(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

OJK Sebut Suku Bunga BI Baru Bisa Gairahkan Pasar Modal

Muchdi
Muchdi

OJK Sebut Suku Bunga BI Baru Bisa Gairahkan Pasar Modal

WinNetNews.com - Bank Indonesia (BI) memutuskan bakal menggunakan Bank Indonesia Seven Days Reverse Repo Rate sebagai suku bunga kebijakan menggantikan BI rate mulai 19 Agustus 2016.

Hal ini sebagai penguatan operasi moneter, yang sudah melalui kajian mendalam selama tiga tahun terakhir serta sejalan dengan praktik terbaik di berbagai bank sentral di dunia.

Suku bunga acuan yang baru ini diyakini akan mendorong perekonomian nasional yang lebih efisien. Selain itu, aturan baru ini juga akan menggairahkan pasar modal dalam negeri.

Anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Nurhaida mengatakan, pemilik dana secara langsung maupun tidak langsung akan terpengaruh karena ada penurunan dari sisi bunga atau imbal hasil (return) yang bisa diperolehnya di perbankan. Sehingga, para orang kaya tersebut akan mencari instrumen investasi lain yang bisa memberikan return yang lebih tinggi. Menurut Nurhaida, arah suku bunga yang turun ini akan membuka peluang bagi pasar modal.

 

"Memberikan sinyal yang positif. Masyarakat atau investor akan melihat lagi, akan masuk ke tempat yang memberikan keuntungan lebih bagus sesuai dengan target atau sasaran investasi mereka," ucap Nurhaida dalam acara diskusi di Bandung, Minggu (17/4)

Imbal hasil yang ditawarkan pasar saham memang lebih tinggi dibanding deposito perbankan, namun sesuai dengan rule of thumb 'high risk high return'. "Jadi investor akan melihat bisa masuk obligasi, atau switch ke saham yang return-nya lebih tinggi," tandas Nurhaida.

Bank Indonesia sendiri telah mengubah acuan suku bunga dari BI rate yang sebelumnya adalah acuan bunga 9 bulanan menjadi semingguan melalui penerapan acuan baru lewat BI 7-day repo rate.

Deputi Gubernur Senior BI, Mirza Adityaswara mengatakan pergantian suku bunga ini lantaran BI Rate tidak mengacu pada instrumen manapun di pasar keuangan.

"Sementara BI Seven Days Reverse Repo Rate mengacu pada instrumen operasi moneter yang aktif ditransaksikan antara BI dan perbankan setiap hari (transaksional). Dipilihya Repo juga untuk mendukung pendalaman pasar keuangan," ujar Mirza.

 

Dia menambahkan penggantian suku bunga ini merupakan langkah yang tepat, mengingat komponen subsidi sudah kecil hanya 10 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Faktor inflasi yang datang dari administriced price juga menjadi lebih terkontrol.

Dengan adanya perubahan suku bunga kebijakan ini, dia meyakini akan mencerminkan kondisi reality overnight sebesar 4,8-4,9 persen. Di mana koridor suku bunga yang simetris dan lebih sempit, yaitu batas bawah koridor (deposit facility rate/DF rate) dan batas atas koridor (lending facility rate/LF rate) berada masing-masing 75 bps di bawah dan di atas BI Seven Days Reverse Repo Rate.

Sumber&Foto dari Merdeka, Jakarta

(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});