Orangtua Ikut Campur Urusan Keluarga? Ini Cara Atasinya
ilustrasi

Orangtua Ikut Campur Urusan Keluarga? Ini Cara Atasinya

Rabu, 24 Jul 2019 | 07:45 | Rusmanto
Winnetnews.com -  Ketika menikah, Anda dan pasangan sebagai orang dewasa seharusnya sudah memiliki wewenang penuh untuk mengatur rumah tangga sendiri. Namun kenyataannya, masih ada saja orangtua atau mertua yang kekeuh ikut campur mengurus rumah tangga anak-anaknya sampai menjadi pengambil keputusan. Jika ini yang sedang Anda alami, simak cara terbaiknya untuk menghadapi orangtua yang suka ikut campur rumah tangga anak-anak mereka.

Menghadapi orangtua yang suka ikut campur urusan rumah tangga

image0

Menghadapi orangtua yang suka ikut campur urusan rumah tangga Anda pasti membingungkan. Niat mereka mungkin hanya ingin rumah tangga anda berdua berjalan lebih mulus dari yang mereka alami. Mereka juga mungkin merasa lebih tahu, paham, dan berpengalaman dalam hal ini karena sudah lebih lama mengarungi perkawinan.

Namun masalahnya, mereka mungkin juga akan jadi tersinggung jika Anda mengutarakan uneg-uneg ini. Agar rumah tangga dan hubungan dengan orangtua tetap baik, berikut cara-cara yang bisa dilakukan:

1. Satukan suara dengan pasangan

Dalam pernikahan, Anda dan pasangan adalah satu kesatuan. Oleh karena itu, semua hal yang Anda berdua lakukan terutama dalam menghadapi orangtua harus satu suara. Artinya Anda dan pasangan harus lebih dulu menyepakati suatu hal secara bersama-sama tanpa ada pihak yang merasa keberatan.

Pertama-tama, tanyakan pada pasangan mengenai perasaannya ketika orangtua Anda atau orangtuanya terlalu ikut campur urusan rumah tangga berdua.

Setelah mengetahui perasaan masing-masing, diskusikan apa yang sekiranya bisa dilakukan untuk menghentikan hal ini. Anda dan pasangan perlu membuat batasan kira-kira mana hal yang boleh dicampuri dan mana yang tidak.

Diskusikan juga pada pasangan kira-kira bagaimana cara tepat menyampaikan batasan ini pada orangtua. Jangan sampai orangtua atau mertua merasa tersinggung hanya karena cara penyampaian yang kurang tepat.

Sebagai contoh “Bu, aku dan istri udah sepakat untuk masukin anak ke sekolah negeri, bukan sekolah swasta seperti yang ibu mau. Pertimbangannya karena kita merasa ….. Tapi, nanti kita akan tetap coba mendaftarkan anak ke sekolah pilihan ibu, kok.”

Ketika Anda dan pasangan sudah kompak satu suara, tidak ada lai alasan untuk orangtua memaksa kehendaknya.

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...