(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Negara Termiskin Ini akan Luncurkan Program Antariksa

Muchdi
Muchdi

Negara Termiskin Ini akan Luncurkan Program Antariksa
Ethiopia tak mau ketinggalan dari negara lain dalam antariksa.

Siapa sangka, salah satu negara termiskin di dunia ini turut mengembangkan program antariksa yang biayanya melangit. Negara tersebut, yaitu Ethiopia, sebuah negara yang terletak di Benua Afrika.

Ethiopia ingin membentuk sebuah badan antariksa nasional yang nantinya akan mengirimkan satelit ke orbit untuk lima tahun ke depan. Tugas satelit tersebut untuk memantau lahan pertanian dan meningkatkan komunikasi di negaranya.

Untuk membentuk badan antariksa tersebut, Ethiopia memerlukan dana £1,9 juta (Rp41,4 miliar). Maka dari itu, negara dengan luas 1,1 juta kilometer persegi tersebut meminta bantuan dari Inggris.

Dilansir Daily Mail, Kamis, 27 Agustus 2015, Ethiopia meminjam uang sebesar £200 juta (Rp4,3 triliun) dari negara Ratu Elizabeth itu. Dengan demikian, Ethiopia menjadi negara keempat, setelah India, Nigeria, dan Pakistan yang mengembangkan program antariksa dengan menerima bantuan Depertemen Pembangunan Internasional (DFID) Inggris.

Sebelumnya, India telah menerima uang pinjaman £160 juta (Rp3,4 triliun) dari Inggris untuk tahun ini, agar dapat menjalankan misi berawak ke Bulan dan Mars.

Dijadwalkan, Ethiopia akan membangun observatorium di sebuah bukti di atas ibu kota negaranya, Addis Ababa. Diharapkan uang £1,9 juta dapat mendirikan observatorium tersebut.

Pada puncak Gunung Entoto, yang mana kondisinya di kelilingi oleh ladang yang selalu dibajak para petani, lahan peternakan sapi, akan ditempatkan dua kubah logam untuk rumah dua teleskop yang dapat dikendalikan oleh komputer.

Proyek ini diklaim akan memberikan dorongan perkembangan teknologi yang dapat membantu negara dan menginspirasi generasi muda. Selain itu juga, menyediakan tempat mahasiswa jurusan astronomi dan astrofisika dari universitas terdekat untuk berlatih.

Mohammed Alamoudi, seorang pengusaha etnis Ethiopia-Arab, telah membangun Ethiopia Space Science Society (ESSS) pada 2004. ESSS hadir untuk mempromosikan astronomi di negara itu.

"Menjadi miskin bukanlah batas untuk memulai program ini. Teknik dan ilmu yang penting untuk mengubah (tradisional) pertanian ke dalam industri," ujar Direktur Observatorium, Salomo Belay.

Belay mengungkapkan pihaknya telah melobi pemerintahnya untuk mengembangkan program antariksa. Ia melanjutkan orang-orangnya dikatakan sedang 'gila', karena gencar mengembangkan program antariksa agar dapat mendorong perekonomian negara.

"Orang-orang mengatakan kami gila. Perhatian pemerintah adalah untuk mengamankan ketahanan pangan, bukan memulai program antariksa dan teknologi. Ide kami adalah bertentangan dengan itu," kata dia.

Diketahui, saat ini di Ethiopia hampir 96 juta penduduk jiwanya terancam terkena kemiskinan ekstrim.

"Ilmu adalah bagian dari siklus pengembangan. Tanpa ilmu pengetahuan dan teknologi, maka ambisi tidak akan dicapai. Prioritas kami adalah untuk menginspirasi generasi muda untuk terlibat dalam ilmu pengetahuan dan teknologi," tutur Abinet Ezra, Direktur Komunikasi ESSS.

(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});