Palestina Menganggap Yerusalem Bukan Konflik Agama

Palestina Menganggap Yerusalem Bukan Konflik Agama

WinNetNews.com - Menteri Luar Negeri Palestina, Riad Al-Malki, menolak dengan tegas upaya untuk menyeret isu Yerusalem ke ranah agama. Sebab, isu Yerusalem sesungguhnya bersifat politik menyangkut hak kemerdekaan negara Palestina.

Seperti dilansir Beritasatu, Al-Malki mengatakan jika isu Yerusalem dianggap sebagai isu agama maka sama saja dengan memancing konfrontasi antara Muslim dan Yahudi. Dia mengakui kitab suci umat Nasrani yakni Alkitab, memang menyebutkan status Yerusalem sebagai milik Israel.

Namun, status Yerusalem juga termuat dalam kitab suci agama lainnya, sehingga membawa isu Yerusalem ke ranah agama hanya akan menghasilkan konfrontasi tanpa solusi.

“Ketika isu Yerusalem menjadi isu agama artinya mengundang lebih banyak lagi Muslim menjadi bagian dari konfrontasi karena menjadi persoalan agama antara Muslim dan Yahudi, bukan lagi persoalan antara negara Israel dan Palestina,” kata Al-Malki saat acara International Conference on the Question of Jerusalem (Konferensi Internasional tentang Permasalahan Yerusalem) di Jakarta, Senin (14/12).

 

Al-Malki juga menolak usulan Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu untuk mengganti “status quo” di masjid Al-Aqsa dan Haram al-Sharif. Dia beralasan ketetapan “status quo” di kawasan itu sudah berlaku sejak tahun 1875.

Al-Malki menyebut Netanyahu bertindak bodoh jika membawa isu Yerusalem menjadi persoalan agama. Hal itu sama halnya dengan mengundang seluruh umat Muslim dan seluruh umat Yahudi menjadi bagian dalam konfrontasi.

“Itu bodoh, sangat bodoh. Kami harus membuatnya menjadi jelas baik baginya (Netanyahu) dan para pemimpin Israel,” tandasnya.

Masjid Al-Aqsa berada dalam kompleks bangunan suci Yerusalem di Yerusalem Timur. Di kompleks itu juga terdapat dua bangunan suci yaitu Haram al-Sharif bagi warga Muslim dan Temple Mount (Bait Suci) untuk umat Yahudi.

“Jika Yerusalem disebutkan dalam Alkitab, dengan segala hormat, apa yang bisa saya lakukan. Itu disebutkan di Alkitab dan semua buku agama, tapi tidak mengubah realitas bahwa Yerusalem Timur adalah ibu kota Palestina,” kata Al-Malki.

 

Al-Malki menambahkan Yerusalem seharusnya menjadi sebuah kota terbuka bagi warga Palestina dan Israel. Al-Malki juga mendesak Israel untuk mengakhiri okupasi di Yerusalem Timur, yang merupakan ibu kota Palestina, serta memberikan kebebasan bergerak dan beribadah di sana.

“Kami menghormati betapa pentingnya Yerusalem bagi semua agama. Itu mengapa kami katakan, Yerusalem harus menjadi kota terbuka untuk dua negara yaitu ibu kota Palestina dan Israel,” katanya.