(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Pasar Saham Belum Yakin Ekonomi Akan Membaik

Rusmanto
Rusmanto

Pasar Saham Belum Yakin Ekonomi Akan Membaik

Dalam sepekan terakhir, indeks saham domestik lesu. Pasar saham belum yakin ekonomi bakal meroket pada semester II-2015 sebagaimana diproyeksikan pemerintah.

Pada perdagangan sepekan terakhir, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 32.23 poin (0,67%) ke angka 4.770,30 pada pekan yang berakhir Jumat (7/8/2015) dibandingkan akhir pekan sebelumnya 4.802,53 per Jumat (31/7/2015).

Laju IHSG akhirnya berakhir di zona merah di awal pekan. "Harapan kami akan adanya kenaikan lanjutansempatterlaksana dengan pergerakan IHSG yang mampu menguat di tengah melemahnya sejumlah bursa saham Asia karena imbas laju bursa saham AS yang cenderung turun di akhir pekan sebelumnya," kata Reza Priyambada, kepala riset NH Korindo Securities Indonesia.

Apalagi, lanjut dia, dengan rilis inflasi yang cukup direspons positif pasar meski angka inflasi tersebut lebih tinggi dari sebelumnya tidak membuat laju IHSG melemah. "Akan tetapi, tidak lama kemudian laju IHSG mulai berbalik melemah seiring kembalinya pelaku pasar melancarkan aksi ambil untung," ucapnya.

Aksi ini cukup wajar dilakukan jika melihat dari penutupan akhir pekan sebelumnya yang menguat signifikan, terutama beriringan dengan berakhirnya rilis kinerja keuangan emiten kuartal II-2015."Kondisi dari bursa saham Asia yang cenderung melemah turut berimbas negatif pada laju IHSG," tuturnya.

Fokus pelaku pasar, lanjut dia, tampaknya lebih memperhatikan kondisi bursa saham global yang melemah. "Apalagi juga didukung dengan melemahnya sejumlah data-data manufaktur," ucapnya.

Di hari lainnya, laju IHSG mampu bergerak positif melampaui kekhawatiran akan adanya pelemahan. "Mulai menguatnya sejumlah laju bursa saham Asia tampaknya memberikan semangat positif bagi IHSG sehingga mampu berbalik menguat," ungkap dia.

Sentimen dari rilis Produk Domestik Bruto (PDB) yang lebih baik dari estimasi sebelumnya cukup direspons positif pelaku pasar. "Sebelumnya kami perkirakan rilis GDP di level 4,61%-4,65% secara tahunan namun, rilis GDP dari BPS di level 4,67%," kata dia.

Meski angka tersebut lebih rendah dari kuartal sebelumnya dan dari semester II 2015, tidak terlalu direspon negatif. "Tidak hanya itu, kenaikan business confidence dan menguatnya harga komoditas di pasar spot global turut berimbas positif pada saham-saham pertambangan," papar dia.

Mulai variatif cenderung melemahnya laju bursa saham Asia berimbas negatif pada laju IHSG sehingga tidak dapat mengikuti momentum kenaikan di bursa saham AS dan Eropa sebelumnya. Tidak hanya itu, kembali longsornya laju rupiah seiring masih cenderung naiknya laju dolar AS turut menambah sentimen negatif.

Bahkan, pernyataan pemerintah terkait momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia yang akan meroket di semester kedua pun tidak terlalu ditanggapi positif seiring belum adanya kecukupan keyakinan pelaku pasar terhadap pernyataan tersebut. "Harapan akan berlanjutnya kenaikan menjadi sirna dan IHSG pun berbalik melemah," imbuhnya.

disadur dari inilah.com

(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});