 2 Menit

Bag. 3 Mengurai Pengungkapan Kasus Perdagangan Manusia Jaringan Abu Dhabi dan Damaskus
Deretan para tersangka kasus TPPO/Foto: Zool WNN

WinNetNews.com - Berangkat dari sindikat perdagangan manusia yang "dikelola" F dengan tujuan Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, Satgas Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) dari Direktorat Tindak Pidana Umum Bareskrim Mabes Polri berhasil menguak perdagangan manusia jaringan Cianjur. Dari sindikat HAB di Cianjur itu, aparat juga menemukan koneksi lain dengan sesama sindikat "jual-beli" haram itu.

"Kemudian sindikat atau jaringan E yang beroperasi dengan koneksi para kriminal lintas negara yaitu Jakarta-Malaysia-Damaskus dapat terungkap berawal dari laporan staf KBRI Damaskus ke Bareskrim terkait adanya dugaan tindak pidana perdagangan orang dengan modus pemalsuan identitas," papar Kabareskrim Mabes Polri, Komjen Pol. Ari Dono Sukmanto di Gedung sementara Bareskrim Mabes Polri, Jakarta, Kamis (10/08/2017).

KBRI Damaskus, kata Ari, melaporkan bahwa pada 2017 ini ada sekitat 56 orang yang sudah dipulangkan ke Indonesia. Mereka diduga menjadi korban Tindak Pidana Perdagangan Manusia.

"Menindak-lanjuti laporan tersebut, Satgas TPPO Bareskrim Polri kemudian bergerak cepat menuju Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, untuk melakukan pemeriksaan terkait korban anak dibawah umur yang dipalsukan identitasnya. Korban saat berangkat masih berumur 14 tahun kemudian dibuatkan identitas umur menjadi 19 tahun. Dokumen yang dipalsukan oleh sindikat E adalah kartu keluarga, KTP dan paspor yang berbeda nama dan umur korban. Hasil keterangan, korban bekerja di Damaskus selama 2 tahun, berpindah majikan 3 kali dan korban tidak digaji dan disiksa oleh majikannya," ungkap Ari.

Berdasarkan alat bukti yang didapatkan, kemudian dilakukan penangkapan tersangka P sebagai perekrut korban. P juga yang membawa korban sampai ke Malaysia via Batam. Dari pengembangan ini, dapat ditangkap pula tersangka E di Malang yang diduga sebagai penghubung langsung ke jaringan F di Malaysia untuk memberangkatkan CTKI ke Damaskus menggunakan dokumen palsu.

"Jaringan E diduga telah mengirimkan ratusan TKI dari NTB ke Damaskus via Malaysia sejak tahun 2014-2017 secara illegal dan keuntungan yang didapatkan oleh jaringan ini Rp. 10-15 Juta per CTKI sehingga diduga keuntungan mencapai ratusan juta rupiah," jelas Ari.

Terhadap para tersangka jaringan Abu Dhabi dan Damaskus, pungkas Ari, saat ini mereka dalam proses penahanan Satgas TPPO Bareskrim Polri dan pasal yang dipersangkakan adalah Pasal 6 dan pasal 10 UU RI No 21 tahun 2007 tentang TPPO dengan ancaman hukuman 3-15 tahun dan pasal 102 UU RI No 39 Tahun 2004 tentang Penempatan dan Perlindungan TKI Di Luar Negeri dengan ancaman hukuman minimal 2 – 10 tahun. Serta dijerat juga dengan UU Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU).

Share This Story

RELATED ARTICLE

Loading interface...