Mungkinkah Vaksin Bisa Berubah Jadi Racun?
ilustrasi

Mungkinkah Vaksin Bisa Berubah Jadi Racun?

Senin, 11 Jan 2021 | 15:00 | Rusmanto

Winnetnews.com -  Semenjak vaksin COVID-19 masuk ke Indonesia, kita jadi semakin tertarik dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan vaksin, tak terkecuali proses penyimpanannya.

Di awal kedatangan vaksin, kita sempat mendengar istilah rantai dingin atau cold chain system untuk proses pendistribusian vaksin agar tidak merusak isinya.

Dikhawatirkan, kalau proses penyimpanan vaksin dan pendistribusiannya tidak tepat, vaksin jadi rusak.

Tak cuma itu, sebagian orang juga berpikir vaksin bisa berubah menjadi racun yang berbahaya bagi tubuh bila cara penyimpanannya salah.

Lantas, benarkah hal tersebut? Simak penjelasan medisnya berikut ini.

Penyimpanan Vaksin Tak Sesuai Bikin Jadi Racun?

image0

Menanggapi pertanyaan tersebut, dr. Alvin Nursalim, Sp.PD, menjelaskan, “Sebenarnya, ketika penyimpanan vaksin tidak sesuai dengan standar dan kebutuhan vaksin itu sendiri, yang paling ditakutkan adalah efektivitasnya saja yang menjadi nggak ada atau hilang.”

“Kalau sampai beracun, seharusnya tidak. Vaksin seharusnya tidak berubah jadi racun,” jelasnya.

Menurut dr. Alvin, kondisi ini berlaku untuk semua vaksin, tak cuma vaksin COVID-19. “Penyimpanan vaksin harus diperhatikan dengan baik. Ada pengaturan yang harus diikuti untuk masing-masing vaksin,” tambahnya.

Bicara soal aturan masing-masing penyimpanan vaksin, ternyata memang ada perbedaan.

Sebagai contoh, vaksin Sinovac harus disimpan dalam suhu 2-8 derajat Celsius. Sedangkan, vaksin Pfizer harus disimpan dalam suhu -70 derajat Celsius.

Untuk vaksin COVID-19 dari Moderna, penyimpanan vaksinnya harus berada di suhu -20 derajat Celsius.

Vaksin sangat sensitif terhadap beberapa hal, yakni cahaya, panas (suhu), dan proses pembekuan.

Vaksin yang dibuat dari kuman hidup akan sangat sensitif terhadap cahaya dan panas, contohnya vaksin campak. Jika terlalu panas, maka kuman dan protein di dalamnya akan mati.

Sedangkan, pada vaksin tetanus dan pneumokokus misalnya, vaksin ini juga tidak boleh disimpan terlalu dingin karena cairannya cepat membeku dan tidak efektif lagi.

Intinya, jika salah satu prosedur penyimpanan ada yang keliru, maka efektivitas vaksin akan menurun bahkan hilang.

Vaksin yang sudah tidak efektif tentu saja tidak bisa melindungi seseorang secara maksimal dari serangan kuman penyakit.

Lalu, mengganti vaksin yang sudah rusak dan tidak berguna pun membutuhkan biaya yang mahal. Karena itulah, mesti tidak sampai berubah jadi racun, vaksin wajib disimpan pada suhu yang benar setiap saat.

Dalam hal ini, lemari pendingin sangat dibutuhkan dalam proses penyimpanan vaksin, termasuk vaksin virus corona.

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...