Nasib Pencari Suaka di Kebon Sirih: Terusir, Menggelandang, dan Kelaparan

Amalia Purnama Sari
Amalia Purnama Sari

Nasib Pencari Suaka di Kebon Sirih: Terusir, Menggelandang, dan Kelaparan Para pencari suaka di Jakarta (sumber: Jawa Pos)

Winnetnews.com - Para pencari suaka masih terlihat ‘mengemper’ di trotoar kawasan Kebon Sirih, Jakarta Pusat hingga Selasa (17/09). Ada sekitar 30 sampai 40 warga negara asing yang berasal dari Afganistan, Somalia, Sudan, dan Irak yang bermukim di sepanjang trotoar. Sebelumnya, para pencari suaka ini tinggal di gedung eks Kodim, Kalideres, Jakarta Barat.

Para pencari suaka ini kerap didatangi oleh Satpol PP untuk melakukan pendataan. Petugas mengecek kartu identitas mereka yang terdapat logo dari United Nations High Comissioner for Refugees (UNHCR).

Salah satu refugee, Ali, mengaku jika ia bersama para pencari suaka lainnya mengungsi ke daerah Kebon Sirih karena pemerinah DKI Jakarta menghentikan suplai air, listrik, dan makanan sejak Sabtu (31/08). Mereka akhirnya terpaksa angkat kaki dari Kalideres.

Melansir dari CNN Indonesia, Ali mengungkapkan bahwa meski telah diberi ‘pesangon’ oleh UNHCR, ia dan banyak kawannya merasa uang tersebut tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Uang dari UNHCR belum jelas ya sampai kapan. Kami hanya takut suplai tunai kami akan dihentikan nanti. Uang yang diberikan juga tidak cukup untuk sewa rumah untuk beberapa bulan,” cerita Ali, dikutip dari CNN Indonesia, Rabu (18/09).

Ali juga menjelaskan bahwa kelompok pengungsi sudah beberapa kali mencari indekos dengan kisaran harga 500-700 ribu. “Uang kami tidak akan cukup. Kalau kami cari kos-kosan dengan kisaran harga begitu, kami tidak akan bisa makan,” jelas Ali.

Ali juga menjelaskan bahwa kehidupan para pengungsi benar-benar nelangsa. Mereka bergantung pada pemberian donatur atau warga sekitar. Ia menyebut jika para pengungsi hanya makan satu bungkus mie instan dalam sehari.

“Mau bagaimana lagi. Kami tidak boleh bekerja, jadi memang harus menunggu,” pungkas Ali.

Tidak hanya Ali, pencari suaka lain, Mirza Hussain Sherzed, bertutur jika para pencari suaka masih belum mendapatkan kepastian dari UNHCR. Ia ingin Komisioner Tinggi PBB tersebut bertindak lebih cekatan untuk memberi mereka kepastian.

“Mereka meminta kami menunggu, tapi sampai kapan? Saya masih ingin melanjutkan kehdiupan dan pendidikan saya,” celoteh Mirza.

Ia juga mengaku jika hidup di atas trotar sangat tidak menyenangkan. Selain kerap didata, para pencari suaka juga sering diusir oleh Satpol PP karena dianggap menganggu pejalan kaki yang lewat di trotoar.

Apa Reaksi Kamu?