Menilik Kiprah Drs Suyadi di Serial Si Unyil

Menilik Kiprah Drs Suyadi di Serial Si Unyil

Siapa yang tak tahu dengan tokoh "Pak Raden" yang terkenal pelit dan suka marah-marah dalam serial boneka Si Unyil ini?  Drs. Suyadi adalah pencipta tokoh Si Unyil sekaligus berperan sebagai Pak Raden.  Sepanjang hidupnya Beliau telah mengabdi demi melestarikan serta mengajarkan seni dan budaya pada anak-anak.  Kini Indonesia telah kehilangan sosok seniman legendaris itu.  Drs. Suyadi meninggal di usia 82 tahun pada hari Jumat (30/10/15) sekitar pukul 22.20 WIB.

Berdasarkan keterangan yang dihimpun dari berbagai sumber, Si Unyil adalah film seri televisi Indonesia produksi PPFN (Perusahaan Umum Produksi Film Negara) yang mengudara pertama kali di stasiun TVRI sejak 5 April 1981. Si Unyil tayang setiap hari Minggu pagi. Namun dalam arsip Kompas, film boneka pertama kali ini muncul dengan judul "Si Unjil Anak Rimba".

Pada 31 Mei 1968, harian Kompas memuat berita yakni, "Si Unjil Anak Rimba adalah djudul dari film boneka jang kini sedang dikerdjakan oleh Film Studio Penas dan diharapkan akan selesai pada tanggal 1 Djuli mendatang, Kol Ud Sugirim direktur utama PN Aerial Survey dan Film Studio dalam konperensi pers jang diadakan pada tanggal 30 Mei 1968," begitu bunyi berita yang dilansir dari situs Kompas. Itu artinya 13 tahun setelah film boneka ini selesai tayang, barulah dibuat serialnya yang ditayangkan pertama kali di TVRI.

Baca juga artikel: Hingga Ajal, Pak Raden Belum Terima Hak Royalti Unyil

Menilik kehidupan Drs. Suyadi yang lebih dikenal sebagai "Pak Raden" dalam serial boneka Si Unyil. Selain pandai mendongeng dan membuat boneka, dia juga hobi mendalang dan pandai membuat ilustrasi buku-buku anak dan sketsa. Berbeda sekali dengan karakter "Pak Raden" di dalam serial boneka Si Unyil, Pak Raden di dunia nyata merupakan sosok yang sangat baik terhadap semua orang, namun di sisi lain dia juga bisa bersikap tegas.

Sang maestro ilutrator ini lahir di Puger, Kabupaten Jember, Jawa Timur, 28 November 1932. Dalam arsip Kompas disebutkan, pertunjukan boneka ( puppet show ) Si Unyil dirancang oleh Suyadi, lulusan seni rupa Institute Teknologi Bandung (ITB). Suyadi saat itu membuat delapan wajah Unyil untuk mengekspresikan perasaan senang, sedih, kaget, dan lain-lain.

 

Di masa kejayaannya yakni tahun 80-an, Si Unyil menjadi hiburan yang paling disukai anak-anak. WinNetNews melansir dari situs Kompas, Suyadi sejak awal konsisten menghadirkan Si Unyil sebagai tontonan anak-anak, bukan sebagai media propaganda pemerintah untuk mengemban misi "pembangunan". Si Unyil dan Pak Raden terus melejit di era itu dan bahkan pada acara-acara penting, Unyil dan Pak Raden favorit menjadi pembawa acara.

Di tahun 1982, UNICEF menandatangani kerjasama menyangkut penggunaan film Si Unyil sebagai bahan pembelajaran. Tak hanya itu, Si Unyil pun telah melanglangbuana hingga ke Malaysia, Australia, dan Denmark.  Meskipun serial SI Unyil kini hadir dengan nuansa baru dan tetap jadi serial yang melegenda, nampaknya tak berpengaruh bagi kehidupan Pak Raden di hari tuanya. Hingga di akhir hayatnya, pria yang lahir di tanggal 28 November 1932 itu tak pernah merasakan royalti dari kesuksesan tokoh boneka yang diciptakannya itu.

Baca juga artikel: Sosok Pak Raden Dikenang Baik Oleh Walikota Bandung

Pak Raden alias Drs. Suyadi hidup tanpa kemewahan di usia senjanya. Pak Raden hidup menumpang di rumah kakaknya. Saking cintanya dengan dunia seni, selama hidupnya Pak Raden memilih untuk hidup selibat tak menikah. Tapi ia bahagia dengan hidupnya, apalagi punya banyak murid-murid. Meskipun usianya sudah sepuh, Pak Raden tak pernah kehilangan semangatnya untuk berbagi ilmu serta berbagi kasih sayang kepada murid-muridnya. Selama ini Pak Raden menggantungkan hidupnya dengan melukis, show ataupun menjual buku-buku karyanya. Karena usia dan kesehatan yang semakin menurun, alhasil show pun semakin jarang dilakukan, Pak Raden pun kehilangan pendapatannya.

Pak Raden memang sangat menyukai kucing. Di dalam rumahnya dulu, mantan Tenaga Ahli PPFN itu, memiliki lebih dari sepuluh kucing yang kini hanya tersisa dua ekor. Pak Raden tinggal di dalam rumah yang tampak kurang terurus, dengan atap yang telah usang karena terkena air hujan. Bau tidak sedap pun tercium di rumah yang terdiri dari tiga kamar yang penuh dengan lukisan dan boneka-boneka ciptaannya.

Di hari tuanya, Pak Raden harus hidup dari dukungan teman-temannya dan para penggemarnya. Mereka menjual kaos bergambar Pak Raden, menjualkan buku-buku cerita hasil karya Pak Raden ataupun dengan mengetuk pintu hati masyarakat. Pria yang tutup usia akibat radang paru-paru ini tidak pernah menikmati royalti dari Si Unyil hasil ciptaannya.