(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Menpar Arief Yahya Menginspirasi Musrenbang Sumsel di Hotel Palembang Horison

Fellyanda Suci Agiesta
Fellyanda Suci Agiesta

Menpar Arief Yahya Menginspirasi Musrenbang Sumsel di Hotel Palembang Horison

WinNetNews.com - Selasa (12/4) Menpar Arief Yahya melakukan Musyawarah Perencanaan Pembangunan bersama stakeholders di Sumsel. Musyawarah ini diperuntukkan bagi Gubernur, Bupati, Walikota, dan para perencana di Bappeda, tetapi juga buat publik di negeri ini. Menpar Arief Yahya menekankan untuk tidak salah mendesain perencanaan dan salah mengalokasikan budget, jangan salah membuat prioritas, jangan salah memilih portofolio bisnis. Karena itu akan berdampak signifikan pada daya saing generasi kita ke depan. “Kalau mau menjadi pemain dunia, pakailah standar dunia di bidang apapun. Kalau merasa dirinya bagus, harus ditanya lagi, kata siapa?” ucap Arief Yahya untuk menunjukkan bahwa kita berfikir out world looking.

Menurutnya, ada beberapa Negara yang bisa dijadikan contoh, seperti Korea Selatan. Dari Negeri Ginseng tersebut, kita dapat mencontoh dari segi creative industry-nya yang sudah lebih besar sumbangsihnya kepada devisa negara, dibandingkan dengan manufacture-nya. Seperti pada produk elektornik Samsung misalnya, sudah merambah ke semua sector, dengan menjual kreativitasnya. “Fitur-fitur hi-tech yang didesain Samsung dan LG sebagai buah karya creative, sudah berhasil menggeser produk-produk elektronik Jepang, seperti Sony, Toshiba, Hitachi, dan lainnya,” katanya.

Selain itu, Arief Yahya mencontohkan KIA dan Hyundai, yang terus merebak di pasar dunia dan diterima pasar karena technology development-nya. Sama seperti Samsung S-7, keluarannya langsung menggebrak dunia, karena terdepan dalam teknologi.

Nike,Inc, Perusahaan multinasional yang bergerak di alat-alat olahraga terbesar di dunia, yang didirikan oleh William J. "Bill" Bowerman dan Philip H. Knight di Beaverton, Oregon, Amerika Serikat itu. Pada perusahaan multinasional, Nike,Inc, dari segi Komposisi budgetingnya, desain dialokasikan 20%, marketing 40%, dan manufacturing 40%. Oleh karena itu, orang Amerika mengambil desain dan marketing, sudah 60% dari struktur biaya. “Pabrikasi atau manufacturing-nya di-outsourching ke Indonesia dan Vietnam. Memang biayanya 40%, tetapi ongkos produksinya 35%, sehingga net profit-nya maksimal hanya 5% saja,” kata Arief yang sering merasa diperlakukan dengan tidak adil dari komposisi itu.

Arief Yahya juga menyadari, bahwa mereka lebih pintar, mereka mengambil benefit lebih besar. Dari 20% desain itu ongkos produksinya hanya 5%, margin keuntungannya 15%. Lalu dari marketing 40%, biayanya 20%, labanya 20%. “Maka total benefit dari jasa desain dan marketing adalah 15% plus 20%, jadi 35%. Coba bandingkan dengan negara-negara berkembang yang hanya memperoleh 5% margin dari manufacturing! Hanya cukup untuk membayar UMR saja!” ucap Arief sedih.

Untuk kepentingan penyerapan tenaga kerja, UMR pun oke saja. Point yang terpenting bukan di situ, tetapi services atau jasa memiliki value add yang jauh lebih besar daripada manufacturing. “Negara-negara yang mengandalkan services, sukses melompat maju. Singapore, Hongkong, Dubai, Doha, Abu Dhabi, juga contoh yang baik, negara yang maju karena mengandalkan financial service,” ungkapnya.

Menurut Arief Yahya, Pariwisata adalah sector jasa atau service. “Kalau kita sudah tahu bahwa ke depan itu era creative industry? Gelombang cultural industry menanti di depan mata? Perusahaan services punya prospek kuat? Google yang dibangun dengan 20 orang dalam waktu cepat menjadi raksasa dunia, dengan value USD 500M? WhatsApp yang rugi memiliki valuasi USD 20M? Mengapa harus ragu mengalokasikan budget yang proporsional untuk mendorong creative industry?” kata Arief Yahya.

Saat ini Indonesia masih jauh di bawah Malaysia, Singapore, dan Thailand. Dari data kunjungan wisman, Indonesia baru tembus 10,4 juta, Singapore 15 juta, Malaysia 25 juta, Thailand 30 juta. “Saya yakin, dalam dua tahun akan mengalahkan Malaysia, dan dalam empat tahun mengalahkan Thailand,” jelas Arief Yahya.

Pada tahun 2015 kemarin, pertumbuhan atau growth wisman ke Indonesia, naik 10,3%. ASEAN naik 5,1%. Dunia naik 4,4%. Singapore naik 0,9%, Malaysia turun 15,7%, dan Thailand naik 20,4%. “Dari country branding, Wonderful Indonesia naik menjadi peringkat 47, dari sebelumnya tidak punya peringkat. Itu sudah mengalahkan Truly Asia Malaysia papan 96, termasuk Amazing Thailand peringkat 83,” ungkap Arief Yahya

Pada Kompetisi yang di gelar oleh lembaga resmi pariwisata Dunia, World Halal Travel Award 2015, di Abu Dhabi, Uni Arab Emirate, kali ini Malaysia yang pernah menjadi rajanya “halal destination” tidak mendapatkan apa-apa. Indonesia menyabet 3 penghargaan. Pada UNWTO Award 2016 di Madrid Spanyol, Indonesia juga menyabet 3 penghargaan, sedangkan Malaysia nihil. Dan level regional ASEAN, melalui ASEANTA Award di Manila, Filipina, Indonesia merebut 3 penghargaan, Malaysia 2 award. “Maka skor sementara 10 : 2 untuk Wonderful Indonesia,” jelasnya.

Arief mengatakan, pada penghargaan di setiap travel mart, juga tidak pernah absen. Wonderful Indonesia selalu juara, di mana-mana, karena memang dipersiapkan khusus untuk merebut juara. Dari desain, fasilitas, performance, kemudahan dan lainnya di tahun 2016 ini. Di Bulgaria mendapat Award for Active National Presentation di Holiday & Spa Expo 2016. Lalu di Outbond Travel Mart Mumbai, India, juga juara. Di Los Angeles Travel and Adventure Show 2016. Award di Pays d’Honneur di Paris 2016.

Dilanjut India International Travel Mart 2016, dapat tiga penghargaan sekaligus. Hongkong di Flower Festival 2016 juga. The Best Exhibitors Award di ITB Berlin, travel mart terbesar dan paling terkenal di dunia. “Kemenangan itu direncanakan!” kata Menpar Arief Yahya.

“Kalau cultural industry, anak-anak Indonesia itu mampu bersaing. Anak-anak kita hebat di creative. Kita juga punya potensi alam dan budaya yang kuat. Kita punya modal yang kuat. Wonderful Indonesia sudah membuktikan, bahwa mengalahkan Malaysia itu tidak sulit,” jelas Menpar untuk memotivasi anak muda.

(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});