(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Menteri Arief Ingin Pariwisata Jadi Penyuplai Devisa Terbesar

Muchdi
Muchdi

Menteri Arief Ingin Pariwisata Jadi Penyuplai Devisa Terbesar

WinNetNews.com - Indonesia merupakan salah satu negara yang kerap menjadi tempat liburan para wisawatan asing. Akan hal itu, Menteri Pariwisata Arief Yahya berharap pariwisata Indonesia menjadi penghasil devisa terbesar di Indonesia.

"Secara umum secara proyeksi diharapkan kita pariwisata sebagai penghasil devisa terbesar, jadi di atasnya minyak dan gas bumi, di atasnya batu bara, di atas cto atau kelapa sawit," kata Arief di Hotel Mercure Ancol, Jakarta Utara, Minggu (24/4/2016).

Arief yang datang dalam acara rapat koordinasi bidang kemaritiman dengan jajaran kader PDIP ini juga mengungkapkan alasan kedatangannya. Yakni berdiskusi tentang lingkup wisata bahari yang mengalami ketidakseimbangan antara potensi dengan performancenya.

"Dari sekitar 10 miliar devisa yang kita dapatkan, hanya 10 persen dari wisata bahari. Jika dibandingkan dengan malaysia sudah 8 miliar dolar, kita hanya 1 miliar dolar," ujarnya.

Padahal, ungkap Arief, jika dilihat dari segi kekayaan alam, potensi Indonesia jauh lebih tinggi dibandingkan negara lain.

 

"Nah ini adalah peluang yang sangat bagus. Kalau untuk menaikkan dua kali lipat di 2019 itu relatif mudah, dari 10 persen menjadi 20 persen atau dari 1 miliar menjadi 4 miliar dolar," ungkapnya.

Disinggung kendala dalam meningkatkan citra wisata bahari, Arief melanjutkan, kelemahan salah satunya adalah akses.

"Contoh wisman dari Cina ke Indonesia yang direct itu hanya 37 persen, sedangkan ke negara pesaing misal Singapura itu 85 persen, Malaysia 78 persen, dan Thailand 81 persen. Oleh karenanya, kita sekarang mengakselerasi untuk pembukaan akses dari negara negara utama contoh dari Cina, India, dan Australia," terangnya.

Terkait reklamasi yang dikabarkan untuk perkembangan pariwisata, Arief enggan berkomentar banyak.

"Intinya kalau pariwisata itu idenya 1, makin dilestarikan, semakin mensejahterakan. Jadi kalau ada sistem tourism development itu harus ada 3 hal yang diperhatikan; 1. invairment, community dan nilai keekonomian. ketiganya ini harus balance, tidak boleh jomplang salah satunya," tutupnya.

Sumber dari Merdeka, Jakarta

Foto: arie basuki

(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});