NasDem Mulai ‘Peluk’ PKS, Bincang Koalisi Pilpres 2024?
Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh melakukan silaturahmi politik ke Kantor DPP PKS, Rabu, 30 Oktober 2019. (Antara Foto/Puspa Perwitasari)

NasDem Mulai ‘Peluk’ PKS, Bincang Koalisi Pilpres 2024?

Minggu, 3 Nov 2019 | 13:16 | Sofia Citradewi

Winnetnews.com - Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh secara terang bersilaturahmi dengan segenap pimpinan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) di kantor DPP PKS TB Simatupang, pada Rabu 30 Oktober 2019. Hal itu pun menumbuhkan berbagai pertanyaan seputar pertemuan tersebut.

Sowan Surya Paloh dengan Presiden PKS Sohibul Iman tersebut disinyalir menjadi sebuah langkah awal atau taaruf politik. Partai NasDem sendiri bahkan berbagi candaan Sohibul yang ditafsirkan menjadi kode kemungkinan untuk berkoalisi di Pilpres 2024 nanti.

"Ini masih taaruf jadi kalau pertemuan pertama langsung tancap gas kan biasanya kalau yang cepat-cepat itu gampang patah juga," ujar Ketua DPP NasDem, Willy Aditya pada diskusi 'Mewarnai Pelukan Politik PKS dan Partai NasDem' di Kedai Sirih Merah, Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Sabtu (2/11/2019).

Dikutip dari detikNews (2/11/2019), ada tiga kesepakatan yang dicapai oleh PKS dan NasDem dalam pertemuan itu, seperti disampaikan oleh Willy:

"Yang pertama adalah menghormati posisi parpol masing-masing," kata dia.

Selanjutnya, Willy mengatakan kedua partai sama-sama bersepakat untuk mengedepankan keteladanan. Poin ketiga adalah menjaga nilai Pancasila dan memerangi radikalisme, intoleransi dan terorisme.

Hasil dari pertemuan itu, kata Willy, akan dibahas pada Kongres NasDem. Namun Willy menyebut Sohibul Iman sempat melontarkan candaan koalisi NasDem dan PKS yang hampir mencapai 20 persen suara sah nasional untuk berkoalisi pada Pilpres 2024.

"Tidak secara spesifik tapi dalam agenda kongres ada dua komisi yang bahas pemenang pemilu, pilkada tapi ada hal yang sebenarnya luput disampaikan ada bercandaan Pak Sohibul dalam pertemuan itu 'Bang Surya ini kalau NasDem dan PKS ini kalau bersatu kurang sedikit aja 20 persen, hahaha kita gantung di sana hahaha," ujar Willy sambil tertawa.

Terkait candaan Sohibul tersebut, namun menurut juru Bicara PKS, Ahmad Fathul Bari, terlalu jauh untuk membahas koalisi pada Pilpres 2024.

"Presiden PKS bahkan tegas boro-boro kita ngomongin 2024, Pilkada 2020 aja tidak ada kita bicarakan tidak ada agenda praktis seperti itu," beber Fathul.

Namun demikian, Fathul mengatakan dinamika politik sangatlah cair, apapun bisa terjadi. Sehingga sangat dimungkinkan apabila nanti ada pembicaraan lebih lanjut atas pertemuan antara NasDem dan PKS pada Rabu (30/10) kemarin itu.

Mengejar Demokrasi yang Lebih Bermutu

Politisi Partai Nasdem, Charles Meikyansyah mengemukakan alasan di balik romantisnya kini kedua partai (NasDem dan PKS). Nasdem memilih untuk menyelamatkan agar demokrasi kita terus memiliki perangkat utama yaitu check and balances.

"Nasdem memilih untuk menghidupkan relasi yang seimbang antara pemerintah dengan oposisi. Nasdem memilih untuk merayakan obesitas kekuasaan, maka kita akan jatuh pada sejarah kembalinya otoritarian. Harga yang mahal bagi bangsa," tegas Charles, seperti dilansir Okezone.com (2/11/2019).

Ditanya mengenai apakah NasDem lantas keluar dari pemerintahan, bagi Charles, oposisi seharusnya tidak bisa lagi dimaknai secara biner, dan hadirnya perwakilan Nasdem dalam pemerintahan merupakan ikhtiar Nasdem untuk menegaskan politik yang kritis dan konstruktif.

"Dan Nasdem memilih untuk melampaui kalkulasi politik demi kepentingan partai sesaat. Jauh dari itu, pertemuan di TB Simatupang adalah jalan untuk terus menghidupi demokrasi agar lebih bermutu," pungkasnya.

 

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...