MUI Sepakat Umat Islam Tak Ucapkan Salam Agama Lain, PBNU: Salam itu Budaya

Khalied Malvino
Khalied Malvino

MUI Sepakat Umat Islam Tak Ucapkan Salam Agama Lain, PBNU: Salam itu Budaya Ilustrasi salaman. [Foto: nu.or.id]

Winnetnews.com - Polemik ucapan salam menjadi persoalan penting bagi umat Islam, apalagi kalau mengucap salam agama lain yang dinilai sebagai sikap toleransi. Hal itu diungkapkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat yang mengimbau masyarakat dan pejabat pemerintah tidak mengucap salam pembuka semua agama seusai ketentutan Al-Qur’an dan Hadist.

MUI Pusat berpandangan jika fatwa itu dinilai tidak mengandung intoleransi. Alasannya, karena setiap agama punya ajaran dan sistem kepercayaannya masing-masing.

Sekretaris Jenderal (Sekjen) MUI Pusat, Anwar Abbas menuturkan sikap salam pembuka semua agama tersebut bukanlah intoleransi. Namun secara Islam, tidak boleh ada keterpaksaan dalam kepercayaan dan keyakinan suatu agama perihal tata cara beribadah.

“Jangan memaksakan itu, terlebih mengucapkan salam yang ada dalam suatu agama kepada pengikut agama lain,” ujarnya seperti dikutip Tempo, Senin (11/11).

Sekjen MUI, Anwar Abbas. [Foto: Riaumandiri.co]

Sebelumnya dilaporkan, fatwa MUI Jawa Timur dalam surat edaran bernomor 110/MUI/JTM/2019 yang diteken Ketua MUI Jatim KH. Abdusshomad Buchori dan Sekretaris Umum (Sekum) Ainul Yaqin menyatakan bahwa mengucapkan salam semua agama merupakan bidah, mengandung nilai syubhat, dan patut dihindari umat Islam.

"Mengucapkan salam pembuka dari semua agama yang dilakukan oleh umat Islam adalah perbuatan baru yang merupakan bid’ah, yang tidak pernah ada di masa lalu. Minimal mengandung nilai syubhat, yang patut dihindari," tulis fatwa tersebut.

Fatwa MUI Jawa Timur itu, menurut Anwar, merupakan bentuk kebebasan ibadah yang diatur dalam UUD 1945 Pasal 29 ayat 2 yang menjamin bahwa individu beribadah sesuai dengan agama dan kepercayaan yang dianut. Ia berharap ada kerukunan serta sikap saling menghormati antar agama.

"Gunakan salam yang sudah lazim dalam agamanya tanpa harus menambah dan mengucapkan salam yang akan disampaikannya dengan salam dalam agama lain,” terang Anwar.

Anwar menilai, fatwa MUI Jatim itu bertujuan untuk membangun hubungan baik dengan umat agama lain, tanpa melanggar aturan dalam agamanya sendiri. Ia yakin bahwa MUI hanya berupaya agar umat Islam bisa beribadah lebih tertuntun, bukan untuk maksud intoleransi.

Apa Reaksi Kamu?