Oscar Ubah Standar Kelayakan Kategori Best Picture
Foto: Hollywood Reporter

Oscar Ubah Standar Kelayakan Kategori Best Picture

Kamis, 10 Sep 2020 | 11:12 | Nurul Faradila

Winnetnews.com -  Academy of Motion Picture Arts and Sciences (AMPAS), selaku penyelenggara Academy Awards atau yang sering dikenal dengan Piala Oscar, menetapkan standar baru untuk penilaian kategori Best Picture. Keputusan ini diambil karena inisiatif keberagaman dan inklusi telah menjadi fokus utama Oscar dalam beberapa tahun terakhir.

Pengumuman yang dibuat pada Selasa (8/9) lalu, menginfokan bahwa ajang Oscar ke-94 dan ke-95 yang akan diselenggarakan pada 2022 dan 2023, film yang masuk ke katagori Film Terbaik harus mengirimkan formulir Standar Inklusi Akademi.

Dilansir dari Variety, mulai tahun 2024 (ajang Oscar ke-96) film yang dikirim untuk masuk ke kategori ini harus memenuhi ambang batas inklusi dengan memenuhi dua dari empat standar yang ada. Syarat ini diketahui hanya berlaku untuk kategori Best Picture, sedangkan kategori lainnya tetap mempertahankan persyaratan kelayakan yang sudah ada.

“Celah harus diperluas untuk mencerminkan populasi global kita yang beragam baik dalam pembuatan film maupun dalam audiens yang terhubung dengan mereka. Academy berkomitmen untuk memainkan peran penting dalam membantu mewujudkannya,” ujar Presiden Academy David Rubin dan CEO Academy Dawn Hudson.

Pemain Parasite Oscar
Foto: The Atlantic

Berikut ini adalah beberapa kriteria yang setidaknya salah satunya harus dipenuhi untuk sebuah film, agar bisa masuk ke dalam kategori Best Picture.

Setidaknya salah satu aktor utama atau aktor pendukung signifikan berasal dari kelompok rasa tau etnis yang kurang terwakili, seperti Asia, Hisapnik, Kulit hitam/Afrika Amerika, Pribumi/Penduduk Asli Amerika/Penduduk Asli Alaska, Timur Tengah/Afrika Utara, Penduduk Asli Hawaii atau penduduk Kepulauan Pasifik lainnya, dan Rasa tau etnis lain yang kurang terwakili.

Kemudian 30% dari semua aktor dalam peran sekunder dan lebih kecil berasal dari setidaknya dua kelompok yang terwakili, yakni wanita, kelompok ras atau etnis, LGBTQ+, dan orang dengan cacat fisik atau kognitif atau tuli. Alur cerita dari film tersebut juga berpusat pada kelompok yang kurang terwakili.

Tak hanya aktor dan jalan cerita, tim kreatif hingga penulis naskah yang berada di belakang layar juga didorong untuk terdiri dari perempuan, kelompok, ras atau etnis yang kurang terwakili, komunitas LGBTQ+, serta orang dengan disabilitas.

Pihak Academy juga memfoksukan representasi dari kelompok yang kurang terawakili dalam pemasaran, publisitas, dan distribusi film.

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...