Skip to main content

Mitos Tentang Mie Instan Yang Tidak Sepenuhnya Benar

Mitos Tentang Mie Instan Yang Tidak Sepenuhnya Benar
Mitos Tentang Mie Instan Yang Tidak Sepenuhnya Benar

WinNetNews.com - Beberapa orang mengonsumsi mi instan hanya untuk kudapan sedangkan sisanya menggunakannya sebagai pengganti menu utama.

Berikut mitos tentang mi instan. Dilansir dari Bisnis,

1. Mi instan mengembang di dalam usus Ada juga informasi yang menyebut bahwa mi instan akan mengembang saat masuk ke dalam usus. Oleh karena itu, tak disarankan mengonsumsi mi instan terlalu sering. Pernyataan ini, katanya, salah.

Cara sederhana untuk mengetesnya adalah dengan cara mengonsumsinya di malam hari sebelum tidur. Kemudian, bila tak ada rasa lapar di pagi hari, berarti semua yang dikonsumsi tercerna maksimal dan telah berubah menjadi tenaga. Bila tubuh masih terasa lemas dan tak bertenaga pertanyaannya ditujukan terhadap kinerja organ pencernaan. "Enggak benar. Laparkan diri malam, besok sarapan mi dan sayur menjelang jam 10 lemes enggak? Kalau enggal, Itu berarti dicerna," katanya.

2. Dilarang konsumsi mi instan setiap hari Menurutnya, pembatasan konsumsi mi instan bukan karena kandungan bahan pengawet ataupun bahan pewarna serta penyedapnya. Melainkan, karena angka kecukupan gizi dari setiap porsinya.

Mi instan akan berfungsi sebagai karbohidrat bukan keseluruhan nutrisi. Oleh karena itu, mengonsumsi mi instan harus dibarengi dengan konsumsi bahan makanan lain seperti daging dan sayurnya agar kebutuhan nutrisi terpenuhi. Konsumsi mi instan tanpa bahan pangan lain akan membawa kebiasaan asupan yang kurang baik gizinya bagi tubuh.

"Kuncinya, asupannya sesuai dengan ketentuan gizi seimbang. Campurlah dengan sayur dan sumber protein," katanya.

3. Mengganti air rebusan

Menurut Ketua Umum Pergizi Pangan Indonesia, Hardinsyah, pendapat yang menyebutkan bahwa air rebusan mi instan sebaiknya diganti dengan air merupakan mitos. Pasalnya, beberapa jenis mi instan menyimpan vitamin dan mineralnya di dalam mi. Cara penyajian yang salah bisa membuat vitamin dan mineral yang ada terbuang.

Pada jenis mi kuah misalnya, ujar Hardinsyah, tak apa bila menggunakan air rebusan sebagai kuah.

Sedangkan, pada jenis mi goreng biasanya kandungan vitamin dan mineral lebih banyak tersimpan di bumbu atau bentuk lain selain mi. Hal ini karena, pada jenis mi goreng, air yang didihkan bersama dengan mi tak dikonsumsi. "Ya enggak apa kalau air rebusannya dipakai. Kalau nanti ada vitamin dan mineral yang larut di air dan terbuang, gimana?" ujarnya di Jakarta, belum lama ini.

Apa pendapat Anda mengenai artikel ini?

Loading Rating...

Komentar:

Loading...
Top