OVO Nyerah 'Bakar Uang', Bagaimana Nasib GoPay, DANA, dan LinkAja?

Khalied Malvino
Khalied Malvino

OVO Nyerah 'Bakar Uang', Bagaimana Nasib GoPay, DANA, dan LinkAja? Ilustrasi pemabyaran pakai OVO Grab. [Foto: Technologue.id]

Winnetnews.com - Lelah dengan layanan yang diberikannya, seperti memberi diskon, layanan gratis, hingga cash back kepada para penggunanya, salah satu fintech milik Lippo Group, yakni OVO melepas dua pertiga sahamnya.

Owner Lippo Group, Mochtar Riady mengaku harus merogoh kocek untuk ritual bakar uang tersebut. Mochtar menyerah dan terpaksa melepas sahamnya tersebut.

“Bagaimana kami kuat," ujarnya, Kamis (28/11) seperti dikutip CNNIndonesia.com.

Pengamat Ekonomi Digital, Heru Sutadi menilai keputusan Lippo tepat untuk melepas sebagian saham, semata-mata agar tidak terseret lebih jauh dalam bisnis OVO yang belum menghasilkan cuan.

Terlebih, menurut dia, seluruh perusahaan rintisan (startup) unicorn yang memiliki valuasi lebih dari US$1 miliar di Indonesia masih merugi. Tak terkecuali OVO.

"Kenapa (seluruh unicorn) masih merugi? Karena, dibandingkan pendapatan dan pengeluaran, lebih banyak pengeluaran," jelasnya.

Pengeluaran membengkak lantaran perusahaan terus memberikan banyak diskon hingga cash back. Jika terus-menerus dilakukan, perusahaan butuh waktu lebih lama bagi untuk membukukan keuntungan.

Ekonom dari Universitas Bina Nusantara Doddy Ariefianto tak sependapat. Ia menuturkan bahwa ritual bakar uang adalah satu-satunya strategi yang bisa dilakukan perusahaan fintech pembayaran untuk menggaet pasar.

Tengoklah strategi fintech pembayaran lain, seperti GoPay, Dana, dan LinkAja. Sifat keempatnya bisa dibilang hampir sama, yakni rajin menebar diskon besar-besaran kepada pengguna aplikasi.

"Industri ini kan sebenarnya masih baru, masih mencari ceruk pasar. Bakar uang ini memberikan kekuatan tersendiri untuk bertahan dan menarik pasar dulu," tutur dia.

Sebagai industri yang baru lahir, tentu fintech sektor pembayaran juga belum ajek. Ibarat manusia, mereka masih mencari jalan atau jati diri untuk menjadi dewasa.

"Jadi, jelas ongkos untuk mempertahankan eksistensinya pun lumayan besar," imbuh Doddy.

Masalahnya, lanjut dia, belum bisa diketahui pasti sampai berapa lama perusahaan fintech sektor pembayaran ini akan terus memanjakan masyarakat dengan tawaran diskon dan cash back yang menggiurkan.

"Belum bisa tahu sampai kapan akan bisnisnya bisa memberikan keuntungan untuk investor atau settle. Ini industri yang berbasis internet kan sedang mencari bentuk," ungkapnya.

Chief Communications Officer (COO) DANA, Chrisma Albandjar tak menampik berbagai promo yang diberikan kepada masyarakat merupakan langkah perusahaan untuk berkembang dalam waktu singkat.

Ia mengaku tak mudah memperkenalkan suatu hal yang baru kepada masyarakat.

"Untuk pengenalan kartu saja berkembang butuh waktu hingga 50 tahun. Kami mempercepat adopsi pembayaran digital," terang dia.

Di sisi lain, ia menyebut layanan promo yang ditawarkan juga sebagai edukasi kepada masyarakat dalam melakukan transaksi nontunai. Biaya yang harus dikeluarkan untuk edukasi ini juga dinilai murah oleh manajemen.

"Uang yang dikeluarkan untuk edukasi melalui promo ini jauh lebih murah, mengingat waktu singkat yang kami butuhkan untuk berkembang," kata Chrisma.

Ia mengklaim penggunaan DANA saat ini semakin meningkat. Bahkan, 60 persen transaksi dilakukan tanpa promo.

Risiko Tinggi

Walaupun perusahaan fintech sektor pembayaran masih memberikan diskon dan cash back, serta belum bisa memberikan keuntungan kepada investor, Doddy menilai sebetulnya industri ini masih layak dijadikan ladang investasi.

Hanya saja, ia mengingatkan calon investor jangan berharap bisa mengantongi keuntungan dalam sekejap. Butuh kesabaran dan berani rugi kalau memang ingin mengucurkan dana ke perusahaan fintech sektor pembayaran.

"Investornya juga kalau bisa bukan yang terbiasa dengan hal-hal konvensional, seperti Mochtar kan terbiasa investasi di sektor properti mungkin ya, terbiasa konvensional, ini tidak bisa," kata Doddy.

Calon investor itu sendiri harus memiliki gairah untuk mengembangkan industri sektor pembayaran nontunai di Indonesia. Dengan demikian, pemikirannya tidak melulu soal cuan.

"Industri ini juga butuh idealisme, jangan melulu memikirkan komersialisme, keuntungan. Istilahnya orang itu harus senang berada dalam bisnis ini," terang dia.

Namun, Direktur Riset Center of Reform on Economics, Piter Abdullah menyarankan agar perusahaan fintech pembayaran segera berhenti membakar uang. Sebab, hal itu akan membuat perusahaan memiliki beban finansial yang berat.

"Kalau bakar duit terus nanti tidak kuat. Tidak ada untungnya juga untuk mereka. Ini hanya menguntungkan jangka pendek, hanya untuk menarik pasar," tutur Piter.

Ketika perusahaan sudah mendapatkan pasarnya, mereka harus segera menjalankan bisnisnya secara normal. Dengan kata lain, promo yang diberikan tak perlu lagi secara jor-joran.

"Kalau sudah dapat ekosistemnya, OVO kan sudah misalnya, terus apalagi," imbuh dia.

Bila bisnis sudah berjalan normal, maka perusahaan dan investor akan sama-sama untung. Piter juga menilai tak ada salahnya berinvestasi di perusahaan sejenis OVO, GoPay, DANA, dan LinkAja.

"Ini memang masih sangat dinamis, banyak terobosan dan ide baru. Di dalam ekonomi digital ini sedang berebut 'kue' (pasar)," jelas Piter.

Namun, ia tak memungkiri risiko investasi di bisnis seperti ini sangat besar. Tapi, Piter mengingatkan semakin tinggi risikonya, maka potensi keuntungannya pun akan lebih menggiurkan.

"Kalau tidak mau risiko tinggi, jangan main di bisnis digital. Risiko tinggi, keuntungan tinggi. Pasti ada risiko untuk keuntungan yang tinggi," pungkas Piter. [cnnindonesia]

Apa Reaksi Kamu?