Skip to main content

Partikel Debu Mencapai 940 PM, ISPA Ancam Ribuan Masyarakat Sumatera

Partikel Debu Mencapai 940 PM, ISPA Ancam Ribuan Masyarakat Sumatera
Partikel Debu Mencapai 940 PM, ISPA Ancam Ribuan Masyarakat Sumatera

Jakarta, wingamers (14/9) - Dampak kebakaran hutan (fenomena kabut asap) ini telah menimbulkan kerugian yang belum bisa terhitung hingga saat ini. Tak hanya kerugian yang dapat dinilai dengan mata uang, namun negara juga mengalami kerugian berupa penurunan kualitas hidup masyarakat setempat. Gangguan pernapasan ISPA mulai mengancam kesehatan masyarakat setempat.

ISPA merupakan singkatan dari Infeksi Saluran Pernafasan Akut, istilah ini diadaptasi dari istilah dalam bahasa Inggris Acute Respiratory Infections (ARI). Penyakit infeksi akut yang menyerang salah satu bagian dan atau lebih dari saluran nafas mulai dari hidung (saluran atas) hingga alveoli (saluran bawah) termasuk jaringan adneksanya seperti sinus, rongga telinga tengah dan pleura. Penyakit ISPA merupakan penyakit yang sering terjadi pada anak, karena sistem pertahanan tubuh anak masih rendah.

Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya masyarakat masih bisa mengungsi ke wilayah yang lebih aman di wilayah pulau Sumatera untuk menghindari bahaya kabut asap, namun di tahun ini sepertinya tak ada pilihan lain bagi masyarakat selain tetap bertahan di wilayahnya meskipun mereka harus hidup berdampingan dengan kabut asap, mengingat seluruh wilayah Sumatera sudah dikepung kabut asap.

Sebagian besar warga sudah mulai mengeluhkan sesak nafas. Bahkan pada pekan lalu tepatnya hari kamis (10/9) kabut asap telah merenggut korban jiwa. Seorang anak bernama Muhanum Angriawati (12) warga Pekanbaru meninggal dunia akibat gagal bernafas. Menurut tim dokter, batuk dan pilek yang dialami korban mengakibatkan penumpukan lendir di paru-parunya. Hanum tidak dapat membuang dahaknya, selain itu korban tidak dapat mendapat pasokan oksigen yang cukup, sehingga paru-parunya tidak dapat bekerja.

Selain Mahanum Angriawati, korban lain yang terkena dampak kabut asap adalah Gabriel warga Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Gabriel baru dilahirkan ibunya pada 24 April 2015. Bayi mungil tersebut mengalami sesak nafas dan tubuh mungilnya harus merasakan sakitnya jarum infus. Kabut asap saat ini sudah sangat pekat, menyebar dan memasuki rumah-rumah warga hingga ke kota Palangkaraya.

Imbas dari kebakaran hutan menyebabkan jarak pandang sudah benar-benar di bawah batas normal. BMKG menyebutkan, di Pekanbaru hanya tebus 80 meter, Kota Rengat, Inhu 80 meter, Kota Dumai 50 meter dan Kabupaten Pelalawan juga 50 meter. Selain itu indeks standar pencemaran udara (ISPU) yang terpajang di kota Pekanbaru menunjukan level berbahaya. Partikel debu sudah melampau batas cukup 300 PM, yakni hari ini partikel debu mencapai 940 PM. Partikel debu kebakaran sudah tidak bisa ditolelir lagi untuk kesehatan warga.

Tak hanya gangguan penyakit ISPA yang mengancam kesehatan masyarakat setempat. Namun masyarakat juga mengalami kerugian di bidang pendidikan. Ketika sekolah-sekolah diliburkan, secara otomatis anak-anak akan mengalami keterlambatan dalam penyampaian materi pendidikan.

Apa pendapat Anda mengenai artikel ini?

Loading Rating...

Komentar:

Loading...
Top