Nelayan di Cirebon Minta Pemerintah Tolak Teri Impor Asal Thailand

Nelayan di Cirebon Minta Pemerintah Tolak Teri Impor Asal Thailand

WinNetNews.com - Nelayan pantai utara Jawa meminta Pemerintah secara tegas menolak masuknya ikan teri dari Thailand karena menyebabkan harga ikan teri segar hasil tangkapan nelayan menurun dari Rp 12.000 per kilogram menjadi Rp 7.000 per kilogram.

"Saat ini ikan teri Thailand itu sudah masuk gudang-gudang di kawasan pergudangan Kapuk, Jakarta. Barang itu sengaja diselundupkan dari Thailand ke Kalimantan dan Sulawesi terus masuk Jakarta dan dianggap teri lokal," kata Rojudin (43) tokoh nelayan Gebang, Jawa Barat, Senin (16/5).

Rojudin memaparkan, masuknya teri dari Thailand itu membuat harga jual teri kering dari industri lokal di sejumlah daerah ikut jatuh dari harga Rp 45 ribu per kilogram menjadi hanya Rp 32 ribu per kilogram.

Pengusaha teri lokal terpaksa membeli ikan teri dari nelayan dengan harga 7.000 per kilogram, padahal sebelumnya harga bisa sampai 12 ribu per kilogram.

Rojudin juga mempunyai satu unit pengolah teri mengungkapkan, jaring teri hanya digunakan pada permukaan dan hasilnya 95 persen teri. Sehingga tidak merusak lingkungan.

"Nelayan hanya mengamati kumpulan ikan teri berenang di permukaan, setelah mengetahui ada kumpulan teri barulah jaring ditebar melingkari kumpulan itu lalu ditarik," ujarnya.

Dia juga mengungkapkan, industri kecil pengolahan teri di Gebang juga tidak menggunakan formalin tetapi hanya menggunakan garam saat memasaknya, setelah itu dijemur, disortir dan di kemas.

"Jangan sampai industri kecil yang baru tumbuh di Gebang sejak awal 2015 itu, kemudian merugi karena masuknya teri dari Thailand," ujar dia.

Tarum, nelayan penangkap teri di Gebang menambahkan, akibat harga rendah maka pendapatan anak buah kapal juga menurun sampai 50 persen. "Biasanya sekitar Rp 100 ribu sampai Rp 400 ribu per hari, saat ini hanya separuhnya," ungkapnya.

Hal senada diungkap Daryono, nelayan dari Pangkalan Pulau Lampes, Kabupaten Brebes bahwa harga jatuh itu sudah berlangsung selama enam bulan terakhir, sehingga para bakul hanya mau menerima dengan harga Rp 6.000 per kilogram dan dari bakul menjual ke industri pengolahan ikan Rp 7.000 per kilogram.

"Nelayan penangkap ikan teri sudah mengeluarkan modal rata-rata untuk membeli alat tangkap Rp 350 juta dan modal melaut per hari sekitar Rp 1 juta sehingga perlu perlindungan dari Pemerintah agar tetap bisa berusaha," paparnya.

Daryono mengatakan banyak nelayan akhirnya beralih menangkap ikan teri karena menguntungkan, bahkan di Pangkalan Pulau Lampes ada sekitar perahu dengan bobot 9 sampai 12 Gross Ton (GT) beroperasi untuk menangkap ikan teri.

"Kami berangkat pagi dan pulang sore hari, tetapi di pangkalan ikan lain ada yang berangkat malam dan pulang pagi karena mencari teri dengan sorot lampu," bebernya dilansir dari Antara.

Pada sisi lain, nelayan penangkap ikan teri berharap pengurusan izin penangkapan ikan jangan sampai dipersulit karena mereka juga ingin tetap berusaha dengan izin yang lengkap.

Sumber: merdeka

Foto: tokopedia